Jumat, 24 Agustus 2012

NaruHina: Kesempatan Kedua, by: Rifuki.

Ayo tetap berkarya...!!! Wahai engkau sang penerus Bangsa...!!! Republik Indonesia!!

Hei, aku mau kasih kalian cerita naruto: NaruHina.. puhh, ceritanya aku suka banget!! kalian semua harus baca yaa??

Thank's For: Author Rifuki & funfiction.net .. Jujur,, aku suka banget cerita ini...!! kesannya terlihat nyata gitu loh..!! Maaf ya, maz Rifuki.. saya hanya bisa membantu anda dengan cara ini.. ^_^

Gomen: Maaf.
Baka: Bodoh.
(yang lainnya pasti kalian akan ngerti sendiri..^_^)


A/N: Fic yang terinspirasi setelah nonton Naruto The Movie Shippuden: The Lost Tower. Pertama kali bikin pair NaruHina, semoga kalian suka ;)
Kesempatan Kedua
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Fantasy
Rate: T
Summary: Apa yang akan kau lakukan jika Tuhan memberimu kesempatan kedua dan mengembalikanmu ke masa lalu?
Warning: AR: Dalam penyerangan Pain ke Konoha, ending dari pertarungan diubah. Pain tidak menghidupkan kembali korban yang mati dan ada beberapa perubahan cerita yang lain, baca aja biar jelas. AT: Time travel.

Chapter 1
-Kembali Ke Masa Lalu-
Desa itu sekarang sudah hancur berantakan. Tidak ada satu pun bangunan yang luput dari kehancuran, semua nyaris rata dengan tanah. Pertarungan antara Pain dan Naruto beberapa saat lalu benar-benar menjadikan Konohagakure sebuah medan perang yang hanya menyisakan kehancuran dan kesedihan.
Naruto telah berhasil mengalahkan Pain dalam pertarungan itu. Tapi bukan kebahagiaan yang ia dapatkan. Melainkan kesedihan, penyesalan, dan kepedihan yang bercampur menjadi satu.
Disanalah dia sekarang, di antara bangunan-bangunan yang hancur, diantara mayat-mayat para pahlawan yang membela Konoha. Tubuhnya bergetar memeluk tubuh lain yang tak berdaya, tubuh seorang kunoichi yang rela mengorbankan dirinya untuk Naruto. Kulit putih gadis itu sudah tergantikan dengan warna merah darah. Mata lavendernya terpejam menahan sakit.
"Kenapa kamu lakukan ini Hinata?"
Hinata membuka matanya dan menemukan lelaki pirang itu dihadapannya, memeluknya dengan erat. Pipinya merona. "Na-naruto-kun... syukurlah ka-kamu selamat."
Sungguh baru kali ini Naruto memeluknya. Ironisnya ini terjadi saat ia merasa hidupnya tidak lama lagi. Mungkin ini akan jadi pelukan pertama dan terakhirnya dengan Naruto. Ditatapnya wajah Naruto yang terlihat khawatir. Hinata mencoba menunjukkan senyum terbaiknya kepada Naruto.
"Bodoh.. Di saat seperti ini kamu masih mementingkan keadaanku, sekarang yang lebih penting itu keadaanmu," kata Naruto memegang erat tangan Hinata. Nada khawatirnya terlihat jelas dalam kata-katanya.
"..." Hinata hanya kembali tersenyum sambil menahan rasa gugupnya. Bahkan di saat seperti ini, rasa gugupnya saat berhadapan dengan Naruto tidak juga hilang.
"Kita harus segera mencari ninja medis," kata Naruto semakin khawatir.
"Ti-dak usah.." Hinata menggeleng pelan dan membalas pegangan tangan Naruto.
"Kenapa?" Naruto menatap Hinata dengan tatapan bingung bercampur sedih.
"A-aku merasa waktuku ti-dak lama la-gi." kata Hinata terbata-bata.
"Jangan bilang begitu Hinata! Kita harus..." Hinata menahan tangan Naruto saat Naruto berusaha mengangkat tubuhnya. Naruto bingung harus apa, ia tidak tega melihat Hinata kesakitan seperti ini. Walaupun Hinata menyembunyikan rasa sakitnya, tapi Naruto tau itu.
"Tidak, Na-naruto-kun.. kita disini saja."
"Tapi..." Di sisi lain Naruto juga tidak mau menolak kemauan Hinata yang ingin tetap disini.
"A-aku ingin.. uhuk-uhuk..." Hinata terbatuk, darah segar mengalir keluar dari mulutnya. Dia menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit.
"Hinata?" Naruto kembali panik melihat keadaan Hinata.
"Aku ingin.. ingin.. ber-berdua sa-ja dengan-mu disaat terakhir ini.." Wajah Hinata kembali merona saat mengatakan itu.
"Hinata..." Mendengar pernyataan Hinata, Naruto tidak bisa berkata apa-apa lagi, tatapannya melembut. Dipeluknya Hinata lebih erat. Entah apa yang dilihat Hinata dari dirinya sampai rela berbuat seperti ini. Apa dirinya begitu berharga untuk Hinata? Begitu berhargakah sampai mengorbankan nyawa pun ia mau? Naruto hanya bisa menatap Hinata dengan tatapan sedih.
"Ja-jangan sedih, ini bu-kan Naruto-kun yang ku-kenal.." Hinata masih saja tersenyum. Seolah dia sama sekali tidak merasakan rasa sakit.
"Hinata.. bisa-bisanya.. kamu lakukan ini.. Pain itu kuat, tapi kamu malah... Kenapa? Kenapa Hinata?"
"Dari awal aku 'kan sudah bilang, aku.. aku ti-dak menyesal jika harus mati de-demi Naruto-kun.." Lagi-lagi Naruto dibuat heran, kenapa Hinata rela mati demi dirinya? Disaat semua orang ketakutan melihat betapa kuatnya Pain, Hinata malah datang membantunya. Tidak memperdulikan kekuatan Pain yang berada jauh diatas dirinya.
"Tapi tetap saja, aku tidak mau gara-gara aku kamu jadi seperti ini," kata Naruto pelan, merasa bersalah.
"Tidak apa-apa.. uhuk-uhuk…" Kali ini darah keluar lebih banyak dari mulut Hinata.
"Hinataa!" Naruto kembali panik melihat Hinata.
"Naruto-kun.., a-ku.. " Hinata mencoba mengumpulkan tenaganya yang tersisa.
"Jangan bicara lagi Hinata, simpan tenagamu."
"Na-ruto-kun.. A-aku .. Aku menyayangimu..." Akhirnya kalimat itu terucap untuk kedua kalinya dari bibir Hinata hari itu. Kalimat sederhana namun bermakna kompleks. Kalimat terakhir yang diucapkan Hinata sebelum tubuhnya tergolek tak berdaya, sebelum mata lavender indah itu menutup. Naruto terbelalak, tubuhnya mendadak lemas.
"Hinata.. Hinata? Hinataaa! Bangun Hinata! Hinataaa!" Akhirnya cairan bening itu turun juga dari mata saphire Naruto. Dia sudah tidak kuat menahan rasa sedihnya. Diguncangnya tubuh tak bernyawa Hinata, berharap itu akan membuat Hinata bangun. Tapi percuma. Itu tidak berguna. Dipeluknya kembali tubuh Hinata. Naruto berpikir kadang Tuhan itu tidak adil. Disaat ada seseorang yang benar-benar peduli kepadanya, Tuhan malah mengambil nyawa orang itu.
"Hinata, Hinata…. Hiks. Hinata, kamu tau? Seumur hidup belum pernah ada orang yang mengorbankan nyawanya untukku. Kamu yang pertama Hinata. Aku… Aku tidak tau ini cinta atau apa. Tapi yang jelas disini rasanya sakit." Naruto memegang dadanya. Merasakan sakit yang luar biasa disana. "Apa ini rasanya kehilangan orang yang disayangi? Jawab aku Hinata. Hiks..."
Hinata selalu memberikan perhatian padanya. Saat di academy, ujian chuunin, dan saat misi bersama. Naruto sadar, dia sama sekali tidak pernah membalas perhatian Hinata. Bahkan untuk sekedar ngobrol dengan Hinata saja dia jarang. Tapi sekarang semuanya sudah terlambat. Tidak akan ada lagi Hinata yang selalu memperhatikannya. Tidak akan ada lagi Hinata yang wajahnya merona merah saat berada didekatnya. Naruto kembali terisak saat mengingat memori-memori itu.
"Kamu jahat Hinata, kamu pergi tanpa sempat mendengar jawabanku. Setidaknya dengar dulu jawabanku. Aku juga menyayangimu Hinata-chan… Jadi kembalilah padaku. Aku masih ingin menghabiskan waktu denganmu. Tuhan, kenapa Kau begitu kejam? Aku belum sempat membalas kebaikan Hinata-chan, tolong putar kembali waktuku ya Tuhan. Aku ingin memulai dari awal. Tolong... " Saat itu kepala Naruto mendadak pusing. Kepalanya seakan berputar-putar. Rasanya sakit bukan main, Naruto tidak kuat dan terjatuh di samping Hinata. Tangannya masih menggenggam tangan Hinata. Kemudian pandangannya gelap, dan kesadarannya menghilang.
"Hinata-chan…"

Naruto POV
"HINATA-CHAN… HINATA-CHAAAANNN!" Aku membuka mataku dan mendapati cahaya matahari masuk ke jendela kamarku.
Huh? Aku dimana? Ini apartemen ku. Kenapa aku disini? Hinata-chan.. Dimana Hinata-chan? Oh, bayangan Hinata-chan masih teringat jelas di otakku. Kesedihan kembali menghampiriku. Aku mungkin telah melewatkan upacara pemakamannya. Aku harus mengunjungi makamnya sekarang juga. Aku berusaha bangun dari kasur. Ukh, tapi rasa sakit di kepalaku belum juga hilang.
Dengan susah payah aku berjalan menuju kamar mandi. Semoga air dingin bisa membantu meringankan sakit di kepalaku. Samar-samar aku melihat diriku di cermin. Tunggu! Ada yang aneh…
Kubasuh mukaku dengan air dan kugosok mataku agar mendapat pandangan yang lebih jelas ke cermin.
Oh tidak, ini... Kenapa tubuhku kecil? Ini.. Ini tubuhku saat…
Aku berlari menuju kalender di samping tempat tidurku. Rasa sakit di kepalaku tidak aku pedulikan. Kulihat tanggal yang ditampilkan kalender itu, dan itu membuat jantungku ingin loncat dari tempatnya. Ini tidak mungkin... Hari ini... Tanggal ini...
Aku membuka jendela kamarku dan memperhatikan keadaan di luar. Keadaan rumah penduduk, orang-orang yang berlalu-lalang, patung Hokage, semuanya berubah.
Aku... Aku kembali ke masa lalu, kembali ke 4 tahun yang lalu...
To Be Continue...


Chapter 2
-Bertemu Hinata Lagi-
Normal POV
Naruto terdiam melihat wajahnya di cermin. Ditatapnya bocah pirang di depannya dengan seksama. Berulang kali dia menggosok matanya pun, sosok yang berdiri di didepannya tetaplah seorang bocah berusia 12 tahun. Lengkap dengan garis mukanya yang membulat menandakan fisik seorang anak kecil.
Kalau dipikir memang tidak masuk akal. Sesaat yang lalu dia tengah bertarung dengan Pain dan tiba-tiba sekarang malah berada di apartemennya. Dan yang membuatnya semakin tidak masuk akal, dia kembali ke 4 tahun yang lalu! Sepintas memang merupakan hal yang mustahil terjadi. Tapi kenyataannya ini memang terjadi pada Naruto.
Naruto mencoba mencubit-cubit pipinya berharap semua itu hanya mimpi.
"Ouw, ini bukan mimpi," katanya memegang pipinya yang memerah.
Rasa sakit di pipinya membuktikan kalau ini bukan mimpi. Lantas apa yang terjadi? Apa mungkin 4 tahun yang telah Naruto laluilah yang merupakan mimpi? Jadi sebenarnya Naruto memang masih berumur 12 tahun dan hanya bermimpi panjang mengenai kehidupannya? Kalau memang benar, kenapa semuanya terasa begitu nyata? Urutan peristiwa, orang-orangnya, rasa sakitnya, semuanya terasa begitu nyata. Naruto mengacak rambut pirangnya semakin bingung memikirkan semua pertanyaan itu.
"Arrghhhhh, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Naruto entah kepada siapa.
Otaknya yang tidak biasa diajak berpikir keras sudah menyerah, seolah mengibarkan bendera putih. Ini terlalu rumit untuk dipikirkan seorang Naruto. Naruto butuh seseorang yang bisa menolongnya. Ia butuh penjelasan yang masuk akal dan bisa dipercaya. Dan, orang pertama yang ada dipikirannya saat itu adalah: Hokage.
.
"Tunggu Naruto, mau kemana kau?" Langkah Naruto memasuki ruang Hokage terhenti saat dua penjaga menghentikannya.
"Aku mau menemui Tsunade Obaa-chan," kata Naruto sekenanya, ia tidak punya waktu meladeni kedua penjaga itu. Ia harus bertemu Hokage sesegera mungkin.
Kedua penjaga itu saling pandang kemudian mundur beberapa langkah dan saling berbisik. Naruto mulai kesal karena diacuhkan. Tapi samar-samar dia bisa mendengar apa yang dibicarakan kedua penjaga itu.
"Apa mungkin yang dimaksud Naruto itu Tsunade sang Legenda Sannin?"
"Jangan bercanda! Mana mungkin Naruto tahu mengenai Tsunade-sama?"
"Tapi tidak ada lagi nama Tsunade di desa ini."
"Hmm, ya kau benar juga."
"Ehem." Salah satu dari penjaga itu berdehem dan mendekati Naruto. "Dari mana kau tahu mengenai Tsunade-sama?"
"Aku mengenalnya, kami sering bertemu."
"Jangan bercanda! Sekarang dia tidak ada di desa ini," kata penjaga yang lainnya.
"Mana mungkin seorang Hokage tidak ada di desanya sendiri!"
"Eh? Apa yang kau maksud Hokage itu Hokage Ketiga?" Perkataan penjaga itu mengingatkan Naruto kalau saat ini jabatan Hokage masih dipegang Sarutobi Ojii-san. Senyum terkembang di bibirnya, berarti dia bisa bertemu kembali dengan sosok orang tua yang sudah dianggapnya seperti kakek sendiri itu.
"Oh, iya maksudku Hokage Ketiga. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan."
"Mengenai apa? Apakah sangat penting?"
"Mengenai desa ini. Ini sangat penting. Saking pentingnya, Hokage akan menghukum kalian karena mengulur-ulur waktuku padahal aku harus segera menyampaikan hal penting ini kepada Hokage."
Ekspresi kedua penjaga itu berubah pucat. "Baiklah, cepat masuk."
.
.
"Jadi begitu ceritanya..." kata Hokage Ketiga menghela nafas. Tapi dari raut mukanya, dia sama sekali tidak terlalu menganggap serius perkataan Naruto. "Daya imajinasimu besar juga Naruto, haha."
"Hey! Aku tidak bercanda!" bentak Naruto berapi-api.
"Sudah, sudah. Dengar Naruto, tidak mungkin aku mempercayai anak berumur 12 tahun. Sudah pasti itu hanya mimpimu. Sekarang lebih baik kau pulang, ada banyak pekerjaan yang harus kuurus disini. Mungkin kau butuh istirahat agar pikiranmu jernih."
"Tapi.. tapi.." Sepertinya tidak ada gunanya Naruto bercerita kepada Hokage. Biar bagaimana pun Hokage ada benarnya. Mana mungkin seorang anak berusia 12 tahun bisa begitu saja dipercaya? Apalagi ini menyangkut masalah desa, yang bila seenaknya saja dipercaya malah akan menimbulkan kepanikan para penduduk desa.
Untuk sekarang ini, menyembunyikan masalah ini adalah pilihan terbaik. Dia akan mencari kebenaran dan juga buktinya dulu, baru kemudian mendatangi Hokage lagi.

Setelah keluar dari gedung Hokage, Naruto menyempatkan diri untuk berkeliling Konoha. Berjalan santai dan menikmati suasana desa ditemani semilir angin di siang hari yang sudah mulai beranjak sore itu. Hal yang sederhana memang. Tapi itu sangat berarti bagi Naruto. Karena beberapa jam lalu dia masih ingat betul kalau Konoha sudah hancur dan semua bangunannya nyaris rata dengan tanah. Penduduk dilanda kepanikan dan banyak korban berjatuhan.
Tapi lihat sekarang. Konoha dalam keadaan aman dan tentram. Rumah-rumah penduduk berjejer rapi, pepohonan tumbuh rindang di beberapa sudut desa, penduduk sibuk melakunan kegiatannya masing-masing dengan ceria, anak-anak berlarian di jalanan desa dengan penuh canda. Naruto tersenyum mensyukuri desa kelahirannya telah kembali seperti semula. Itu membuat Naruto semakin ingin melindungi Konoha.
"Oy Naruto!" teriak seseorang. Merasa namanya dipanggil, Naruto menoleh ke arah suara. Dia melihat anak bertato merah di kedua pipinya. Dialah Kiba, Naruto jadi terseyum sendiri melihat Kiba kecil di hadapannya. Padahal sebenarnya dirinya sendiri juga kecil. "Kenapa tadi bolos? Akademi sepi kalau kau ga ada."
"Oh, iya a-aku kesiangan," jawab Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Hanya itu alasan yang saat itu terpikirkan oleh Naruto. Untuk saat ini dia harus menyembunyikan masalahnya, menunggu saat yang tepat dan mencari bukti yang kuat dulu.
"Dasar kau pemalas."
"Haha. Ngomong-ngomong kalau kemarin aku masuk 'kan?" tanya Naruto.
"Huh? Masuk lah! Kenapa kau tanya gitu? Jelas-jelas kemarin kita sama-sama dihukum Iruka-sensei gara-gara bikin keributan di kelas. Kepalamu terbentur ya sampai lupa gitu?"
Mendengar itu membuat Naruto mengingat kembali kenakalannya ketika di Akademi. Kalau dipikir sekarang, ia merasa banyak dosa kepada Iruka-sensei.
"Hei baka! Kenapa malah melamun? Jangan-jangan kepalamu benar-benar terbentur sampai kau jadi aneh begini."
"Um, sepertinya begitu. Ahaha." Naruto tertawa garing.
"Hah? Ah sudahlah, aku pergi dulu. Besok jangan bolos lagi!" Kiba mulai beranjak meninggalkan Naruto.
"Hei Kiba, tunggu! Tunggu!" kata Naruto menarik bahu Kiba.
"Apa lagi?" Kiba terlihat kesal.
"Aku mau tanya, apa saat Akamaru besar nanti, 3-4 tahun lagi, besarnya akan melebihimu sampai kau bisa menungganginya?"
"Eh? Dari mana kau tau?" tanya Kiba sambil menusap pelan kepala Akamaru. Kali ini rasa kesalnya berubah jadi rasa penasaran.
"A-aku hanya menebak! Lupakan saja!" elak Naruto. Bisa bahaya kalau Kiba tahu rahasianya.
"Dasar aneh!"
Perkataan Kiba tadi seolah menguatkan pendapat kalau masa 4 tahun yang telah dilalui Naruto bukanlah mimpi. Tapi Naruto tidak mau terlalu cepat mengambil kesimpulan, dia harus mencari bukti lain yang bisa membuktikan kalau hal-hal yang dialaminya 4 tahun terakhir ini benar-benar nyata, bukan mimpi.
Naruto kembali berjalan menyusuri desa, kali ini sambil memutar otak mencari cara membuktikan pendapatnya. Tebakan Naruto tentang Akamaru yang akan tumbuh besar masih belum merupakan bukti yang kuat.
'Pikir Naruto! Pikir!' batinnya.
Naruto pergi ke padang rumput yang agak jauh dari pemukiman penduduk untuk mencari ketenangan. Siapa tahu itu bisa membantunya menemukan ide. Dibaringkannya tubuhnya disana, dia memandang langit dan mencurahkan kembali semua kemampuan otaknya untuk mencari ide. Ujung-ujungnya memang dia harus berpikir sendiri, tanpa meminta bantuan orang lain untuk mencari jalan keluar masalah ini. Setelah beberapa saat berpikir, Naruto menjentikkan jarinya menemukan sebuah ide.
'Kenapa aku tidak bertanya kepada Kyuubi saja?' pikirnya.
Naruto berpikir kalau benar dirinya dari masa depan, seharusnya Kyuubi juga berasal dari masa depan karena Kyuubi ada di dalam badannya. Kalaupun Kyuubi bukan dari masa depan, dia sudah hidup ratusan tahun, siapa tahu dia tahu sesuatu tentang fenomena aneh ini. Naruto belum yakin, tapi itu salah satu cara yang bisa dicobanya.
Naruto kemudian duduk dan memfokuskan pikirannya, berkonsentrasi untuk memasuki alam bawah sadarnya untuk bertemu Kyuubi.
.
.
"Hei, Kyuubi!" bentak Naruto setelah berada di depan jeruji besi tempat Kyuubi terkurung.
"GRRRRRHHH!"
"Hei! Tenanglah, aku kesini cuma ingin ber-" Perkataan Naruto terpotong.
"Diam! Aku sudah tau apa yang kau pikirkan!" Kali ini giliran Kyuubi yang membentak Naruto. Tapi Naruto tidak gentar mendengarnya, sudah terbiasa.
"Benarkah?"
"Tentu saja baka! Aku diam di badanmu jadi aku tahu apa yang kau pikirkan. Dan biar kujawab langsung. Ya, kita dari masa depan. Dan aku masih kesal gara-gara Minato datang menyelamatkanmu, padahal selangkah lagi aku bisa bebas!"
"A-apa? Jadi benar kita dari masa depan? Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Naruto bertubi-tubi.
"Aku juga tidak tau. Sesaat setelah kau mengalahkan Pain, pandanganku jadi gelap dan saat terbangun kembali aku sudah berada di tubuh kecilmu ini."
"Oh begitu. Kalau begitu kau juga baka! Harusnya kau bersyukur karena jadi punya kesempatan lagi untuk keluar dari tubuhku." Naruto tersenyum meremehkan.
"Hmm, benar juga."
"Tapi jangan remehkan aku kali ini. Aku menantangmu, saat nanti aku melawan Pain lagi, aku tidak akan membiarkanmu menguasai diriku seperti sebelumnya."
"GRRRHHH! Aku terima tantanganmu!"
.
.
Sekarang jelaslah sudah kalau ternyata Naruto memang berasal dari masa depan dan hal yang dialaminya 4 tahun terakhir bukanlah mimpi. Dibaringkannya kembali tubuhnya di hamparan rumput hijau disana. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Meskipun dia sudah mendapat bukti kalau benar dia dari masa depan, tapi bercerita kepada orang lain tampaknya bukan ide bagus. Kalau dia mengaku diberitahu oleh Kyuubi, mana ada yang percaya. Kecuali kalau memang Naruto mempunyai bukti yang nyata dan bisa dilihat orang-orang.
'Hmm, kembali ke masa lalu ya? Benar-benar tidak bisa dipercaya...' batinnya.
Di tengah kesibukannya berpikir, ada hal yang menyadarkan Naruto. Dia tersentak dan raut mukanya berubah ceria.
"Kalau aku kembali ke 4 tahun lalu, berarti Hinata masih hidup dong?" katanya bertanya kepada diri sendiri.
Seketika itu juga dia berlari kembali ke desa. Hatinya senang bukan main. Bagaimana tidak? Beberapa jam lalu dia memohon agar Tuhan memberinya kesempatan lagi untuk mengahabiskan waktu bersama Hinata. Dan sekarang Tuhan mengabulkannya. Sekarang dia mulai mengerti alasan dia kembali ke masa lalu. Pasti ini adalah jawaban Tuhan atas doanya: memutar kembali waktu, dan memulai dari awal.
Naruto menelusuri tiap sudut desa Konoha mencari Hinata. Dia mengingat-ngingat tempat yang biasa dikunjungi Hinata. Tapi sayang, dia tidak terlalu hapal kemana saja Hinata biasa pergi. Yang dia tahu, Hinata selalu diam-diam melihatnya dari kejauhan.
Tiba-tiba Naruto mendengar bunyi tong sampah yang jatuh. Kemudian dia menoleh ke belakang.
Naruto menyadari ada seseorang yang bersembunyi di balik tembok. Kemudian dia melihat bayangan orang itu di tanah akibat terkena sorotan matahari sore. Naruto tersenyum, ia tahu betul siapa orang yang bersembunyi disana. Dia adalah Hinata. Kenapa tadi dia harus repot-repot mencari Hinata? Hinata 'kan memang suka memperhatikan Naruto seperti yang (lagi-lagi) dilakukan Hinata kali ini. Ya, Naruto baru ingat itu. Itu memang kebiasaan yang sering dilakukan Hinata. Hinata akan memperhatikannya dari jauh, dan akan bersembunyi saat Naruto menoleh ke arahnya. Kalau ketahuan, biasanya Hinata hanya akan memainkan jari-jarinya dan mencari alasan untuk mengelak dari tuduhan menguntit Naruto.
Dari bayangan itu samar-samar Naruto bisa melihat kalau Hinata sedang memainkan jari-jarinya karena malu. Muncul ide jahil di kepala Naruto.
'Kalau tidak salah, beberapa bulan lagi aku bisa menguasai Kage Bunshin. Tapi sekarang aku sudah tahu cara-caranya. Apa kalau dipraktekkan sekarang bisa berhasil ya? Semoga berhasil.' pikirnya. Dan ternyata berhasil, saat dia mempraktekkan jurus itu, muncullah 1 bunshin didekatnya tanpa diketahui Hinata.
"Kau buat Hinata mengikutimu, aku akan berjalan memutar ke arah sana dan mengagetkan Hinata," kata Naruto kepada bunshinnya. Sang bunshin nyengir lebar dan mengangguk setuju.
"Ahhh, bosaaaan. Sebaiknya aku pergi ke taman," kata bunshin Naruto, memastikan kalau suaranya bisa didengar Hinata. Hinata yang mendengar itu menghela nafa lega, berpikir kalau kesalahannya menjatuhkan tong sampah barusan tidak membuatnya ketahuan. Kemudian dia berjalan mengikuti bunshin Naruto, kelihatannya dia belum puas memperhatikan Naruto.
Tanpa disadari Hinata, Naruto yang asli berada tidak jauh di belakangnya. Naruto merasakan detak jantungnya yang mulai memburu. Dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraan yang bercampur dengan rasa gugupnya untuk kembali bertemu dengan Hinata. Terlebih lagi sekarang dia tahu kalau Hinata begitu tulus menyayanginya.
Memperhatikan gerak-gerik Hinata membuat Naruto tersenyum, menyadari betapa lucunya wajah Hinata yang bersemu merah itu. Apalagi mukanya saat bersembunyi dan panik karena takut ketahuan. Naruto melangkahkan kakinya semakin mendekati Hinata, dibuangnya rasa gugup di hatinya jauh-jauh. Ia ingin melihat wajah Hinata lebih dekat lagi.
Saat melihat Hinata, ada rasa bahagia pada diri Naruto yang tidak bisa digambarkan atau dijelaskan dengan kata-kata. Rasa kehilangan yang mendalam seolah terhapus begitu saja saat Naruto bisa kembali melihat Hinata berada di depannya, dalam keadaan baik-baik saja. Lubang besar di hati Naruto perlahan mulai terobati kembali.
Merasa sudah cukup 'menjahili' Hinata, Naruto berjalan keluar dari persembunyiannya, mengendap-ngendap mendekati Hinata. Hinata yang saking fokusnya memperhatikan Naruto (bunshin Naruto), tidak sadar kalau Naruto yang asli sudah berada tepat di belakangnya.
Naruto menghilangkan bunshin miliknya dan itu sukses membuat Hinata kaget. Bagaimana tidak? Orang yang dari tadi diperhatikannya malah menghilang tiba-tiba digantikan kepulan asap tipis.
"Kamu mencari siapa Hinata-chan?" tanya Naruto dengan cengiran lebar.
Hinata berbalik, menyadari suara familiar di belakangnya. Jarak yang dekat dan keberadaan Naruto yang tiba-tiba membuat pipi Hinata merona hebat.
"Na-Naruto-kun?" tanya Hinata terbata-bata, semakin kaget menyadari Naruto berada terlalu dekat dengannya. Naruto berada dalam radius yang masuk kategori 'waspada' bagi Hinata.
Uh, hati Naruto bagai meleleh bisa mendengar kembali suara Hinata. Meskipun suara yang didengarnya adalah suara Hinata kecil, suara khas seorang gadis yang masih dalam tahap menuju masa remaja, tapi entah kenapa itu terdengar lucu dan imut bagi Naruto.
"Hei. Aku disini. Hehe," kata Naruto tak lupa memasang cengiran khasnya.
"Ta-tapi tadi..." Hinata kembali terbata-bata, kemudian menunduk menyembunyikan pipinya yang semakin merona. Untuk menghilangkan kegugupan, Hinata memainkan kedua jari telunjuknya.
'Kebiasaan Hinata yang tak pernah lepas,' pikir Naruto. Itu malah membuatnya tambah gemas.
"Hehe, kamu lucu sekali." Naruto semakin mendekatkan jaraknya dengan Hinata. Entah karena perasaan rindu atau perasaan saking senangnya bisa kembali melihat Hinata, Naruto refleks memeluk gadis pemalu di depannya. Membawa Hinata dalam dekapan yang hangat. Diusapnya pelan rambut indigo pendek milik Hinata. "Aku senang bisa melihatmu lagi..."
Dan tentu saja perbuatan Naruto itu salah besar mengingat Hinata yang tidak biasa dekat-dekat dengan Naruto. Wajah Hinata semakin memanas dan memerah sudah seperti kepiting rebus yang sudah direbus dan direbus lagi. Jantungnya memompa dengan tidak karuan. Dan nampaknya tubuh mungil itu sudah tidak mampu menangani sensasi yang ditimbulkan pelukan Naruto yang tiba-tiba itu. Pandangannya mengabur, dan sedetik kemudian kesadarannya menghilang.
"Eh? Hinata-chan? Kamu kenapa Hinata-chan?" Naruto panik menyadari perbuatannya barusan telah membuat Hinata pingsan.
"Hinata-chan? Aduh jangan pingsan dong. Aahhh, aku harus bagaimana? Oh ya minta tolong Sakura-chan. Eh? Sakura-chan 'kan sekarang belum jadi ninja medis... Arghhh..." Naruto malah jadi panik sendiri. Siapa suruh memeluk Hinata tiba-tiba, sudah tahu Hinata itu gampang pingsan kalau di dekatnya.
Merasa tidak ada pilihan lain, Naruto membawa Hinata ke apartemennya.
Digendongnya Hinata ala bridal style.
'Maaf Hinata-chan, aku tidak punya pilihan lain...'

Naruto menghela nafas panjang saat sampai di apartemennya. Dia menyadari betapa kamarnya sangat-berantakan-sekali.
Dia baru sadar kalau dirinya saat berumur 12 tahun begitu cuek dan sama sekali tidak memperhatikan kebersihan dan kerapian kamar (saat berumur 16 tahun juga cuek, tapi tidak separah ini). Baju kotor bergelimpangan di berbagai tempat, bungkus ramen sisa kemarin bertumpuk di atas meja, kasur sudah tidak berbentuk, entah bantal guling dan selimutnya kemana, belum lagi debu yang menempel dimana-mana.
'Hmmm... apa boleh buat. Kage Bunshin no Jutsu!'
Tak lama kemudian muncul 5 bunshin Naruto di kamar itu.
"Kalian semua! Bersihkan kamar ini dalam waktu 3 menit! Laksanakan!" perintah Naruto kepada kelima bunshinnya.
"HAI!" jawab kelima bunshin itu serempak.
Setelah keadaan kamar 'layak' untuk ditinggali, Naruto membaringkan Hinata di tempat tidurnya. Kemudian ia mengkompres kening Hinata dengan handuk yang sudah dibasahi air hangat.
'Semoga dengan ini bisa membuat Hinata cepat siuman,' pikir Naruto.
Kemudian dia duduk di tepi tempat tidurnya. Diperhatikannya sosok gadis yang tertidur di depannya. Kalau diperhatikan sedekat ini Naruto baru sadar kalau wajah Hinata memang manis meskipun di umurnya yang masih 12 tahun ini. Kulitnya putih bersih nyaris tanpa noda sedikitpun. Jauh sekali jika dibandingkan dengan kulit Naruto yang berwarna tan. Di rapikannya poni Hinata yang sedikit berantakan menutupi kelopak matanya.
Tapi terlalu lama memperhatikan Hinata malah membuat otak Naruto memunculkan keinginan melakukan sesuatu. Sesuatu yang sebenarnya tidak boleh dilakukan kepada seseorang yang sedang tidak sadarkan diri. Naruto berusaha sekuat tenaga menahan keinginannya itu. Tapi semakin keras dia menahannya, keinginan itu malah semakin kuat.
Naruto mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata yang sedang terlelap. Kedua tangan Naruto berada di samping kiri dan kanan kepala Hinata untuk menumpu berat tubuhnya. Naruto memandang kembali wajah Hinata. Wajah Hinata yang manis itu seolah semakin mendorong Naruto untuk melanjutkan rencananya.
'Gomen, Hinata-chan...'
Naruto semakin memperkecil jarak antara wajahnya dengan wajah Hinata.
Dikecupnya pipi mulus Hinata.
Pipi kanan Hinata yang mulus itu ternyata terasa begitu lembut di bibir Naruto. Beberapa detik Naruto menahan posisinya, menikmati sensasi yang ditimbulkan. Jantungnya berdetak melebihi kecepatan normal, tapi meski begitu ada rasa bahagia di hatinya.
Setelah Naruto melepas ciumannya di pipi Hinata, ada sedikit rasa penyesalan di diri Naruto. Mungkin karena dirinya sadar sudah memanfaat kesempatan seperti ini untuk melakukan hal yang tidak sopan kepada Hinata.
'Aaaahhh! Apa yang sudah kulakukan? Melakukan hal seperti itu kepada seseorang yang tidak sadarkan diri. Apalagi orang itu adalah Hinata. Aku memang tidak sopan. Gomen Hinata-chan. Tapi itu salahmu juga, kenapa wajahmu begitu manis dan membuatku ingin menciumya?' batin Naruto.
Pandangannya beralih ke bibir mungil Hinata, bibir yang berwarna pink dan kelihatan lembab.
'Pasti akan terasa lebih lembut dibanding pipi Hinata...' pikir Naruto. Detak jantung Naruto kembali bereaksi dan berakselerasi makin kencang. Didekatkannya kembali wajah Naruto ke wajah Hinata. Nafasnya semakin memburu.
Namun tiba-tiba hati kecilnya berteriak. 'Apa yang kau lakukan baka?'
Naruto kemudian tersentak dan kembali ke posisinya semula.
'Ah, tidak-tidak! Aku tidak boleh egois! Kalau untuk ciuman di bibir, aku ingin Hinata menikmatinya juga!' batin Naruto. Naruto kemudian mengacak-acak rambut pirangnya frustasi. Kemudian digeleng-gelengkannya kepalanya mencoba menjauhkan pikiran-pikiran sesat di otaknya. Setelah pikiran-pikiran itu hilang, Naruto mulai tenang dan bisa mengendalikan dirinya.
"Aku akan menunggu..." Naruto memandang Hinata yang sedang terlelap di depannya dengan senyuman terbaiknya. "Aku yakin suatu hari nanti... Kamu pasti akan memberikan ciuman pertamamu untukku Hinata-chan."
Digenggamnya pelan tangan Hinata. "Sekarang cepatlah sadar, aku merindukanmu..."
To Be Continue...



Chapter 3
-Saat Kita Bersama-
Normal POV
Angin sore menelusuk memasuki jendela kamar kecil nan sederhana itu. Membuat gorden orange yang berada di jendela melambai-lambai seiring tiupan angin. Matahari yang sudah condong ke barat membuat ruangan kamar sedikit gelap. Tapi dua sosok anak manusia di kamar itu masih saja terlelap dengan tenang disana. Sosok pertama seorang gadis berusia 12 tahunan tengah terlelap di tempat tidur. Sementara sosok lainnya seorang anak laki-laki berusia sama terlelap di samping sang gadis, duduk di lantai sedangkan kepalanya di tepi tempat tidur dengan tangan kirinya sebagai bantal. Pegangan tangan anak laki-laki ke sang gadis masih belum lepas meskipun mereka tertidur pulas.
Tak lama kemudian sang gadis siuman. Ingatan tentang kejadian sebelumnya kembali berputar di kepalanya, dia melihat ke sekeliling mencari tahu dimana dia sekarang. Tempat yang asing baginya, dia sama sekali tidak tahu dimana dia sekarang, dia belum pernah kesini sebelumnya.
Tapi kebingungannya segera terjawab setelah dia merasakan kalau tangan kanannya dari tadi ada yang menggenggam. Dia menoleh dan melihat sosok anak laki-laki yang tertidur disampingnya. Tangan mereka saling terpaut, atau lebih tepatnya tangannya digengggam oleh sosok anak laki-laki disampingnya. Digenggam dengan erat seolah tidak mau kehilangan dirinya.
Berada di kamar orang yang disukainya, berdua, berpegangan tangan, itu semua sudah cukup membuat pipi sang gadis merona hebat. Belum lagi saat dia sadar kalau dia berada disini, berarti anak laki-laki itu menggendongnya kesini 'kan? Dia membayangkan bagaimana anak laki-laki itu menggendongnya kesini. Warna pipinya semakin matang membayangkan hal itu.
Sang gadis berusaha menenangkan dirinya. Kadang dia kesal kenapa dirinya selalu saja malu dan panik saat berada di dekat orang yang disukainya itu. Memang itu kebiasaan yang harus mulai dia hilangkan. Kalau dia malu terus, sampai kapanpun dia tidak akan bisa dekat dengan laki-laki pujaannya itu.
Butuh waktu 20 menit untuk menenangkan dirinya dan memberanikan diri untuk membangunkan sosok yang tertidur disampingnya.
"Na-Naruto-kun..." panggil sang gadis kepada anak laki-laki disampingnya yang bernama Naruto itu. Sosok itu masih saja tertidur dengan lelapnya.
"Naruto-kun... Naruto-kun?" ulang sang gadis, kali ini dengan lebih keras.
"Hmmm..." Akhirya Naruto terbangun, mengucek-ngucek matanya kemudian memandang orang yang membangunkannya. "Oh, kamu sudah bangun Hinata-chan?"
"Chan?" tanya Hinata, nama gadis itu, balik bertanya. Rona merah di wajahnya yang susah payah dia hilangkan tadi kembali muncul. Hinata tidak sadar kalau sebenarnya Naruto sudah memanggilnya dengan suffix 'chan' dari tadi siang.
"Boleh 'kan aku memanggilmu Hinata-chan?" tanya Naruto lagi, kali ini sambil tersenyum.
"Umm.. Boleh kok," jawab Hinata pelan, menyembunyikan rasa malunya.
"Mau minum?"
"Ti-tidak usah repot-repot."
"Tidak apa-apa, tunggu disini," kata Naruto sambil berlalu ke arah dapur. Tidak lama kemudian dia kembali dengan segelas air putih di tangannya.
"Minumlah."
"Terima kasih."
Sementara Hinata minum, Naruto hanya diam memperhatikan. Sesekali bibirnya membentuk seulas senyum. Tanpa disadarinya dia terus memandang Hinata meskipun Hinata sudah selesai minum.
"Naruto-kun ke-kenapa melihatku seperti itu?" tanya Hinata. Menyadari kalau dari tadi Naruto terus memperhatikannya, pipi Hinata kembali didominasi warna merah. Wah, Naruto memang kejam terus-terusan membuat Hinata malu begini.
"Ah, ti-tidak..." elak Naruto, malu juga rupanya dia ketahuan memperhatikan Hinata. "Oh ya, gomen, aku membawamu kemari. Aku bingung mau membawamu kemana lagi." Naruto menundukkan kepalanya. Biar bagaimanapun tindakannya membawa anak gadis ke apartemennya adalah tindakan yang salah. Karena itu, dia sudah siap dengan konsekuensinya. Dia sudah pasrah dan siap menerima kemarahan Hinata.
"Tidak apa-apa. Ma-maaf sudah merepotkan." Di luar dugaan Hinata sama sekali tidak marah. Naruto menghela nafas lega. "Umm.. Kalau begitu a-aku pulang sekarang."
"Secepat itu? Kamu baru saja sadar, tidak mau istirahat dulu?" tanya Naruto, ada nada kecewa disana.
Hinata menggeleng. "Pasti ayahku memarahiku kalau aku terlambat pulang."
Mendengar alasan Hinata, Naruto langsung mengerti. Dia tahu betul bagaimana sifat ayah Hinata itu. Yang jelas melanggar aturannya sama dengan cari mati. "Kalau begitu biar aku antar."
"Eh? A-apa tidak merepotkan?"
"Dari tadi kamu terus saja bilang 'merepotkan'. Tentu saja tidak, justru aku senang," jawab Naruto dengan menunjukkan cengirannya.
"Ba-baiklah," jawab Hinata malu-malu.

Sepanjang perjalanan ke rumah Hinata, Naruto dan Hinata sama-sama diam. Bahkan Naruto yang terkenal hiperaktif saja sekarang malah diam, bingung harus bicara apa lagi. Dari tadi dia terus yang mengajak ngobrol, Hinata hanya menanggapi seperlunya.
Bagaimana Hinata tidak diam? Selain dia bukan tipe orang yang suka memulai pembicaraan, dari tadi dia tengah sibuk menahan gejolak di hatinya saking senangnya bisa diantar pulang oleh Naruto. Jadi jangankan memulai topik pembicaraan baru, menenangkan dirinya saja Hinata sudah susah payah. Mimpi apa coba Hinata bisa diantar pulang oleh orang yang disukainya?
Tidak terasa mereka sudah sampai di depan Hyuuga Mansion. Salah satu mansion terbesar yang ada di Konoha. Tidak heran memang, mengingat Hyuuga adalah klan elit dan ternama di Konoha.
"Sudah sampai. Arigato Naruto-kun," kata Hinata di depan gerbang mansion.
"Sama-sama. Sampai ketemu besok ya," kata Naruto. Hinata menjawab dengan anggukan. Naruto tersenyum dan segera pulang.
Hinata memperhatikan Naruto yang semakin menjauh dan menghilang di belokan. Diam-diam Hinata tersenyum sendiri, tidak menyangka hari ini begitu menyenangkan.
Keesokan harinya, Hinata dibuat kaget oleh kelakuan Naruto. Ternyata yang dimaksud 'sampai ketemu besok' oleh Naruto benar-benar dipraktekkan. Saat Hinata keluar dari gerbang mansion untuk berangkat ke akademi, Hinata melihat Naruto sedang bersandar di pohon tidak jauh dari rumahnya.
"Pagi Hinata-chan," sapanya ceria seperti biasa.
"Pagi Naruto-kun. Ke-kenapa ada disini?" tanyanya gugup.
"Aku menunggumu. Kita berangkat ke akademi sama-sama ya?"
"Um.. boleh." Hinata sudah lama memimpikan hal seperti ini terjadi, berangkat ke akademi bersama Naruto. Biarpun secara tidak langsung itu menuntut Hinata untuk beberapa menit menenangkan hatinya di dekat Naruto.
Sesampainya di akademi, Naruto dan Hinata segera memasuki kelas. Dan Naruto melakukan satu lagi hal yang membuat pipi Hinata memanas.
"Aku duduk disampingmu ya? Boleh 'kan Hinata-chan?"
Hinata sudah tidak sanggup menjawab saking malunya, ia hanya mampu menganggukkan kepalanya. Tapi itu saja sudah cukup untuk mengizinkan bocah pirang pujaannya itu untuk duduk disampingnya.
Dengan semua hal yang dilakukan Naruto dua hari terakhir ini, Hinata sedikit merasa aneh. Sikap Naruto terhadapnya berubah drastis. Naruto lebih perhatian kepadanya. Bukannya dia tidak mau Naruto perhatian kepadanya, hanya saja Hinata masih kaget dengan perubahan sikap Naruto yang cepat ini.
Tapi Hinata menepis semua itu. Itu tidak penting. Dia sangat senang dengan sikap Naruto terhadapnya sekarang. Ini memang hal yang sudah lama diharapkan Hinata. Mungkin ini jawaban Tuhan atas doanya selama ini.

"Tumben kau datang pagi-pagi sekali?" tanya Kiba setelah Naruto bergabung bersamanya di pojok kelas. Disana juga ada Shikamaru dan Chouji. "Biasanya 5 menit sebelum masuk baru datang."
"Bosen kesiangan terus. Kalau datang pagi 'kan bisa santai. Lagipula ada banyak hal bermanfaat yang bisa kukerjakan kalau aku bangun pagi," jawab Naruto serius.
"Kau ini jadi seperti orang tua!" ejek Kiba.
"Oh, jadi menjemput Hinata itu bermanfaat ya?" tanya Shikamaru datar. Tapi pertanyaan Shikamaru itu telak mengenai dadanya. 'Ugh, dari mana Shikmaru tahu?' pikirnya.
"Eh? Jadi kau menjemput Hinata?" kali ini Chouji angkat bicara, menghentikan sejenak kegiatannya memakan snack.
"Itu..." Naruto bingung harus menjawab apa. Dia belum siap kalau harus jujur, pasti teman-temannya akan menggodanya. Dan itu akan sangat menyebalkan kalau sampai terjadi.
"Pagi anak-anak." Iruka-sensei memasuki kelas dan membuat seisi kelas berhamburan menuju tempat duduknya masing-masing. Tapi kali ini Naruto malah berterima kasih kepada Iruka-sensei. Karena kedatangannya, dia jadi bisa kabur dari kewajibannya menjawab pertanyaan Chouji. Berbeda dengan ketiga temannya yang kesal karena tidak mendapat jawaban memuaskan dari Naruto.
Sepulang dari akademi Naruto mengajak Hinata untuk pulang bersama. Gara-gara pernah kehilangan Hinata sebelumnya, Naruto jadi tidak mau jauh-jauh dari Hinata. Kalau Hinata sih senang-senang saja.

Seminggu sudah berlalu. Hampir setiap hari Naruto dan Hinata selalu berangkat dan pulang dari akademi bersama. Pulang dari akademi biasanya Naruto tidak langsung mengantar Hinata pulang. Kadang latihan bersama, pergi ke suatu tempat, atau hanya sekedar jalan-jalan mengelilingi Konoha.
Dan kali ini Naruto mengajak Hinata ke kedai ramen langganannya, Ichiraku Ramen.
"Kamu ga makan Hinata-chan?" tanya Naruto di sela-sela kesibukannya melahap ramen.
"A-aku ga pernah makan ramen." jawab Hinata jujur.
"Oh, benar juga. Pasti di rumahmu kalau makan ada yang menyediakan ya? Pasti selalu bergizi dan enak." Wajah Naruto berubah murung. "Mana mungkin ramen seperti ini."
"Bu-bukan begitu Naruto-kun," kata Hinata panik. "Ah, kalau begitu aku juga pesan satu."
"Bener mau?" tanya Naruto, wajahnya kembali ceria. Hinata mengangguk.
"Ramen satu lagi Ojii-san!" kata Naruto setengah berteriak kepada Teuchi Ojii-san.
Tidak sampai 5 menit, seporsi ramen sudah siap di hadapan Hinata. Hinata mulai memakannya, sedangkan Naruto melihatnya harap-harap cemas. Takut Hinata tidak suka.
"Enak?" tanya Naruto penasaran.
"Umm, enak..." jawab Hinata. Hinata juga tidak menyangka kalau ramen rasanya lumayan juga. Maklum, di rumahnya mana pernah koki pribadinya membuat makanan 'kurang menyehatkan' seperti ramen.
"Hehe. Bagus kalau kamu suka." Naruto bisa bernafas lega sekarang.
Tanpa Naruto dan Hinata ketahui, seseorang memperhatikan mereka dari kejauhan.
'Naruto bersama Hinata? Berdua? Apa aku tidak salah lihat?' batin orang itu.

"Kamu duluan ke kelas ya," kata Naruto di suatu pagi. Seperti biasa pagi itu Naruto dan Hinata berangkat bersama. "Aku menemui Kiba dan yang lain dulu."
"Hai."
Kemudian Hinata memasuki kelas duluan dengan senyuman manis yang masih melekat di bibirnya. Seminggu terakhir ini berangkat ke akademi memang jadi hal yang sangat menyenangkan dan membuatnya senang. Apalagi kalau bukan gara-gara ditemani Naruto, begitu juga dengan pagi ini. Tapi baru beberapa langkah memasuki kelas, dia dikagetkan dengan gambar di papan tulis. Tangannya menutup mulutnya, matanya lavendernya membesar karena kaget. Pipinya mulai bersemu merah.
Di papan tulis ada gambar hati yang besar. Di dalam gambar hati itu, ada gambar laki-laki dan perempuan yang sedang berpegangan tangan. Yang laki-laki bertuliskan Naruto dan yang perempuan bertuliskan Hinata. Memang itu hanya hasil karya anak-anak 12 tahun yang iseng, tapi untuk orang yang sensitif seperti Hinata, gambar itu sukses membuat Hinata terpaku disana. Tubuhnya tidak bisa digerakkan. Akhirnya dia menunduk, poni berwarna indigonya menutupi matanya. Berbagai perasaan bercampur aduk di dalam dirinya sekarang. Malu, kesal, marah. Tapi apa daya? Hinata terlalu pemalu dan pendiam. Dia bukan tipe orang yang eksplosif, yang bisa berteriak marah dan membentak. Dia merasa lemah sekarang.
Tak lama kemudian Naruto memasuki kelas. Naruto kaget melihat Hinata tertunduk di depan kelas. 'Pasti ada apa-apa,' pikirnya.
"Hinata-chan, apa yang..." kata-kata Naruto terhenti. Tebakan Naruto terbukti setelah Naruto melihat papan tulis. Itu memang gambar sepele, tapi menjadi tidak sepele karena sudah membuat Hinata sedih. "Siapa yang menggambar ini?" bentak Naruto.
Tapi tidak ada satupun yang mengaku. Naruto merasa tidak ada gunanya juga dia membentak, tidak akan ada yang mengaku.
Digenggamnya tangan kiri Hinata. Hinata menengadah, matanya berkaca-kaca. Tapi sesaat setelah Naruto menggenggam tangannya, dia merasakan rasa nyaman dihatinya yang memaksa air mata yang dari tadi ingin keluar tidak jadi keluar.
"Ikut aku," kata Naruto. Naruto menarik Hinata keluar dari kelas. Hinata hanya bisa pasrah dan mengikuti kemana Naruto membawanya.
.
"Gomen Hinata-chan. Gara-gara aku, teman-teman sekelas jadi..." Naruto tidak menyelesaikan kalimatnya, merasa Hinata juga sudah tahu permasalahannya. Ia menyimpan dagunya di lutut, merasa bersalah karena gara-gara dirinyalah Hinata jadi sedih. Andai saja dia tidak terlalu dekat dengan Hinata, pasti ini semua tidak akan pernah terjadi.
Sekarang Naruto dan Hinata sedang bersandar di pohon besar di belakang akademi. Tangan mereka masih terpaut satu sama lain.
"Tidak apa-apa Naruto-kun," jawab Hinata sambil tersenyum. Hanya karena Naruto menggenggam tangannya seperti ini, dia jadi merasa nyaman. Dia merasa tenang dan merasa tidak sendirian. Rasa sedih dan kesalnya tadi sudah lenyap entah kemana.
"Benarkah?" tanya Naruto. Tidak menyangka ternyata Hinata tidak marah.
"Iya." jawab Hinata meyakinkan.
"Umm, kamu tidak akan menjauhiku 'kan gara-gara hal ini?" tanya Naruto masih ragu. Pandangannya tertuju ke batu-batu di depannya, tidak berani memandang Hinata.
"Tentu saja tidak, aku tidak peduli apa kata teman-teman. Aku malah takut kalau Naruto-kun yang akan menjauhiku gara-gara hal ini." kata Hinata menahan rasa malunya mengatakan hal itu, baru kali ini dia berbicara panjang lebar dan lancar di depan Naruto.
"Arigato Hinata-chan. Aku juga tidak akan menjauhimu. Tidak akan." Naruto mengeratkan pegangannya di tangan Hinata, menenangkan Hinata. Kemudian memandang Hinata dan tersenyum ke arahnya. Yang dipandang malah menoleh ke arah lain, menyembunyikan pipinya yang sudah memerah.
Untuk beberapa saat mareka diam disana. Tidak butuh banyak bicara, kehadiaran masing-masing saja sudah cukup membuat hati mereka senang.
"Hinata-chan..." kata Naruto memecah keheningan.
"Ya?"
"Sekarang kita bolos saja ya?"
"Ke-kenapa bolos?" Hinata agak kaget juga, di kamusnya tidak ada yang namanya bolos.
"Aku malas meladeni teman-teman," kata Naruto cuek.
"Tapi... Kalau aku bolos, aku..."
"Begini saja. Sebagai gantinya aku akan melatihmu taijutsu. Bagaimana?" bujuk Naruto.
"Umm.." Hinata terlihat berfikir keras.
"Ayolah, jadi meskipun kamu bolos, kamu tetap dapat ilmu dariku. Mau ya? Ya? Ya?" Naruto memasang muka memelas.
Melihat Naruto memohon begitu, Hinata tidak tega untuk menolak. "Baiklah," jawab Hinata sambil tersenyum.
Akhirnya hari itu mereka habiskan untuk latihan bersama. Naruto melatih Hinata taijutsu bukan tanpa alasan, dia tahu kalau Hinata lemah di sisi itu. Mudah-mudahan saja Naruto bisa membantu meningkatkan kemampuan taijutsu Hinata. Selain bisa berduaan denga Hinata tentunya.

Sementara itu di kelas...
Seorang kunoichi tengah memandang keluar jendela. Tidak jelas apa yang sedang dilihatnya, sepertinya dia sedang melamun.
"Hei, kenapa kau melamun?" tanya kunoichi lain yang merupakan sahabatnya. Sang kunoichi tersentak kaget, mungkin terlalu asyik melamun dan tidak memperhatikan sahabatnya itu datang.
"Ukh, berhenti mengagetkanku!"
"Salah sendiri kenapa kau melamun? Tidak biasanya."
"Ngomong-ngomong apa kau sadar kalau Naruto jadi aneh?"
"Aneh?" Kening sahabatnya itu menyernyit. "Maksudmu?"
"Kita 'kan tahu dulu dia itu sangat-sangat-sangat tidak sensitif terhadap perasaan perempuan. Bahkan Hinata menyukainya saja dia tidak sadar. Tapi kau lihat 'kan tadi pagi? Dia jadi sangat perhatian kepada Hinata. Kemarin juga aku melihat mereka berdua di kedai ramen. Selain itu beberapa hari terakhir ini kulihat mereka sering bersama. Kurasa Naruto berubah drastis. Malah terlalu drastis. Bukan hanya itu sikapnya juga berubah. Dia jadi lebih... ah susah kalau dijelaskan," katanya panjang lebar.
"Mungkin saja dia menyadari kalau Hinata suka padanya, makanya dia berubah. Bisa jadi 'kan?"
"Jadi kau percaya pada omongan teman-teman tadi pagi tentang gosip Naruto dan Hinata?"
"Aku tidak percaya 100%, tapi ada kemungkinan benar."
"Ia juga."
"Tapi kenapa kau jadi repot-repot memikirkan bocah itu?"
"Bukan begitu, hanya saja ini membuatku penasaran. Apa mungkin mereka pacaran?"
"Eh? Kita 'kan baru 12 tahun menuju 13 tahun. Mungkin memang ada beberapa dari kita yang sudah pacaran. Tapi kalau untuk Naruto... Aduh itu tidak mungkin."
"Siapa tahu."
"Terus apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan mencari tahu kebenarannya. Aku punya rencana..."
"Rencana apa?"
"Rahasia. Akan kuceritakan kalau kau mau membantuku."
"Hah? Tidak! Terima kasih. Aku tidak punya waktu untuk mengurusi bocah tidak berguna seperti dia. Banyak hal yang lebih berguna, seperti mendekati Sasuke-kun."
"Heee? Sasuke-kun milikku! Jangan harap kau bisa mendapatkannya. Ya sudah, aku akan melaksanakan rencanaku sendirian."
"Terserah. Aku tidak mau terlibat. Kalau ada apa-apa jangan bawa-bawa aku. Kyaaaaa! Itu Sasuke-kun! Sasuke-kuuunnn..."
Sang kunoichi kembali memandang keluar jendela.
'Ck, hari ini terpaksa aku mengalah dan tidak mendekati Sasuke-kun. Aku harus menyusun rencanaku. Tunggu saja Naruto, aku akan 'memaksamu' memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi,' batin sang kunoichi sambil menyeringai.
To Be Continued...

A/N: Siapakah sang kunoichi itu? Yang jelas perannya cukup penting.
Kunoichi: Di chapter depan rahasia Naruto akan terbongkar! Dan akulah yang membongkarnya! Hihihihi
rifuki: Bodoh! Jangan dibocorin ke reader! *nyekik sang kunoichi*
Kunoichi: Kyaaa... ampuuunn, percuma kau mencekikku, reader udah terlanjur tahu.



Chapter 4
-Rahasia Terbongkar?-
Normal POV

"Ahahaha, kamu lucu Hinata-chan."
"Ja-jangan memandangku terus Naruto-kuunn..."
"Habisnya mukamu kenapa selalu merona merah kalau di dekatku?"
"Ummm…"
"Tapi tidak apa-apa kok, aku suka."
"Eh?"
"Tuh 'kan memerah lagi. Haha."
"Naruto-kuuunnn…"
Sore itu tidak berbeda dengan sore-sore sebelumnya, seperti biasa Naruto mengantar Hinata pulang ke rumahnya diselingi candaan ringan. Dua hari sudah berlalu setelah kejadian digambarnya Hinata di papan tulis dan bolosnya Naruto-Hinata. Mereka berdua sudah kembali masuk ke akademi seperti biasa. Siswa lain kebanyakan sudah tidak lagi membahas kejadian dua hari lalu itu. Meskipun ada saja beberapa yang membicarakan mereka berdua di belakang. Naruto dan Hinata sudah tidak mau ambil pusing, mereka sudah tidak peduli lagi apa kata siswa lain mengenai kedekatan mereka. Itu hak mereka untuk dekat, dan orang lain tidak berhak untuk melarang mereka dekat.
"Sudah sampai. Terima kasih sudah mengantarku pulang," kata Hinata setelah mereka sampai di depan Hyuuga Mansion.
"Ya, sama-sama Hinata-chan, sampai ketemu besok," kata Naruto tak melepas senyumnya.
"Hn," angguk Hinata. Seperti biasa Hinata tidak akan masuk ke dalam Hyuuga Mansion sebelum Naruto menghilang dari pandangannya. Hinata memandang sosok yang disukainya itu sambil tersenyum, sebelum akhirnya sosok itu menghilang di tikungan.
Sementara itu Naruto yang dalam perjalanan pulang malah senyum-senyum sendiri. Kedua tangannya disimpan di belakang kepalanya. Orang-orang yang kebetulan berpapasan dengannya memandang Naruto aneh.
'Naruto senyum-senyum sendiri, jangan-jangan dia sudah gila!' pikir mereka.
Tapi sebenarnya Naruto tersenyum sendiri bukan tanpa alasan. Dia sedang berpikir. Dia menyadari sesuatu yang semakin membuat hatinya berbunga-bunga. Dia menyadari bahwa ternyata dirinya semakin menyukai Hinata melebihi sebelumnya. Sekarang dia benar-benar tidak ingin kehilangan Hinata. Bahkan dia meyakinkan dirinya dan berjanji akan melindungi Hinata dengan nyawanya, dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Hinata, dia tidak akan membuat Hinata sedih.
Oleh karena itu, detik itu juga Naruto memutuskan hal yang sangat penting: dia memutuskan untuk menyimpan rahasianya baik-baik.
Rencananya untuk memberitahukan rahasianya kepada Hokage dia batalkan. Dia tidak ingin satu orang pun tahu mengenai rahasianya, apalagi Hinata. Karena Naruto takut kalau Hinata tahu, Hinata akan sedih karena mengetahui dirinya akan mati. Biarlah rahasia ini Naruto pendam sendiri. Sekarang yang harus dia lakukan adalah berlatih keras dan tidak akan membiarkan masa depannya terulang kembali. Dia tidak akan membiarkan Hinata mati di kesempatan kedua yang diberikan Tuhan ini. Bukan hanya itu, Naruto juga bertekad akan merubah masa depan. Dia tidak akan membiarkan Hokage ke-3, Jiraiya serta orang-orang yang disayanginya mati, dia tidak akan membiarkan Sasuke meninggalkan desa, dan banyak lagi hal yang akan Naruto lakukan.
Setelah membulatkan tekadnya, Naruto jadi semakin bersemangat.
'Aku harus memanfaatkan kesempatan kedua yang diberikan Tuhan ini dengan sebaik-baiknya. Aku akan memperbaiki semua kekacauan yang terjadi di masa depan, sekecil apapun itu,' batin Naruto.
Tanpa Naruto ketahui, seorang kunoichi sudah memperhatikan dirinya sejak keluar dari gerbang akademi. Mengamati setiap tingkah Naruto dan Hinata dari tadi. Dan sekarang sedang memperhatikannya dari kejauhan, mengikuti Naruto diam-diam.
'Semakin mencurigakan,' batin sang kunoichi.
Saat melewati sebuah perempatan jalan, badan Naruto ditarik oleh kunoichi itu.
"Hei, apa-apaan…" Naruto yang ditarik paksa mencari tahu siapa orang yang menariknya. Yang dilihat Naruto hanya punggung dan rambutnya saja karena kunoichi itu terus saja menariknya. Tapi samar-samar Naruto bisa melihat ciri-ciri kunoichi itu. Rambutnya pirang panjang, diikat ponytail, dan bajunya berwarna ungu.
Sang kunoichi berhenti menariknya ketika mereka sampai di lorong yang kecil dan sepi. Kemudian sang kunoichi menoleh, kali ini jelaslah sudah wajah orang yang menarik Naruto dari tadi.
"Ino?"
"Halo Naruto," sapa Ino sambil tersenyum manis.
"Kenapa kau menarikku kemari?" tanya Naruto, merasa kesal karena gadis di depannya itu seenaknya saja menariknya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin ngobrol denganmu," jawab Ino masih saja tersenyum.
"Ngobrol? Tidak biasanya." Tentu saja tidak biasa. Kalau hanya ingin ngobrol, tidak harus menarik Naruto ke tempat sepi 'kan?
"Yah, aku juga sedikit merasa aneh," ujar Ino menghela nafasnya, "baru sekarang aku bicara berdua seperti ini denganmu."
Kalau dipikir Ino ada benarnya juga. Waktu kecil (di kehidupan Naruto sebelumnya) Naruto memang jarang sekali ngobrol berdua dengan Ino. Biasanya di akademi Ino hanya akan menghina atau mengolok-olok kebodohan Naruto. Naruto juga ingat saat dia mendapat misi berdua dengan Ino untuk menolong putri yang kurang percaya diri karena badannya yang gemuk. Waktu itu tugas Ino adalah menyamar menjadi putri tersebut – kebetulan wajah Ino dan putri tersebut mirip – untuk membuat pangeran jatuh cinta pada sang putri. Bodohnya, Naruto malah mengacaukan suasana. Beruntung misi berakhir dengan sukses, meskipun bukan dengan cara yang Ino inginkan. Tapi hingga akhir misi hubungan Naruto dengan Ino tidak membaik. Mendapat misi berdua sama sekali tidak membuat mereka akrab. Ino masih saja ketus dan Naruto masih tetap dicap 'baka' oleh Ino.
Setelah beranjak remaja, Naruto dan Ino semakin jarang bertemu. Terutama karena banyaknya misi yang mebuat mereka sibuk.
"Mau ngobrol apa?" tanya Naruto lagi, sama sekali tidak tertarik.
"Ini mengenai kau dan Hinata." Senyum Ino berubah jadi aneh.
Naruto kaget bukan main. Tapi dia tutupi dengan pura-pura tidak dengar dan balik bertanya. "Aku dan Hinata?"
"Ya, apa kalian… Umm… Apa kalian pacaran?" tanya Ino. Sekarang jelas sekali kalau Ino menyeringai, membuat Naruto mundur beberapa langkah.
"Eeeh? Kenapa tanya begitu?" Jujur saja Naruto tidak siap kalau ditanya begini.
"Aku 'kan hanya tanya. Tidak usah heboh begitu," kata Ino. Disandarkannya dirinya di dinding lorong, kedua tangannya dilipat di dada.
"Umm, aku…" Naruto bingung harus bicara apa lagi. Memang ia ingin sekali pacaran dengan Hinata. Tapi sekarang mereka masih teman biasa. Bingung juga Naruto harus bilang apa.
"Pacaran ya?" desak Ino. Kini Ino mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto. Naruto semakin panik, kewalahan meladeni sikap agresif Ino.
"Ti-tidak! Kami hanya… teman," kata Naruto di tengah kepanikannya. Ada perasaan sedih juga saat dia mengucapkan kata 'teman'. Tapi Naruto yakinkan dirinya, suatu saat status 'teman' itu akan berubah jadi 'pacar'.
"Tapi dari reaksimu sepertinya tidak begitu." Ino semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto, reaksi Naruto malah membuat Ino semakin penasaran.
"Hah? Jangan bicara yang aneh-aneh."
"Aku tidak bicara aneh, ini kenyataan. Kalau hanya teman, mana mungkin setiap hari berangkat dan pulang dari akademi bersama? Selain itu kalian sering jalan berdua."
'Ugh, Ino bukanlah tipe orang yang mudah diajak berdebat,' batin Naruto.
"Tapi itu bukan berarti kalau kita pacaran. Sudahlah, aku mau pulang," Naruto berbalik, dan mulai meninggalkan Ino.
"Hei tunggu dulu, aku belum selesai bicara," kata Ino setengah berteriak.
"Aku pulang, daahhh..." Naruto melambaikan tangannya, sama sekali tidak menghiraukan teriakan Ino.
"Naruto!" Seketika itu juga, Ino menahan kedua bahu Naruto dan memojokkannya ke dinding lorong. Kemudian tangan kanan Ino diletakkan di kepala Naruto. Mata Ino terpejam.
'Gawat!' teriak Naruto dalam hati. Naruto tahu betul apa yang akan Ino lakukan. Ino akan menggunakan jurus membaca pikiran. Naruto sedikit kaget juga, dia pikir hanya Inoichi, ayah Ino saja yang menguasai jurus itu. Dan tentu saja itu sangat berbahaya, Ino akan tahu semua isi pikirannya. Dari mulai masa lalu sampai masa depan yang sama sekali belum terjadi di masa ini.
'Ini keterlaluan sekali, apa sebegitu ingin tahunya Ino mengenai hubunganku dan Hinata sampai-sampai Ino menggunakan jurus ini? Dasar anak kecil!' pikir Naruto.
"Hei! Apa yang kau…" Naruto mencoba melepaskan diri dari pegangan Ino. Tapi terlambat, Ino sudah menggunakan jurusnya. Kepala Naruto tiba-tiba sakit.
"Ino! Stop! Aku mohon jangan lakukan itu… ARGGGHHHHH….."
"KYAAAAA…" Ino berteriak tidak kalah kerasnya, ia juga menahan rasa sakit di kepalanya.
Ada yang salah, seharusnya si pemakai jurus tidak merasakan rasa sakit di kepalanya. Sepertinya Ino masih harus menyempurnakan jurusnya sebelum bisa mempraktekannya kepada orang lain. Tapi meski begitu, semua pikiran Naruto tersalin ke otak Ino walaupun dengan memakan waktu yang lebih lama. Saat jurus Ino selesai digunakan, keduanya terhempas ke belakang.
"Ugh, kepalaku sakit…" ujar Naruto memegang kepalanya. Kemudian ia bangun dan mencari Ino. Ino tampak terduduk beberapa meter di depannya.
"Ino kau baik-baik saja?" tanya Naruto. Dilihat dari keadaannya sepertinya Ino tidak baik-baik saja. Kedua tangannya memegang kepalanya. Dari teriakan Ino tadi, Naruto bisa pastikan kalau Ino juga merasakan rasa sakit seperti yang dirasakan dirinya, bahkan mungkin lebih parah. Tiba-tiba mata biru Ino mengeluarkan air mata, ia menangis. Sekarang Naruto mulai khawatir, ia berlutut di hadapan Ino.
"Ino?" tanya Naruto lagi, Naruto memegang pundak Ino bermaksud menenangkan.
PLAK!
Tiba-tiba tangan Naruto ditepis dengan kasar oleh Ino.
"Pergi! Kau siapa?" tanya Ino, suaranya keras tapi bergetar.
"Eh? Aku Naruto. Masa kau lupa?"
"Tapi kenapa pikiranmu… Kenapa di dalam pikiranmu Konoha dan orang-orang jadi…" Ino tidak mampu melanjutkan kalimatnya, air matanya kembali mengalir. Pasti dia melihat bayangan-bayangan masa depan Naruto. Bayangan Asuma-sensei yang mati melawan Akatsuki, Konoha yang hancur, maupun bayangan puluhan penduduk Konoha yang menjadi korban penyerangan Pain. "Itu bohong 'kan? Kau bukan Naruto! Siapa kau sebenarnya?"
"Tenang Ino, aku bisa jelaskan semuanya," Naruto berusaha menenangkan Ino, tapi Ino terus saja menepis tangan Naruto dan beringsut mundur ke belakang.
"Pergi! Menjauh dariku!" bentak Ino lagi, suaranya serak karena bercampur tangis dan kesedihan.
"Biar aku jelaskan dulu." Naruto belum mau menyerah untuk berusaha menjelaskan.
"PERGIIII!" bentak Ino semakin keras.
Sepertinya Naruto tidak bisa bernbuat apa-apa lagi sekarang, kehadiarannya disana hanya akan memperburuk keadan dan membuat Ino semakin histeris. Akhirnya Naruto memutuskan untuk membiarkan Ino sendiri, kemudian dia pergi dari lorong sepi itu. Membiarkan Ino yang menangis tersedu-sedu. Dia pasti terpukul mengetahui masa depan yang akan terjadi.
Naruto kembali memandang Ino untuk terakhir kalinya sebelum dia pergi, dipandangnya Ino yang sedang terduduk memeluk lututnya, badannya bergetar. Melihat Ino seperti itu membuat Naruto jadi merasa bersalah.
"Ino…"

Naruto POV
Aku pulang ke apartemenku dengan berbagai pikiran yang berkecamuk di otakku. Disaat aku bertekad akan menyimpan baik-baik rahasia ini, sekarang rahasiaku malah terbongkar oleh Ino.
Hal yang paling kutakutkan adalah Ino akan memberitahukan semua hal yang dilihatnya di pikiranku kepada ayahnya, Inoichi. Atau bahkan langsung kepada Hokage ke-3. Tentu saja kalau Ino atau Inoichi yang memberitahukan ini kepada Hokage, dia akan percaya karena ada bukti yang kuat yang saat ini ada di otak Ino. Setelah itu Hokage pasti akan memberitahu para petinggi dan orang penting di Konoha untuk mempersiapkan atau mengantisipasi kejadian yang akan terjadi di masa depan.
Aku tidak mau itu terjadi, bukan tidak mungkin kalau nanti rahasiaku akan tersebar ke semua penduduk dan Hinata jadi mengetahui masa depannya. Aku tidak ingin Hinata sedih karena hal ini. Siapa sih orang yang tidak sedih mengetahui dirinya akan mati di masa depan? Dengan usia yang masih sangat muda?
Meskipun aku bisa saja mencegah hal itu terjadi, karena sudah tahu dan bisa mengantisipasinya. Tapi perasaan sedih itu aku yakin akan tetap ada di hati Hinata.
Aku tidak bisa tidur malam itu. Pikiranku benar-benar tidak tenang. Yang ada dipikiranku adalah Hinata, Hinata dan Hinata. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya saat mengetahui hal sebenarnya.
Menjelang pagi, aku baru bisa tidur. Akibatnya aku bangun kesiangan dan terlambat menjemput Hinata. Sial! Pasti Hinata sudah menungguku. Aku buru-buru berangkat menuju rumah Hinata, tapi saat aku membuka pintu apartemenku…
Aku melihat seseorang berdiri disana.
"Hinata-chan?"
"Pagi Naruto-kun," sapa Hinata sambil tersenyum.
"Kenapa disini?" tanyaku heran.
"Aku menunggumu di depan rumahku tapi kamu tidak datang juga, makanya aku kesini."
Yah, wajar saja, aku bangun 1 jam lebih siang dari biasanya. Hinata pasti bosan menungguku sampai 1 jam. Beruntung masih ada beberapa menit lagi sebelum bel masuk akademi.
"Gomen, aku kesiangan, aku tidak bisa tidur," kataku jujur.
"Tidak apa-apa. Kalau begitu ayo cepat kita berangkat," kata Hinata sambil tersenyum. Melihat senyum Hinata itu membuat hatiku sakit, aku tidak mau kehilangan senyum itu. Senyum yang begitu polos dan tulus.

Sepanjang pelajaran berlangsung pikiranku melayang entah kemana. Aku benar-benar tidak fokus memperhatikan pelajaran.
"Kenapa kamu melamun terus Naruto-kun?" tanya Hinata khawatir.
"Ah, aku… tidak apa-apa," ujarku. Maaf Hinata, aku tidak bisa menceritakan masalahku kepadamu.
Sesekali aku memandang ke arah Ino. Matanya sembab. Sepertinya Ino banyak sekali mengeluarkan air mata kemarin. Atau mungkin juga dia menangis semalaman karena tadi Ino juga datang kesiangan. Aku selalu mencari kesempatan untuk bicara dengan Ino di setiap pergantian pelajaran, tapi Ino terkesan menghindariku.
Aku hanya bisa bersabar dan berpikir kalau waktu istirahat aku akan bisa mengajak Ino bicara. Tapi dugaanku salah, ternyata begitu bel istirahat berbunyi, Ino langsung keluar kelas entah menuju kemana. Saat kucegat dia, dia hanya melewatiku seolah menganggapku tidak ada.
"Ino…"
Aku menghela nafas panjang. Ini sudah berakhir, hanya tinggal menunggu waktu saja sampai rahasiaku tersebar dan sampai ke telinga Hinata, kemudian dia jadi sedih. Aku tidak bisa melihat Hinata sedih. Aku benar-benar tidak tega.
Aku kembali ke kelas dengan perasaan tidak karuan. Aku melihat Hinata di kelas. Ternyata Hinata tidak ke kantin, ia sedang membaca buku. Aku duduk di sampingnya. Kugeser tempat dudukku agar semakin dekat dengan Hinata. Aku diam disana tanpa bicara apapun.
"Naruto-kun, kamu sedang ada masalah ya?" tanya Hinata menghentikan kegiatan membacanya.
Aku tersentak, rupanya Hinata menyadari kalau aku sedang ada masalah.
"Cerita saja padaku," kata Hinata lagi.
Aku ingin jujur kepada Hinata mengenai masalah ini, tapi disisi lain aku juga tidak mau Hinata tahu rahasiaku, masa depan Konoha, dan yang paling penting masa depan dirinya.
"Hinata-chan, bagaimana perasaanmu jika kamu mengetahui kalau kamu akan mati?" tanyaku spontan.
"Eh?" Hinata awalnya kaget, kemudian pandangannya melembut. "Perasaanku biasa saja, semua orang 'kan pasti mati."
"Umm, maksudku seandainya kamu mati saat usiamu masih muda. Ingat ini hanya berandai-andai Hinata-chan, aku ingin tahu pendapatmu saja," kataku hati-hati agar Hinata tidak curiga.
"Oh… Bagaimana ya…" Hinata terlihat berpikir sejenak. "Tidak masalah untukku. Selama cita-citaku sudah tercapai, dan aku sudah bisa menyenangkan keluarga dan orang-orang terdekatku. Aku akan senang dan tidak keberatan kalau harus mati."
Aku menatap Hinata tidak percaya, aku kagum mendengar kata-katanya. Bagaimana bisa dia tidak akan sedih mengetahui dirinya akan mati selama dia sudah bisa menyenangkan keluarga dan orang terdekatnya? Hinata, hatimu benar-benar mulia.
Hatiku sedikit terhibur mendengar kata-kata Hinata. Aku berusaha tersenyum sebisaku.
"Kenapa tiba-tiba bertanya begitu Naruto-kun?"
"Oh, tidak-tidak, bukan apa-apa. Hehe. Ngomong-ngomong cita-citamu apa?"
"Itu… Itu ra-rahasia." Muka Hinata tiba-tiba saja memerah.
"Eh, kenapa begitu? Ayolah beritahu aku."
"Ti-tidak mau."
"Ayolah, beritahu."
"Tidak."
"Beritahu."
"Tidak."
"Beritahuuu..."
"Tidaaaak..."
"Siang anak-anak…" Kedatangan Iruka-sensei menghentikan perdebatan kami. Aku jadi berpikir, apa mungkin cita-cita Hinata itu… Hmm, mungkin saja...
End Naruto POV

Normal POV
"Anak-anak, hari ini kalian akan bekerja kelompok, buatlah kelompok yang terdiri dari 3-4 orang. Aku akan mengajarkan kerja sama tim," kata Iruka-sensei memulai pelajaran.
Semua siswa mulai bergabung dengan kelompok pilihannya masing-masing. Tapi hingga semua siswa mendapat kelompok, Naruto dan Hinata masih tetap berdua. Setiap mereka akan bergabung, selalu ditolak oleh siswa lain. Siswa lainnya juga tidak ada yang mau bergabung dengan mereka berdua.
"Um... Kita hanya berdua Naruto-kun," kata Hinata sedih.
"Ia, soalnya memang tidak ada lagi yang tersisa," kata Naruto. Sebenarnya Naruto bisa saja bergabung dengan Shikamaru, Chouji dan Kiba. Tapi dia tidak tega kalau harus membiarkan Hinata sendiri.
"Mohon perhatiannya, bagi yang kelompoknya 4 orang, ada yang mau pindah dan bergabung bersama Naruto dan Hinata?" tanya Iruka-sensei.
Hening.
"Hah, mana ada yang mau sekelompok dengan bocah pembuat onar seperti Naruto. Kasihan sekali Hinata sekelompok dengannya," bisik Sakura, tapi masih bisa didengar anggota kelompoknya, Sasuke dan Ino.
Tiba-tiba Ino berdiri, kursinya sedikit terdorong ke belakang karena gerakannya yang tiba-tiba itu.
"Berhenti menghina Naruto seolah kau mengetahui segala sesuatu tentang Naruto! Kau sama sekali tidak tahu dia siapa, kau tidak tahu akan jadi seperti apa orang yang kau sebut 'pembuat onar' itu! Sudahlah, aku akan bergabung bersama Naruto." Sakura menatap Ino seolah tidak percaya.
"Maaf sensei," kata Ino agak keras sambil mengangkat tangannya, agar bisa dilihat Iruka-sensei. "Boleh aku bergabung bersama Naruto dan Hinata?"
Semua siswa terkejut mendengar kata-kata Ino, termasuk Sakura dan Naruto. Naruto bingung, bukannya Ino sedang marah kepadanya? Sekarang kenapa dia malah ingin bergabung bersamanya? Semua itu membuat Naruto tambah tidak mengerti.
"Oh, tentu saja, silahkan," ujar Iruka-sensei.
"Ino? Apa yang kau lakukan?" tanya Sakura saat Ino sedang mengemasi barang-barangnya untuk bergabung bersama Naruto.
"Tenanglah Sakura, masih banyak yang mau sekelompok dengan Sasuke. Aku tidak mau gara-gara hal ini persahabatan kita rusak. Mengerti?"
"Tapi…"
Ino tidak menghiraukan Sakura dan segera bergabung bersama Naruto dan Hinata. Tanpa disadarinya, dia juga tidak lagi memanggil Sasuke dengan suffix 'kun', respeknya kepada laki-laki emo itu berkurang mengetahui apa yang akan dilakukan Sasuke di masa depan.
Saat Ino duduk disamping Naruto, Naruto masih saja memandang Ino dengan tatapan bingung. Tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya dipikirkan gadis pirang itu.
"Ino?" tanya Naruto ragu.
"Kau berhutang banyak sekali penjelasan kepadaku."
Kata-kata Ino sukses membuat senyum terkembang di bibir Naruto. Paling tidak Ino masih mau mendengar penjelasannya.
"Hai!" kata Naruto semangat. Hinata yang tidak tahu apa-apa hanya mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan 2 orang pirang di hadapannya.
Ino menyadari Hinata yang kebingungan, ditatapnya Hinata sambil tersenyum jahil, kemudian dia angkat bicara,"Pulang dari akademi aku pinjam pangeranmu Hinata-chan." Pipi Hinata merona merah mendengar perkataan Ino.

Pulang dari akademi Naruto menepati janjinya untuk menjelaskan semuanya kepada Ino. Sekarang mereka sedang duduk serius di kamar Ino. Naruto sempat protes kenapa juga ia harus menjelaskan semuanya di kamar Ino? Naruto kurang nyaman masuk ke kamar perempuan. Ia sama sekali belum pernah masuk ke kamar perempuan sebelumnya. Tapi Ino berkilah kalau tempat itulah yang paling aman dan tidak akan ada yang mendengar. Akhirnya Naruto menceritakan semua yang dialaminya, mulai dari penyerangan di Konoha, kematian Hinata, sampai ke detail bagaimana dia kembali ke masa lalu (masa sekarang bagi Ino).
"Jadi semua yang ada di pikiranmu itu benar?" tanya Ino memastikan.
"Ya." Ekspresi Ino berubah sedih mendengar jawaban Naruto, tapi kali ini Ino bisa mengontrol dirinya.
"Ngomong-ngomong kau tidak melaporkan hal ini kepada Hokage?" Ino menggeleng. "Syukurlah, aku sempat takut kalau kau akan melakukan itu," ujar Naruto.
"Kau tidak mau Hinata tahu masalah ini 'kan?" Naruto mengangguk.
"Tenang saja aku tidak akan melakukan itu. Aku tidak ingin membuat orang-orang panik. A-aku… ingin percaya padamu. Aku yakin kau bisa mengubah masa depan, masa depan kami." Naruto terseyum mendengarnya. Kata-kata Ino barusan sangat berarti bagi Naruto. Ternyata Ino tidak se-menyebalkan yang dibilang Shikamaru.
"Arigato. Aku akan mencegah agar semua hal buruk di masa depan tidak terjadi."
"Tidak usah berterima kasih, Naruto. Justru aku ingin minta maaf, gomen."
"Minta maaf untuk apa?"
"Karena aku sudah tidak sopan dan membaca pikiranmu. Aku baru mempelajari jurus membaca pikiran 6 bulan terakhir ini. Jurus itu sebenarnya tidak boleh sembarangan dipakai, apalagi dipakai untuk mengetahui rahasia orang." Ino berhenti sejenak, Naruto membiarkannya karena dia tahu Ino belum selesai bicara.
"Bukan itu saja, aku minta maaf karena selama ini aku selalu menghinamu. Aku... Aku tidak tahu kalau masa lalumu begitu sulit. Pasti sangat menderita hidup sebagai anak yatim piatu. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku jadi dirimu... pasti aku tidak akan sanggup... hiks. Aku bersyukur masih punya ayah. A-aku juga minta maaf atas kesalahan... yang kuperbuat di masa depan. Gomen... Hiks," kata Ino terbata-bata, ia menangis. Naruto tidak menyangka dibalik sifat egois dan sok mengatur itu, Ino ternyata sangat sensitif dan rapuh.
"Umm jangan menangis, tidak apa-apa Ino. Jangan pikirkan itu. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu," kata Naruto menenangkan.
Naruto berpikir andai saja semua orang berpikiran seperti Ino, pasti di masa kecilnya Naruto tidak akan dijauhi. Kadang orang-orang memang suka menilai dan menghakimi orang lain tanpa memperhitungkan bagaimana perasaan orang tersebut, tidak pernah memandang suatu hal dari sudut pandang orang tersebut. Tapi Naruto menghilangkan pikiran-pikiran itu, tidak ada gunanya dia memikirkan masa lalu. Itu semua sudah terjadi.
"Tetap saja aku merasa bersalah," kata Ino disela tangisannya, "baiklah, sebagai permintaan maafku, aku bersedia membantumu mendekati Hinata."
"Eh?"
"Jangan kaget begitu. Aku sudah membaca pikiranmu, aku sudah tahu semuanya." Ino menghapus air matanya dan berusaha tersenyum.
"Hehe." Naruto nyengir lebar. Sekarang dia sudah tidak bisa menutup-nutupi perasaannya kepada Hinata, Ino sudah tahu semuanya.
"Kalau butuh bantuan, datang saja padaku. Aku akan membantumu semampuku."
"Benarkah?" Ino mengangguk semangat, jadi mak comblang memang salah satu hobinya. "Arigato Ino."
"Haaah, tenang rasanya. Sekarang aku jadi tidak merasa bersalah lagi," seru Ino.
"Aku juga sudah bisa tenang. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Hinata mengetahui kalau dia mati di masa depan, di usianya yang masih muda. Tapi syukurlah rahasia ini tidak akan sampai kepadanya."
"Hn. Jangan khawatir, aku akan menjaga rahasia ini baik-baik. Kau bisa percaya padaku."
"Arigato."
"Kau dari tadi berterima kasih terus. Kalau begitu aku juga mau berterima kasih sekali lagi. Ehem, arigato Naruto."
"Kalau yang barusan ucapan terima kasih untuk apa?"
"Karena aku jadi tahu kalau ternyata 4 tahun lagi aku tambah cantik. Hehe."
"Ah dasar kau ini, hahaha."
"Hahaha."
"Naruto."
"Ya?"
"Apa sekarang kita... jadi teman?" tanya Ino ragu.
"Ya, tentu saja. Kita teman," jawab Naruto, memamerkan cengiran yang jadi ciri khasnya, menandai dimulainya pertemanan di antara mereka berdua.
To Be Continue...



 
Chapter 5
-Jadi Diri Sendiri-
Normal POV
Tidak terasa 4 bulan telah berlalu sejak Naruto kembali ke masa lalu. Selama 2 bulan terakhir hubungan Naruto dan Hinata juga semakin dekat atas bantuan Ino. Hinata sudah bisa menahan rasa gugupnya didekat Naruto, sekarang ia sudah jarang terdengar terbata-bata lagi di depan Naruto, kecuali sedang malu. Tapi ada yang membuat Naruto bingung beberapa hari ini. Dia ingin memberikan hadiah kepada Hinata di hari kelulusan akademi yang tinggal 2 minggu lagi. Tapi dia bingung apa yang harus dia berikan. Naruto tidak ada pilihan lain selain meminta saran kepada Ino apa sebaiknya hadiah yang akan ia berikan untuk Hinata.
"Arghhh... Aku bingung Ino. Apa sebaiknya yang harus kuberikan? Apa tidak usah saja ya? Aku takut dia tidak suka," tanya Naruto mengacak-ngacak rambut pirangnya.
"Jangan baka! Hinata pernah memberimu syal 'kan? Sekarang giliranmu memberinya sesuatu. Begini saja, aku beri sedikit saran tapi ini menurut pendapatku. Kalau untuk hadiah, menurutku Hinata tidak akan mempermasalahkan apa yang kau beri. Yang penting kau tulus dan ikhlas memberinya. Bahkan jika hadiah yang kau beri itu sederhana atau murah sekalipun, Hinata pasti akan senang. Satu hal lagi, saat kau memberinya hadiah, awali dengan pujian. Pada dasarnya perempuan suka dirayu atau dipuji. "
"Oh begitu. Yang murah dan sederhana ya..." Naruto terlihat berpikir keras, "Bagaimana kalau aksesoris seperti gelang atau jepit rambut?"
"Nah itu juga bisa."
Setelah mengucapkan terima kasih, Naruto bergegas menuju toko aksesoris untuk mencari hadiah yang pas untuk Hinata. Tapi 15 menit kemudian dia kembali menemui Ino dengan muka murung. Ino bingung dan bertanya kenapa, kemudian Naruto menceritakan semuanya.
Flashback
Setelah mendapat saran dari Ino, Naruto menuju toko aksesoris terdekat. Saat ia akan masuk ke toko tersebut, ia menghentikan langkahnya karena rupanya di toko itu ada Hinata. Bisa gawat kalau Hinata tahu Naruto membeli hadiah untuknya disana. Naruto memperhatikan Hinata dari jauh. Samar-samar Naruto melihat Hinata mencoba sebuah jepit rambut tapi dia tidak jadi membelinya entah kenapa.
"Itu cocok untukmu nona manis," seru penjaga toko.
"Nee-chan ayo pulang," kata adik Hinata, Hanabi.
"Iya Hanabi-chan," balas Hinata.
"Apa Anda mau membelinya?" tanya penjaga toko itu kepada Hinata.
"Um, tidak, aku hanya mencoba saja," kata Hinata kemudian meninggalkan toko.
"Oh, baiklah, terima kasih sudah berkunjung."
Karena penasaran, Naruto masuk ke toko aksesoris tersebut. Tentunya setelah memastikan Hinata sudah jauh dan tidak akan melihatnya. Pandangan aneh dan tawa anak perempuan di toko itu tidak dipedulikannya. Bagaimana tidak, anak pembuat onar seperti dirinya masuk ke toko aksesoris perempuan. Kalau bukan untuk mencari hadiah untuk Hinata, Naruto tidak akan rela masuk ke tempat serba pink itu. Pokoknya jangan sampai teman-teman sekelasnya tahu Naruto ada disana, bisa hancur reputasinya.
"Jepit rambut yang dicoba oleh gadis tadi yang mana ya?" tanya Naruto kepada penjaga toko.
"Yang ini," kata penjaga toko, memberikan sepasang jepit rambut berwarna lavender yang terlihat mewah. Kemasannya saja memakai kotak kaca. Berbeda dengan jepit rambut lain yang hanya digantung atau dipajang saja. Setelah Naruto melihat harganya, angka yang tertera disana membuat kakinya lemas. 5000 ryo! Padahal jepit rambut biasa harganya 200-300 saja.
"Untuk gadis tadi ya?" goda si penjaga toko. Naruto diam tidak menjawab, tapi pipinya memerah. Sial! Naruto benar-benar merasa sedang berada di tempat yang salah sekarang. Berada diantara anak-anak perempuan dan remaja perempuan yang centil, juga digoda oleh penjaga toko yang cantik.
"Baiklah, akan kuberi diskon, hehe," kata penjaga toko itu, menganggap diam Naruto sebagai jawaban 'ya'.
"Benarkah?" tanya Naruto semangat.
"Iya, setelah diskon harganya jadi 4900 ryo."
"Hah? Sama saja!" keluh Naruto kemudian meninggalkan toko itu.
Flashback End
"APA? Jepit rambut seperti apa mahal begitu? Sudah kubilang, tidak masalah kalau kau beri Hinata hadiah yang sederhana dan murah sekalipun," kata Ino persis guru yang mengomeli muridnya.
"Tapi aku tadi melihat Hinata di toko itu dan kelihatannya dia menyukainya. Aku ingin sekali memberikan itu. Tapi aku hanya punya 1000. Apa kau bisa... pinjamkan aku... uang? Tolonglah," bujuk Naruto dengan tatapan memelas. Ia tidak tahu harus minta tolong siapa lagi.
"Tidak Naruto! Itu mahal sekali, kalaupun aku meminjamimu uang, aku hanya bisa meminjamkan 1500."
"Kau butuh uang Naruto?" tanya Inoichi, ayah Ino yang kebetulan sedang merapikan bunga di ruangan sebelah. Naruto dan Ino kemudian menoleh ke arah suara.
"Inoichi-san?"
Naruto dan Inoichi memang sudah lumayan akrab karena Naruto sudah beberapa kali datang ke rumahnya untuk meminta saran Ino.
"Permintaan bunga akhir-akhir ini banyak sekali. Tapi sayang sekali kami berdua disini tidak bisa memenuhi semua permintaan konsumen karena terbatasnya tenaga kami. Kalau kau mau bekerja sambilan disini selama 2 minggu, mungkin hasil kerja kerasmu akan cukup menutupi sisanya."
"Aku bersedia Inoichi-san! Arigato," kata Naruto tanpa tawar-menawar lagi.
Mulai hari itu setiap hari Naruto bekerja di toko bunga Yamanaka. Yang biasanya toko tutup jam 5 sore, sekarang tutup jam 8 malam. Inoichi sering memperingatkan Naruto agar tidak bekerja terlalu keras. Tapi Naruto memang keras kepala dan mengatakan lebih baik Inoichi dan Ino istirahat saja. Saat bekerja, biasanya Naruto membuat 2 bunshin. Naruto yang asli menjaga kasir, 2 bunshinnya melayani pembeli atau mengantar bunga ke rumah pembeli.
Perjuangan Naruto tidak sia-sia. Permintaan bunga yang dulu tidak terpenuhi sekarang bisa terpenuhi berkat bertambahnya jam buka toko. Otomatis pendapatan toko pun bertambah hampir 2 kali lipat dari biasanya. Karena orang yang membeli bunga di malam hari ternyata banyak juga.
Di hari Minggu Naruto tetap bekerja. Dan karena libur, dia mulai bekerja dari pagi. Hari Minggu ini tepat hari terakhir Naruto bekerja, tapi Naruto tidak membayangkan kalau 'seseorang' akan datang ke toko bunga Yamanaka di saat dia bekerja.
"Selamat datang," kata Naruto ramah saat pintu toko terbuka, tanpa melihat siapa yang datang.
"Naruto-kun?" Begitu menoleh dia kaget melihat Hinata berdiri disana.
'Bisa gawat ini kalau Hinata tahu aku bekerja disini,' pikir Naruto.
"Hinata-chan? A-apa yang kamu lakukan disini?" tanya Naruto gugup.
"Eh? Kalau aku tentu saja akan membeli bunga. Kalau kamu?"
"Um, ano... akuu..." Sialnya, 2 bunshin Naruto masih berada di ruangan sebelah sedang merapikan bunga dan Hinata melihatnya.
"Kamu... Bekerja disini?" tanya Hinata. Ugh, Sekarang Naruto sudah tidak bisa mengelak.
"Ya, be-begitulah. Hehe," jawab Naruto sambil nyengir.
"Wah, bagus. Kamu rajin sekali," puji Hinata. Untunglah Hinata tidak bertanya lebih jauh.
"Ah, tidak juga, hehe. Oh bisa kubantu? Mau beli bunga apa?"
"Bunga tulip," jawab Hinata.
"Baiklah kuambilkan. Naruto, ambilkan bunga tulip!" seru Naruto kepada bunshinnya.
"Siap!" jawab bunshin Naruto, sambil mendekat dan membawa sebuket tulip.
Hinata terkekeh melihat kelakuan bocah pirang yang disayanginya itu. Beberapa saat kemudian Ino datang dari dalam rumah.
"Pagi Hinata-chan, beli bunga seperti biasa ya?" tanya Ino ceria.
"Iya Ino-chan."
"Biasa?" tanya Naruto kepada kedua orang disana.
"Kau tidak tahu? Setiap 2 minggu sekali Hinata selalu kesini membeli bunga tulip untuk ibunya," jelas Ino.
Naruto tahu kalau ibu Hinata sudah meninggal, jadi dia mengerti yang dimaksud Ino adalah Hinata berkunjung ke makam ibunya.
"Biar aku yang jaga toko," kata Ino sambil mendorong Naruto. Mata biru langit Ino bertemu mata biru saphire Naruto seolah mengatakan 'Temani Hinata!' Naruto malah cengo dan menatap Ino bingung seolah bertanya 'Apa maksudmu? Sekarang 'kan jadwalku bekerja!'
Ino yang tidak kuat dengan kebodohan Naruto akhirnya angkat bicara, "Ehem! Naruto, kau temani Hinata ya. Biar aku yang jaga toko." Ino menarik Naruto dengan tangan kirinya dan Hinata dengan tangan kanannya, kemudian mendorong mereka pelan ke luar toko. Akhirnya Naruto mengerti apa maksud Ino.
"Ino-chan lucu ya," kata Hinata sambil tersenyum.
"Begitulah, hehe. Hinata-chan, boleh aku menemanimu menemui ibumu?" tanya Naruto.
"Tentu saja."
"Kalau begitu ayo pergi." Naruto menggenggam tangan Hinata dan membuat gadis itu merona merah. Hinata jadi berterima kasih kepada Ino karena Naruto jadi bisa menemaninya.

Setelah Hinata berdoa dan menyimpan bunga tulip di makam ibunya, mereka terdiam disana. Sejenak menikmati angin di Minggu pagi menjelang siang itu.
"Hinata-chan?" tanya Naruto memecah keheningan diantara mereka berdua.
"Ya?" Hinata menoleh.
"Kamu dekat sekali dengan ibumu ya?"
"Hmm, dekat sekali. Dari kecil aku memang lebih dekat kepada Kaa-san dari pada kepada Tou-san. Berbeda dengan Hanabi, dia justru lebih dekat kepada Tou-san, bahkan Tou-san lebih mempedulikan Hanabi dari pada aku. Tapi meskipun dia tidak pernah mempedulikanku. Aku yakin di lubuk hatinya dia masih menyayangiku."
"Kamu benar, biar bagaimanapun dia ayah kandungmu. Ngomong-ngomong, pasti ibumu cantik sekali."
"Dari mana kamu tahu Naruto-kun?" Hinata sedikit kaget, apa mungkin Naruto sudah tahu wajah ibunya?
"Karena putrinya juga cantik," jawab Naruto tersenyum.
Blush! Kalimat sederhana yang sukses membuat muka Hinata kembali memerah.
"Tapi kamu harus bersyukur karena masih punya ayah, tidak sepertiku," lanjut Naruto. Nada bicaranya berubah sedih. Hinata tahu itu, kemudian dia memberanikan dirinya menggenggam tangan Naruto. Bermaksud menenangkannya. Awalnya Naruto kaget. Seorang Hinata menggenggam tangannya duluan? Itu sangat jarang terjadi! Karena ia tahu Hinata itu pemalu. Tapi Naruto tidak pedulikan itu, yang jelas usaha Hinata menghiburnya telah berhasil. Naruto jadi tidak sedih dan kembali tersenyum.
"Tapi untung saja sekarang aku sudah tahu siapa ayahku," lanjut Naruto.
"Oh ya? Siapa?" tanya Hinata.
"Um... Hokage ke-4."
"Be-benarkah?" Hinata kaget. Tenyata orang yang disukainya adalah anak Hokage ke-4! Pahlawan desa Konoha dan Hokage terhebat yang pernah ada!
"Iya, beberapa waktu lalu aku... aku bertemunya di mimpi," kata Naruto berbohong. Bicara jujur sekarang bukanlah ide bagus kalau ingin rahasianya tetap terjaga.
"Kalau dilihat, kalian memang mirip. Kamu juga harus bersyukur, beliau orang yang hebat dan berjasa bagi Konoha," kata Hinata menghibur Naruto.
"Tou-san memang sangat berjasa. Sekarang aku hanya bisa berharap bisa melihat Kaa-san, orang yang melahirkanku ke dunia ini."
"Tenang saja, aku yakin suatu saat kamu bisa bertemu dengannya, lewat mimpi juga mungkin," hibur Hinata lagi, mengeratkan genggaman tangannya di tangan Naruto.
"Arigato Hinata-chan."
"Sama-sama Naruto-kun."
Setelah dari makam ibu Hinata, Naruto mengantar Hinata pulang. Setelah itu, ia kembali ke toko bunga Yamanaka dan melanjutkan pekerjaannya. Malamnya Inoichi memberikan gaji Naruto selama 2 minggu bekerja. Setelah dihitung, uang miliknya + pinjaman Ino + gajinya, Naruto bisa membeli jepit rambut untuk Hinata.
Sejujurnya, Naruto masih butuh pekerjaan ini karena dia masih harus membayar utangnya kepada Ino. Setelah membujuk Inoichi, Naruto akhirnya diijinkan tetap bekerja disana dengan syarat Naruto tidak terlalu memaksakan dirinya untuk bekerja, dia juga harus mengembalikan jam buka toko ke asalnya. Karena setelah Naruto lulus dari akademi, dia jadi bisa bekerja dari pagi (kalau tidak ada misi), dan itu sudah cukup menurut Inoichi.

Hari kelulusan akademi telah tiba. Kali ini Naruto bisa lulus dengan cara 'normal' karena sudah menguasai jurus kage bunshin.
Pulang dari akademi, Naruto tidak langsung mengajak Hinata pulang, tapi mengajaknya ke taman. Naruto pikir disana tempat yang tepat untuk memberikan hadiah kepada Hinata. Tanpa Naruto ketahui, teman-temannya melihatnya.
"Oy tunggu-tunggu! Chouji ternyata benar Naruto dan Hinata sering berduaan. Lihat itu," kata Kiba.
"Mana? Wah benar. Apa yang mereka bicarakan ya?" tanya Chouji.
"Hei kalian, ayo pulang. Dasar merepotkan." Tapi perkataan Shikamaru tidak digubris kedua temannya. Shikamaru hanya diam bersandar ke tembok, sama sekali tidak tertarik.
"Ah, andai saja punya jurus untuk mendengar dari jarak jauh."
"Apa kita bisa minta tolong kepadanya?" tanya Chouji menunjuk Shino yang berjalan melewati mereka.
"Oy, Shino kesini," kata Kiba.
"Apa?" tanya Shino dingin.
"Suruh seranggamu untuk menguping pembicaraan mereka. Aku penasaran apa yang mereka bicarakan."
"Aku tidak menggunakan jurusku untuk hal aneh," balas Shino masih saja dingin.
"Ayolah," bujuk Kiba.
"Ayolah Shino." Chouji ikut memohon.
"Baiklah, tapi sebentar saja." Akhirnya Shino mengalah. Kemudian dia mengeluarkan dua serangganya, satu diantaranya disuruh mendekati Naruto, dan satu lagi tetap di dekat mereka. Nantinya serangga satu akan mendengar percakapan Naruto-Hinata dan menyampaikannya ke serangga dua yang berada di dekat Kiba dkk. Shino akan menerjemahkan apa yang serangga dua katakan.
Sementara itu di taman...
Naruto kembali mengingat-ngingat saran Ino. Awali dengan rayuan atau pujian sebelum memberikan hadiah. Kemudian Naruto mempraktekkan rayuan yang dia pelajari dari buku.
"Hinata, bapak kamu suka bertarung ya?" tanya Naruto.
"Kok tahu?" tanya Hinata bingung, kemana arah pembicaraan Naruto sebenarnya?
"Karena kau telah memukul-mukul hatiku." Pipi putih Hinata mulai memerah. Tapi disaat yang bersamaan Hinata sweat drop. Seandainya ini komik, maka akan ada sebuah butiran keringat yang besar di belakang kepala Hinata.
Tawa langsung saja bergema beberapa blok dari Naruto dan Hinata berada.
"Buahahahahhaaaaa! Apa-apaan itu?" kata Kiba tidak kuat menahan tawanya saat mendengar terjemahan dari serangga dua yang disampaikan oleh Shino. Karena jarak yang cukup jauh, Naruto tidak mendengar tawa Kiba. Chouji juga tidak kalah terpingkal disana.
"Hei, apa yang kalian lakukan?" tanya Ino yang tiba-tiba muncul dibelakang Kiba.
"Lihat itu Ino," kata Chouji menunjuk Naruto dan Hinata. Ino sebenarnya tidak mau ikut-ikutan, tapi insting tukang gosipnya muncul sehingga membuatnya tetap disana. Ia bersandar di tembok dekat Shikamaru dan diam-diam ikut mendengarkan Shino.
Kembali ke Naruto dan Hinata...
"Hinata, bapak kamu galak ya?" tanya Naruto lagi.
"Kok tahu?"
"Karena kamu telah membentak-bentak hatiku."
"Buahahahahahaa..." Kiba kembali tertawa, kali ini semakin keras, begitu juga dengan Chouji. Shikamaru dan Ino sweat drop. Sedangkan Shino susah payah menahan tawanya.
Ino menyimpan tangannya di pelipisnya. 'Tampaknya aku harus bekerja lebih keras dalam membimbing Naruto,' batinnya. Ino pikir kalau Naruto dari masa depan, harusnya sekarang umurnya 16 tahun, dan merayu perempuan harusnya bisa lebih baik dari itu. Tapi sekarang Ino tahu, Naruto memang sangat lemah di bidang percintaan.
Shino mulai tidak tahan dan memutuskan untuk pergi "Aku pergi!"
"Hei, Shino, kenapa pergi? Sebentar lagi bagian paling seru," kata Kiba.
"Aku tidak mau menganggu privasi orang lain." Kiba dan Chouji terdiam disana. Tampaknya Shino sudah bisa berpikir lebih dewasa dibanding dua orang itu.
Kembali ke Naruto dan Hinata...
Hinata tertawa kecil mendengar rayuan Naruto. Tidak biasanya Naruto seperti ini.
"Kenapa tertawa Hinata-chan? Ada yang salah?" tanya Naruto polos.
"Bu-bukan, hanya saja..."
"Tidak suka ya?" potong Naruto. "Padahal Ino bilang perempuan itu suka dirayu."
"Jadi kamu melakukan ini karena saran dari Ino?" tanya Hinata. Naruto mengangguk. Sekarang masuk akal bagi Hinata. Rupanya Naruto melakukan saran yang diberitahu Ino.
"Ano, Na-Naruto-kun..." Hinata memberanikan diri menatap mata saphire Naruto. "Kamu tidak perlu melakukan ini."
"..." Naruto malah bingung. Bukannya Ino bilang perempuan itu suka dirayu?
"Kamu tidak perlu jadi orang lain hanya untuk menyenangkanku. Lebih baik kamu jadi diri sendiri saja, tidak dibuat-buat. Aku suka kamu yang polos dan apa adanya," kata Hinata jujur.
"Eh? Kamu suka... aku?"
"Um, maksudku..." Kali ini Hinata panik, ia salah memilih kata. Tapi tadi kata 'suka' itu seperti keluar tiba-tiba dari mulutnya. Melihat muka Hinata yang sudah merah padam itu, Naruto jadi tidak tega untuk mendesak Hinata. Ia tidak mau Hinata pingsan disana sebelum ia memberikan hadiahnya.
"Lupakan itu Hinata. Aku punya sesuatu untukmu," kata Naruto mengeluarkan sebuah kotak berwarna lavender, kemudian memberikannya kepada Hinata.
"Apa ini?"
"Buka saja."
Kemudian Hinata membuka kotak berwarna lavender itu. Di dalamnya ada kotak kaca dan di dalam kotak kaca itu ada sepasang jepit rambut yang 2 minggu lalu dicobanya di toko aksesoris. Mata lavender Hinata melebar melihat isi kotak itu.
"I-Ini..."
"Kamu suka?" tanya Naruto ragu, karena melihat Hinata yang tidak bereaksi.
"I-iya. Suka sekali," jawab Hinata menahan mukanya yang mulai memanas.
"Waktu itu aku melihatmu memakainya di toko aksesoris dan... kelihatan cocok sekali untukmu."
"Apa... ti-tidak apa-apa? Harganya 'kan mahal."
"Tidak apa-apa, tenang saja."
"Um, jangan-jangan kamu bekerja di toko bunga Yamanaka untuk membeli ini ya?" tanya Hinata.
"Hehe, ketahuan." Naruto menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Arigato Naruto-kun."
"Sama-sama. Sini aku pasangkan." Naruto mengambil satu jepit rambut dari kotak itu, kemudian bergeser, merapat mendekati Hinata dan menyelipkan jepit itu di rambut Hinata. Jantung Hinata berdetak 2X lipat lebih cepat. Dengan jarak sedekat ini, dengan wajah Naruto yang hanya berjarak beberapa cm saja dari wajah Hinata, Hinata bisa dengan jelas merasakan hembusan napas Naruto. Dengan susah payah Hinata mengatur napasnya agar tidak pingsan.
'Apa ini mimpi? Tolong jangan pingsan Hinata! Jangan pingsan disaat yang membahagiakan seperti ini!' batin Hinata.
"Cocok sekali untukmu," kata Naruto saat jepit berwarna lavender cerah itu terpasang di rambut indigo pendek Hinata.
"A-arigato," kata Hinata malu-malu.
Setelah memakaikan jepit rambut itu, Naruto mengantarkan Hinata pulang. Tentunya dengan rasa bahagia yang terlukis di wajah keduanya.

Sampai Naruto kembali dari rumah Hinata, Kiba dan yang lain masih belum beranjak dari tempat mereka.
"Rayuan apa tadi? Haha. Naruto-kuuun, bapak kamu pelawak ya, karena kau telah membuatku tertawa puas. Hahaha." ejek Kiba saat Naruto mendekati mereka.
"Hahaha." Chouji ikut tertawa disana.
"Berisik!" bentak Naruto. Sebenarnya Naruto kaget dan malu juga, berarti dari tadi Kiba melihatnya bersama Hinata. Tapi Naruto sudah tidak heran dengan kelakuan jahil Kiba kepadanya. Dia juga sudah tidak peduli apa kata orang tentang kedekatannya dengan Hinata. Malahan sudah hampir semua teman-temannya tahu kalau Naruto dan Hinata itu sudah dekat.
"Chouji, ayo pulang," kata Shikamaru.
"Sampai ketemu besok teman-teman." Chouji bergabung bersama Shikamaru dan berlalu sambil melambaikan tangannya.
Sekarang tinggal bertiga, Naruto, Kiba dan Ino yang juga mulai melangkahkan kaki mereka menuju rumah masing-masing. Kebetulan arah rumah mereka memang searah.
"Kiba, aku ingin bicara serius denganmu, berhentilah tertawa," kata Naruto di tengah perjalanan pulang mereka.
"Bicara apa?" tanya Kiba.
"Saat Hinata satu tim denganmu, aku ingin kau menjaganya untukku." Kata-kata Naruto terdengar serius.
"Eh? Pembagian timnya 'kan besok. Dari mana kau tahu Hinata akan satu tim denganku?" tanya Kiba. Ino terkekeh pelan mendengar pertanyaan Kiba.
"Jangan banyak tanya. Turuti saja kata-kataku."
"Iya-iya cerewet," jawab Kiba sambil berbelok di pertigaan menuju rumahnya.
Saat tinggal Naruto dan Ino, Ino menjitak kepala Naruto.
"Baka! Aku menyuruhmu merayu, tapi bukan rayuan gombal seperti itu!"
"A-aku tidak tahu harus bagaimana." Naruto memegang kepalanya yang dijitak Ino. "Tapi Hinata bilang dia lebih suka aku apa adanya."
"Hah? Baguslah kalo gitu. Kau jadi tidak perlu repot."
"Ya. Oh satu lagi, arigato Ino. Saranmu memang bagus. Hinata sangat menyukai hadiahnya."
"Tidak juga, yang memilih 'jepit rambut mahal' itu 'kan kau sendiri."
"Tapi tetap saja kau yang memberiku saran."
"Iya, iya sama-sama. Ngomong-ngomong aku heran padamu. Kau menyukai Hinata, kau juga tahu Hinata menyukaimu, dan sudah 4 bulan kalian dekat. Kenapa tidak kau nyatakan cintamu saja?"
Naruto tersentak. Mukanya memerah sekarang. Memang benar apa kata Ino. Tapi memikirkan dirinya menyatakan cinta kepada Hinata membuat jantungnya berdetak makin kencang. Sial! Naruto memang belum terbiasa dan berpengalaman dalam hal ini.
"A-aku akan lakukan da-dalam waktu dekat. Tapi aku juga tidak bisa egois. Ada hal yang tidak kalah penting. Lihat ini, ini rencanaku." Naruto mengeluarkan selembar kertas.
Disana tertulis:
MISI 1: Menyelamatkan Hokage Ke-3.
MISI 2: Mencegah Sasuke pergi dari Konoha.
MISI 3: Menyelamatkan Asuma-sensei.
MISI 4: Mencegah Jiraiya melawan Pain.
MISI 5: Menyelamatkan penduduk dari Pain saat Konoha diserang.
Di tiap-tiap misi dijelaskan rincian misi dan apa saja yang harus dilakukan.
Melihat rencana Naruto yang begitu matang, Ino jadi tahu sisi dewasa Naruto. Ia jadi kembali yakin kalau Naruto memang benar berasal dari masa depan. Disamping kemampuan di bidang percintaannya yang payah, Naruto tetap punya kelebihan di bidang lain.
Ino memperhatikan kertas itu baik-baik. "Tidak ada yang berhubungan dengan Hinata?" tanya Ino.
"Itu tidak perlu ditulis, saking pentingnya, sudah tertempel di otakku. Hehe." Naruto mengatakan itu sambil menunjuk kepalanya.
"Hm... Tapi menurutku saat ujian Chuunin kau bisa menyatakan cintamu padanya, kulihat kalian sangat dekat saat itu."
Pipi Naruto kembali memerah. Ah, dia jadi mirip Hinata sekarang. Kata-kata Ino seolah mengingatkan Naruto pada kejadian-kejadian saat ujian Chuunin. Ino benar, Naruto dan Hinata memang sempat dekat waktu itu. Dan menyatakan cinta kepada Hinata saat ujian Chuunin adalah ide bagus.
"Arigato Ino. Akan kuusahakan," lanjut Naruto sambil nyengir lebar.
"Semoga berhasil. Kalau perlu bantuanku, bilang saja oke?"
"Ya. Baiklah, sampai jumpa."
Naruto melambaikan tangannya kemudian berbelok menuju ke apartemennya.
Ino memandang Naruto yang semakin menjauh. 'Aku percaya padamu Naruto. Aku yakin kau bisa mengubah masa depanmu, masa depan Hinata, dan juga masa depan kami.'

Hari ini pembagian tim dan hari terakhir di akademi. Naruto mendengar pengumuman pembagian tim dengan malas. Begitu juga dengan Ino yang terlihat menopang dagunya, tidak tertarik dengan pengumuman yang Iruka-sensei sampaikan karena sudah tahu isinya. Berbeda dengan anak-anak lain yang heboh terutama Sakura yang satu tim dengan Sasuke (dengan Naruto juga).
"Naruto-kun? Kenapa?" tanya Hinata yang terlihat khawatir disamping Naruto.
"Tidak apa-apa, aku hanya kecewa saja karena tidak bisa satu tim denganmu, hehe," jawab Naruto sambil tersenyum.
"Oh." Hinata membalas senyuman Naruto. 'Aku juga inginnya satu tim dengan Naruto-kun, pasti menyenangkan,' batin Hinata.
"Hei Hinata-chan, nanti sebelum aku mengantarmu pulang, kita ke kedai ramen ya? Biar bagaimana pun ini hari terakhir kita pulang dari akademi bersama. Setelah ini kita pasti akan banyak mendapat misi dan akan jarang bertemu, aku pasti akan merindukan saat-saat seperti ini."
"Iya, aku mau."
Sepulang dari akademi Naruto dan Hinata mampir ke Ichiraku Ramen. Keduanya sudah memesan ramen. Tapi tidak seperti biasanya, sudah setengah jam berlalu tapi ramen milik Naruto masih setengah mangkuk. Padahal Hinata yang makannya pelan-pelan saja sudah tinggal sedikit lagi. Biasanya Naruto hanya butuh waktu kurang dari 5 menit untuk menghabiskan semangkuk ramen. Tapi kali ini Naruto tidak ingin tergesa-gesa. Ia ingin menikmati kebersamaannya dengan Hinata.
"Hinata-chan, sekarang terakhir kita pulang bersama dari akademi..." kata Naruto disela makannya. Hinata menoleh dan menunggu Naruto melanjutkan kalimatnya.
"Apa... setelah ini aku masih boleh menemuimu Hinata-chan?" tanya Naruto ragu. Sejujurnya dari kemarin Naruto memikirkan hal ini. Lulus dari akademi berarti kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama Hinata semakin sedikit. Apalagi setelah dibagi tim, akan ada banyak misi yang membuat mereka semakin sulit bertemu. Kalau boleh memilih, Naruto ingin terus di akademi dan terus bersama Hinata. Tapi dia tahu itu tidak mungkin.
Naruto menunggu jawaban Hinata dengan harap-harap cemas.
"Tentu saja," jawab Hinata. Muka Naruto berubah cerah saat itu juga.
"Aku tidak mau hanya karena kita sudah lulus, kita jadi jarang bertemu," tambah Hinata sambil menunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya yang mulai muncul.
"Baiklah, di setiap waktu luang atau disela misi kita akan bertemu. Aku akan menemuimu di rumahmu."
"Eh? Memangnya tidak takut bertemu Tou-san?" tanya Hinata.
"Oh benar juga. Haha."
"Hehe. Kalau begitu kita bertemu di tempat latihan saja seperti biasa."
"Iya."
"Hinata!" Seseorang memaggil Hinata dari luar kedai.
"Kiba-kun? Ada apa?" Ternyata yang memanggil Hinata itu Kiba.
"Kurenai-sensei menyuruh kita untuk segera berkumpul."
"Baiklah. Um, aku duluan ya Naruto-kun."
"Iya, hati-hati Hinata-chan. Oy Kiba!" Kiba menoleh mendengar teriakan Naruto. "Jangan lupa pesanku."
"Iya cerewet!" teriak Kiba.
Naruto berbalik memandang mangkuk ramennya, kemudian menghela nafas.
'Baiklah saatnya serius, ujian Chuunin tinggal sebulan lagi. Disanalah kekacauan dimulai. Aku harus mencegah agar Hokage ke-3 tidak meninggal dan Orochimaru tidak menggigit Sasuke. Aku harus berlatih keras mulai sekarang. Disaat semuanya berhasil kutangani, semoga aku bisa fokus padamu Hinata-chan dan bisa menyampaikan perasaanku ini padamu. Yosh! Misi segera dimulai!' teriak Naruto dalam hati, kemudian diseruputnya setengah mangkuk ramen yang dari tadi dia acuhkan.
To Be Continue...



Chapter 6
-Permintaan Terakhir-
Normal POV
"Naruto-kun, istirahat dulu," seru Hinata.
"Sebentar lagi," jawab Naruto tanpa menghentikan latihannya dengan puluhan clone di sekelilingnya.
Itu kedua kalinya Hinata menyuruh Naruto untuk istirahat. Tapi jawaban yang didapat Hinata sama saja. Mereka berdua sekarang sedang berada di tempat yang sering mereka jadikan tempat latihan. Tempat itu adalah tempat yang Naruto temukan saat mengajak Hinata bolos beberapa bulan lalu. Letaknya tidak jauh dari patung Hokage. Tempatnya memang bagus untuk latihan. Sepi dan jarang sekali ada orang yang lewat kesana. Di sebelah selatannya ada sungai kecil, sementara di sebelah timur ada beberapa pohon besar yang bisa digunakan untuk berteduh dan mengistirahatkan badan setelah berlatih.
Setengah jam kemudian Naruto menghentikan latihannya dan mendekati Hinata yang berada di dekat pohon. Sebenarnya Hinata juga latihan, tapi beristirahat lebih dulu dari Naruto, bahkan dia sudah menghabiskan bekal makanannya dari tadi.
"Kenapa akhir-akhir ini kamu latihan keras sekali Naruto-kun?" tanya Hinata. Naruto kemudian duduk di depan Hinata.
"Oh, itu... Um, agar aku lebih kuat, aku 'kan ingin jadi Hokage suatu hari nanti," jawab Naruto sambil mengepalkan tangannya semangat.
Faktanya adalah Naruto berlatih keras agar saat ujian Chuunin, dia bisa mencegah Orochimaru menggigit Sasuke. Sebenarnya seminggu terakhir ini Naruto mulai khawatir. Ia ragu karena dengan kemampuannya yang sekarang, sangat mustahil mengalahkan Orochimaru. Seberapa keraspun dia latihan, dia tetap tidak bisa mengeluarkan semua kemampuannya dengan maksimal. Pernah dia mencoba mempraktekan rasengan tapi hasilnya nihil, jurus itu tidak keluar sama sekali dari tangannya. Tampaknya dia perlu mengulang belajar rasengan dengan metode bertahap seperti yang Jiraiya ajarkan dulu. Tapi itu tidak membuatnya patah semangat, ia malah semakin keras berlatih.
"Tapi tidak baik kalau kamu berlatih terlalu keras begini," kata Hinata terlihat khawatir.
"Hee? Kamu mengkhawatirkanku ya? Hehe." Naruto tersenyum menggoda Hinata.
"Umm.." Hinata menyembunyikan rona merah di wajahnya, kemudian mengalihkan pembicaraan dengan mengeluarkan bekal dari tasnya. "Aku membawa bekal untukmu. Makanlah."
Bekal yang dibawa Hinata berupa nasi yang dibentuk seperti wajah Naruto dengan lauk dan sayuran di sisi-sisinya.
"Wah, mirip dengan wajahku. Aneh juga, aku seperti memakan diriku sendiri," kata Naruto, tapi akhirnya dia memakannya juga.
Hinata tersenyum dan memandang Naruto, memperhatikan ekspresi wajah Naruto saat memakan bekal buatannya. Ia takut bekal buatannya tidak enak. "Ba-bagaimana Naruto-kun? Apa rasanya... enak?"
"Enak. Kamu pasti akan jadi istri yang baik suatu saat nanti," kata Naruto sambil tersenyum. Entah kenapa dia merasa pernah mengucapkan kalimat itu sebelumnya.
Naruto memang suka sekali menggoda Hinata, mendengar kata-kata Naruto wajah gadis itu langsung merona hebat. "Eh? Istri yang baik?" kata Hinata pelan, ia memainkan jari-jarinya menahan rasa gugupnya. Naruto masih sibuk dengan makanannya, tidak mempedulikan Hinata yang hampir pingsan didepannya.
"Hinata-chan, kamu sudah daftar ujian Chuunin?" tanya Naruto saat selesai makan.
"Iya. Kenapa?"
"Aku hanya khawatir padamu. Peserta ujian Chuunin itu kuat-kuat." Naruto memandang langit, mengingat-ngingat ujian Chuunin dulu. Terutama saat Hinata melawan Neji.
"Tenang saja, kamu 'kan sudah mengajariku selama ini," kata Hinata tersenyum menenangkan.
"Tetap saja..." Naruto menunduk, mengalihkan pandangannya dari langit yang biru ke hamparan rumput hijau di depannya.
"Naruto-kun?" Naruto tidak merespon, pikirannya terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara membuat Hinata mengalah dan tidak melawan Neji saat ujian Chuunin nanti. Akhirnya mereka berdua malah terdiam disana. Hanya suara daun-daun rimbun di atas mereka yang terdengar karena tertiup oleh angin.
"Hinata-chan..." kata Naruto memecah keheningan.
"Ya?"
"Bagaimana kalau seandainya kamu harus melawan Neji di ujian Chuunin nanti?" tanya Naruto tiba-tiba, Hinata yang mendapat pertanyaan itu langsung kaget. Sejujurnya Hinata tidak pernah membayangkan kalau dia harus melawan sepupunya.
"Neji-Niisan? Um..." Hinata terlihat berpikir keras.
"Aku tidak ingin melihatmu terluka Hinata-chan," kata Naruto tanpa menunggu jawaban Hinata. "Jadi, seandainya nanti kamu harus melawan Neji, jangan memaksakan dirimu."
Hinata sebenarnya tidak terlalu mengerti kenapa Naruto mengatakan hal itu padahal ujiannya saja masih seminggu lagi. Tapi Hinata tetap mengangguk dan membuat bocah pirang itu kembali bersemangat.
"Baiklah, ayo kita latihan lagi! Kamu harus mengalahkan 20 clone-ku dalam waktu 30 detik!"
"Hai!"

Tibalah waktunya ujian Chuunin. Ujian tertulis terlewati dengan lancar karena Naruto sudah tahu semuanya. Mulai dari rahasia yang mengharuskan para peserta untuk mencontek menggunakan jurus ninja mereka, sampai rahasia dibalik soal nomor 10 di ujian tertulis itu. Sehingga Ibiki di masa sekarang kembali dibuat geleng-geleng kepala karena Naruto bisa lulus tanpa mengisi satu jawaban pun di kertas ujian.
Saatnya berlanjut ke hutan kematian. Disinilah bagian yang membuat Naruto kembali khawatir kepada Hinata. Terutama teror dari Gaara yang di masa sekarang masih jahat dan dipenuhi dengan aura kebencian.
"Hinata-chan berhati-hatilah, terutama pada ninja pasir itu," kata Naruto memandang Gaara. Hinata mengikuti arah pandangan Naruto.
"Baiklah, Naruto-kun juga hati-hati."
"Oy, Naruto! Cepat kesini, sebentar lagi kita masuk," teriak Sakura yang sudah berada di dekat gerbang masuk.
"Iya, sebentar!" balas Naruto, kemudian Naruto memegang kedua pundak Hinata. "Ingat kata-kataku, jangan paksakan dirimu."
"Iya."
"Cepat Naruto!"
"Aku datang Sakura-chan!"

BUGHH! BRUKH!
Naruto terlempar ke tanah dengan keras. Naruto sudah hampir mencapai limit kekuatannya tapi Orochimaru masih berdiri tegak disana. Ini di luar prediksinya. Sakura pingsan dan Sasuke berdiri tak jauh darinya, ia juga terlihat sudah kehabisan stamina. Ternyata seberapa kuatpun Naruto berlatih, Orochimaru bukanlah tandingannya. Levelnya berada terlalu jauh di atasnya. Andai saja dia sudah bisa memakai rasen shuriken atau sage mode sekarang, pasti akan mudah mengalahkan Orochimaru. Ugh, jangankan itu, rasengan biasa saja dia belum menguasainya.
Naruto bangun dan mengusap darah di dagunya kemudian mendekati Sasuke.
"Sasuke, dengarkan aku. Aku tahu kau tidak suka padaku tapi untuk kali ini aku ingin kita bekerja sama. Kita memang tidak mungkin mengalahkannya, tapi paling tidak jangan biarkan dia mengigitmu."
Sasuke terlihat bingung dengan kata-kata Naruto.
"Percayalah padaku dia itu sangat berbahaya. Kekuatannya jauh di atas ki..."
DZIGHHH!
Kata-kata Naruto terpotong oleh pukulan telak Orochimaru di pipinya. Naruto terlempar jauh ke belakang, tapi sebelum dia bangun Orochimaru sudah mencekik lehernya dan menekan Naruto ke pohon.
"Kenapa kau jadi banyak bicara bocah? Hmm.. Tak kusangka kemampuanmu boleh juga." Orochimaru memperkuat cekikannya di leher Naruto.
"Uhuk, uhuk..."
BUAKHHH!
Sasuke menendang perut Orochimaru membuat pegangannya ke leher Naruto terlepas.
"Kali ini aku akan bekerja sama denganmu Dobe."
Naruto tersenyum kemudian berdiri dan bergabung bersama Sasuke. Dengan serangan kombinasi mereka berdua, Orochimaru mulai kewalahan.
Orochimaru yang terdesak menyadari kalau Naruto telah menghalangi rencananya. Entah kenapa dia merasa Naruto sedikit aneh dan sepertiya Naruto mengetahui rencananya. Orochimau tidak mau rencananya berantakan, Naruto harus disingkirkan terlebih dahulu.
Kemudian serangan Orochimaru mulai fokus kepada Naruto, setiap Sasuke menghalanginya dia akan menendang atau menjauhkan Sasuke. Ia tidak segan untuk menghabisi Naruto. Tentunya menghabisi Naruto adalah perkara mudah baginya. Dengan serangan yang terus-menerus diarahkan padanya, Naruto kehabisan chakra dan akhirnya terkapar disana.
Sekarang tinggal Sasuke melawan Orochimaru. Sasuke memakai kawat untuk menjebak Orochimaru di pohon. Orochimaru yang tidak menduga serangan itu terikat disana. Sasuke kemudian mengeluarkan jurus api dan membakar Orochimaru. Tapi Sasuke kaget karena serangannya tidak berarti bagi pria ular tersebut. Orochimaru memuji Sasuke karena di umur yang masih muda dia bisa sehebat ini. Setelah itu Orochimaru memanjangkan lehernya dan mengigit Sasuke.
"Sasuke!" Terlambat, Orochimaru telah berhasil mengigit leher Sasuke.
Naruto hanya bisa memandang dari kejauhan dan mengutuk dirinya karena tidak bisa melindungi Sasuke.
'Maafkan aku Sasuke...'

Pada babak kedua ujian Chuunin ini, Team 7 berhasil mengumpulkan 2 gulungan atas bantuan Kabuto (Naruto tidak membongkar identitasnya karena ia memanfaatkan Kabuto agar membantunya mengumpulkan gulungan) dan lolos ke babak selanjutnya.
Naruto masih memikirkan kegagalannya menyelamatkan Sasuke. Orochimaru terlalu kuat untuknya, ia tidak bisa mengalahkannya sendiri. Kemudian ia teringat pada Hokage Ke-3, dan memutuskan untuk memberitahu rencana Orochimaru kepadanya.
Seperti sebelumnya, Hokage Ke-3 kembali mengacuhkannya padahal kali ini Naruto sudah meminta bantuan Ino untuk ikut menjelaskan. Ino sempat menawarkan untuk memberitahu ayahnya dan Divisi Introgasi agar pikirannya dibaca dan Hokage percaya. Tapi Naruto menolak karena itu skalanya terlalu besar. Akan mengundang kepanikan dan takut Hinata tahu, seperti yang sering dia bilang sebelumnya. Naruto kemudian menyuruh Ino kembali ke tempat pertandingan dan mengatakan kalau dia akan bicara berdua saja dengan Hokage Ke-3. Ino awalnya ragu tapi memutuskan untuk mempercayai Naruto.
"Ojii-san."
"Ada apa lagi? Sudah kubilang aku tidak percaya pada ocehan-ocehanmu," kata Hokage Ke-3.
"Sekarang aku tidak menyuruhmu untuk mempercayaiku. Aku hanya mau bilang aku sudah memperingatkanmu, jadi... berhati-hatilah. Dan aku ingin kita bisa bertemu lagi setelah ujian Chuunin ini berakhir. Jangan mati Hokage-sama..." Naruto membungkuk hormat kepada Hokage Ke-3.
Hokage Ke-3 menatap Naruto heran. Baru kali ini Naruto memanggilnya 'Hokage-sama' dan membungkuk menghormatinya. Pasti ada sesuatu yang serius sampai-sampai membuat Naruto melakukan hal itu.
"Kita lihat saja nanti," kata Hokage Ke-3.
Naruto tersenyum kemudian meninggalkannya dan menuju ke tempat pertandingan.

"Hyuuga Neji VS Hyuuga Hinata!" kata wasit, membacakan peserta pertandingan selanjutnya.
"Hinata-chan, ingat pesanku, kamu tidak..." Kata-kata Naruto terputus saat melihat Hinata tidak ada disampingnya. Di luar dugaan, Hinata sudah turun ke arena pertandingan.
"Hinata-chan apa yang kamu lakukan? Berhenti! Menyerah saja!" teriak Naruto, tapi Hinata tidak mempedulikan kata-katanya. Naruto yang semakin khawatir menaiki pagar dan bermaksud melompat ke arena pertandingan untuk mencegah Hinata sebelum Kakashi mencegahnya.
"Naruto! Hentikan! Kalau kau turun kesana, kau bisa didiskualifikasi!" seru Kakashi.
"Tapi kalau dibiarkan dia bisa terluka parah!" kata Naruto. Raut wajahnya panik sekali sekarang.
"Tapi itu kehendaknya!" balas Kakashi.
"HINATAA-CHAANNN!"

BUKHHH!
Bersamaan dengan itu Neji melancarkan pukulan terakhirnya kepada Hinata dan membuat gadis itu terlempar. Darah segar keluar dari mulut Hinata. Badannya sudah tidak berdaya sekarang. Wasit yang melihat keadaan langsung menyatakan Neji sebagai pemenang.
Tanpa pikir panjang, saat itu juga Naruto melompat ke arena pertandingan. Dipeluknya tubuh tak berdaya Hinata. Dua kali Naruto menyaksikan kejadian ini. Tapi kali ini, hatinya terasa begitu sakit saat melihat Hinata terluka parah. Kenapa Hinata begitu keras kepala dan tidak mempedulikan kata-katanya?
"Ke-kenapa Hinata-chan? Sudah kubilang kamu menyerah saja..." kata Naruto bergetar. Dipeluknya kembali tubuh itu semakin erat.
"Sudah kubilang, orang lemah tetaplah orang lemah. Mereka tidak bisa berubah!" kata Neji sinis. Naruto menatapnya tajam.
"Naruto, Hinata harus segera mendapat perawatan medis," kata Kurenai sambil menepuk pundak Naruto. Naruto mengerti kemudian melepas tubuh Hinata. Ditatapnya gadis yang disayanginya itu sebelum para petugas medis membawanya ke rumah sakit.
Kemudian tatapan Naruto kembali berpaling ke Hyuuga lain yang berdiri tegak disana. Kedua tanngannya mengepal kuat. Naruto benci melakukan ini. Meskipun dia sudah lama memaafkan Neji. Tapi melihat dia menyiksa Hinata seperti ini, Naruto jadi tidak bisa memaafkannya. Naruto membungkuk dan diusapnya darah Hinata yang menggenang.
"Tarik kata-katamu tadi! Aku bersumpah akan mengalahkanmu Neji!" kata Naruto mengarahkan kepalan tangannya ke hadapan Neji.

Pletak!
Sebuah kerikil beradu dengan kayu kemudian terpental. Tak jauh dari sana Naruto sedang mondar-mandir tidak jelas. Sesekali dia menendang kerikil yang ada di tanah. Pertandingannya melawan Neji akan berlangsung sebentar lagi, tapi sekarang ini dia masih menunggu Hinata. Kalau tidak salah Hinata akan menemuinya sesaat sebelum pertandingannya melawan Neji. Sejujurnya sejak sebulan lalu (sebelum Naruto berlatih bersama Jiraiya untuk menguasai jurus Kuchiyose) Naruto ingin sekali menjenguk Hinata ke rumah sakit, tapi saat itu perawatnya bilang Hinata belum bisa dijenguk. Dan saat dia kembali dari latihan, tidak ada waktu lagi untuk menjenguk Hinata. Karena itu, dia berharap Hinata akan muncul sekarang. Meskipun dia tahu Hinata akan baik-baik saja, tapi hati Naruto tidak tenang. Ia ingin melihat Hinata sebelum pertandingannya dimulai.
"Na-Naruto-kun..."
Naruto menoleh ke arah suara dan menemukan gadis yang dari tadi ditunggunya. Tanpa ragu Naruto menghambur memeluk gadis itu. Membuat gadis lavender itu kaget dengan reaksi Naruto yang tiba-tiba. Mati-matian Hinata menahan dirinya agar tidak pingsan. Jantungnya berdetak menggila, mukanya sudah sangat merah seolah semua darahnya mengalir ke kepalanya.
'Jangan pingsan Hinata! Tahan dirimu!' batin Hinata dalam hati. Ini kedua kalinya Naruto memeluknya dan dia tidak mau dia pingsan seperti sebelumnya. Ini momen yang sangat jarang terjadi dan dia tidak boleh mengacaukannya.
Setelah beberapa saat Naruto melepas pelukannya. Ada sedikit rasa kecewa di hati Hinata saat Naruto melepas pelukannya.
"Hinata-chan? Kamu tidak apa-apa?" tanya Naruto.
"Ti-tidak, aku sudah lama keluar dari rumah sakit. Sekarang a-aku sudah sehat," jawab Hinata. Ia masih berusaha mengatur nafasnya yang tidak beraturan.
"Baka!" bentak Naruto.
"Eh?" Hinata kaget karena Naruto membentaknya.
Kemudian Naruto memegang kedua pundak Hinata. Pandangan Naruto melembut. "Aku menghawatirkanmu Hinata-chan. Sudah kubilang kamu menyerah saja waktu itu."
"A-aku hanya ingin membuktikan hasil latihanku," kata Hinata pelan, menunduk merasa bersalah.
"Tidak usah, kamu hanya membuatku khawatir."
Hinata akhirnya menyadari kalau Naruto ternyata sangat mengkhawatirkannya. Menyadari itu membuatnya merasa senang tapi merasa bersalah disaat yang bersamaan.
"Gomen, Naruto-kun," kata Hinata masih saja menunduk.
"Um.. Sudahlah jangan dipikirkan. Sekarang aku harus segera bertarung dengan Neji. Aku duluan ya, kamu juga cepat ke arena pertandingan agar bisa melihatku mengalahkan Neji," kata Naruto sambil tersenyum. Hinata mengangguk. Bersamaan dengan itu Naruto berlari ke arah arena pertandingan.

Tap-tap-tap! Naruto melompat dari dahan pohon ke dahan pohon lainnya. Ia berlari sekuat tenaga untuk kembali ke desa. Neji sudah dikalahkan, invasi Orochimaru sudah berhasil digagalkan, dan Gaara juga telah berhasil dikalahkannya. Dan hal yang mengganggu pikirannya sekarang adalah Hokage. Dia ingin segera sampai di desa dan mengetahui keadaan Hokage Ke-3.
Saat sampai di gerbang Konoha, dia melihat Ino.
"Ino, apa Hokage Ke-3 selamat?" tanya Naruto khawatir.
"Tenang. Dia tidak apa-apa," jawab Ino sambil tersenyum.
"Fiuh. Syukurlah." Naruto menghela nafas lega. Perjuangannya tidak sia-sia.
"Apa yang kau bilang pada Hokage Ke-3 waktu itu?"
"Itu tidak penting, haha."
"Ah kau ini. Ngomong-ngomong selamat ya, misi pertamamu berhasil."
"Ya, tapi tetap saja aku gagal mencegah Orochimaru menggigit Sasuke." Wajah Naruto berubah murung, biar bagaimanapun Sasuke itu sahabat yang sudah dianggap seperti saudara olehnya.
"Sudah jangan murung begitu, paling tidak Sasuke masih di Konoha. Kau masih bisa berusaha mencegahnya pergi."
Ino ada benarnya, kalau Hokage Ke-3 saja bisa selamat. Seharusnya mencegah Sasuke juga bisa berhasil kalau Naruto mau berusaha. Dia hanya tinggal mengalah saat Sasuke mengajaknya bertarung di atap rumah sakit. Dengan begitu Sasuke tidak akan iri pada kekuatan Naruto.
"Na-Naruto-kun." Hinata berlari tergesa-gesa mendekati Naruto dan Ino.
"Aku pulang ya, aku tidak mau Mengganggu kalian berdua. Asal tahu saja Naruto, dari tadi Hinata mencarimu," kata Ino sambil menatap Hinata, menggoda gadis pemalu itu.
"Ino-chan.." Hinata yang digoda begitu tentu saja malu dan menundukkan kepalanya.
"Hehe, gunakan kesempatanmu dengan baik Naruto," kata Ino menepuk punggung Naruto cukup keras sambil berlalu meninggalkan mereka berdua. Naruto tahu apa maksud Ino, dia menyuruhnya menyatakan cintanya kepada Hinata sekarang.
"Apa benar kamu mencariku?" tanya Naruto kepada Hinata, basa-basi sebelum ke pembicaraan inti.
"I-iya," jawab Hinata gugup.
"..." Hening. Entah kenapa jantung Naruto jadi berdetak kencang. Dia belum pernah menyatakan cinta sebelumnya. Ini pertama kali baginya. Ia tidak tahu kalau ternyata akan membuatnya gugup seperti ini.
"..." Hinata juga bingung harus bicara apa. Keadaan malah jadi canggung begini.
"Hinata-chan, umm... aku mau bicara sesuatu padamu," kata Naruto memulai pembicaraan.
"A-apa?" tanya Hinata tidak kalah gugup.
"Aku.. Sebenarnya aku..." Naruto mengumpulkan segenap keberaniannya. Tapi kata-katanya tidak keluar juga.
"Naruto!" teriak seseorang dari belakang Naruto. Sontak kedua orang yang sedang gugup berat itu kaget dan refleks saling menjauh satu sama lain.
"Eh? Apa aku mengganggu?" tanya gadis berambut pink itu dengan wajah tanpa dosa.
'Sangat!' batin Naruto.
"Um.. Tidak... Tidak kok Sakura-chan," jawab Hinata.
"Baguslah. Hokage ingin segera bertemu denganmu Naruto," lanjut Sakura.
"Baiklah, ugh.." kaki Naruto terasa sakit. Rasa sakit karena luka setelah bertarung dengan Gaara rupanya baru terasa sekarang. Tadi dia mengacuhkannya karena saking khawatirnya pada Hokage Ke-3.
"Sini aku bantu Naruto-kun." Hinata menuntun Naruto menuju gedung Hokage.
"Terima kasih Hinata-chan."

"Ojii-san..."
"Masuklah," kata Hokage Ke-3. Dia terlihat tidak apa-apa. Hanya beberapa balutan perban saja yang ada di tangannya.
"Hyuuga-san, bisa tinggalkan kami berdua? Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Naruto," kata Hokage Ke-3.
"Hai, Hokage-sama." Hinata kemudian mohon diri keluar ruangan.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Naruto. Naruto tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Seperti yang kau lihat, aku tidak apa-apa. Aku memang tidak berhasil membunuh Orochimaru, aku hanya melukai tangannya dan mendesaknya untuk mundur."
"Tidak apa-apa Ojii-san, yang penting kau selamat. Kenapa tidak istirahat saja?"
"Tidak bisa. Banyak sekali laporan yang harus kuurus, terutama laporan tentang kerusakan akibat serangan Orochimaru hari ini."
"Oh." Naruto mendekati jendela dan memandang para penduduk yang sibuk memperbaiki rumah mereka yang rusak.
"Semua yang terjadi sesuai dengan yang kau bilang Naruto." Tatapan Hokage Ke-3 berubah serius.
"Sudah kubilang 'kan?" Naruto merespon tanpa melepas pandangannya dari pemandangan di luar.
"Siapa kau sebenarnya?"
"Bukankah sudah kubilang beberapa bulan lalu?"
"Jadi perkataanmu beberapa bulan lalu itu memang benar?"
"Memang itu kenyataannya."
"Oh, Kami-sama... Baiklah, sekarang jelaskan semuanya dari awal. Aku akan mendengarkan."

"Hinata-chan, masih menunggu Naruto?" tanya Sakura. Kebetulan Sakura dan Ino melewatinya di depan Gedung Hokage. Hinata mengangguk menanggapi pertanyaan Sakura.
"Hinata-chan, bagaimana tadi? Apakah sukses?" Kali ini giliran Ino yang bertanya.
"Ma-maksudmu?" Hinata balik bertanya.
"Jangan pura-pura." Ino menyikut Hinata. "Setelah aku pergi tadi, apa yang terjadi? Apa Naruto menyatakan cintanya padamu?"
"APA?" Sakura dan Hinata kaget, terutama Hinata yang tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Ayolah kenapa kalian berdua kaget?" Ino melipat kedua tangannya di dada.
"Ta-tapi... Naruto? Menyatakan cinta? A-aku tidak bisa membayangkannya." Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya.
"I-iya, mana mungkin. Naruto-kun 'kan ti-tidak menyukaiku," timpal Hinata.
"Hei, Naruto tidak sebodoh itu. Dia sudah menyadari perasaanmu Hinata. Dan dia juga suka padamu."
"Ja-jadi tadi itu dia akan menyatakan cintanya?" tanya Sakura memastikan.
"Sepertinya begitu, kenapa?"
"A-aku tadi mengagetkan Naruto. Dan sepertinya aku menggagalkan usaha Naruto."
"Apa kau bilang? Kenapa begitu? Ah dasar kau jidat!"
"Tapi aku tidak tahu. Aku tadi buru-buru, Hokage menyuruhku memanggil Naruto."
"Arghhh!"
Terjadilah duel klasik antara Sakura dan Ino.
"Ano, ber-berhenti membahas itu..." kata Hinata. Dia heran juga kenapa mereka jadi mempermasalahkan urusan dirinya dengan Naruto?
"Iya kenapa jadi kau yang heboh Ino pig?"
"Diam kau jidat! Gomen Hinata-chan, aku hanya gregetan melihat tingkah Naruto yang lambat. Haha."
"Kalau begitu kamu saja yang menyatakan cintamu duluan Hinata-chan," usul Sakura.
"Ah? Tidak mau. A-aku malu," kata Hinata pelan, rona merah di wajahnya semakin pekat. Ia menyatakan cinta duluan kepada Naruto? Yang benar saja! Menahan dirinya agar tidak gugup dekat Naruto saja kadang Hinata harus bersusah payah.
"Ayolah... hehe," goda Sakura dan Ino. Hinata semakin malu, kewalahan meladeni dua kunoichi itu.

"Tolong rahasiakan ini."
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin terjadi kepanikan, terutama Hinata. Aku tidak ingin ia tahu masa depannya."
Hokage Ke-3 berpikir sejenak.
"Biar aku yang akan berusaha merubah masa depan," kata Naruto meyakinkan, tangannya yang mengepal di simpan di dada dan memamerkan cengiran khasnya. Hokage Ke-3 tersenyum.
"Baiklah, aku percaya padamu. Lagipula sekarang kau tahu siapa dirimu 'kan? Kau anak Hokage ke-4."
"Ya. Aku pulang dulu Ojii-san."

Saat Naruto keluar dari ruangan Hokage, ia melihat Hinata sedang ngobrol dengan Sakura dan Ino. Kemudian Naruto mendekati mereka. Tapi sebelum Naruto bergabung bersama mereka, Sakura dan Ino segera pergi diiringi teriakan Ino. "Berusahalah Hinata-chan!"
"Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya seru," kata Naruto yang saat ini sudah berada di depan Hinata.
"Um, girls talk," kata Hinata sambil tersenyum. Pipinya masih merah, pengaruh godaan Sakura dan Ino masih terlihat jelas di wajah manisnya itu.
"Baiklah-baiklah. Sekarang aku mau makan ramen, mau menemaniku?"
"Tidak. Sekarang kita harus ke rumah sakit. Lukamu harus diobati."
"Apa? Tenang saja masa penyembuhanku cepat sekali, aku tidak apa-aahhhhh..." Kata-kata Naruto terpotong, dia meringis kesakitan saat Hinata memegang sikut tangan kanannya.
"Tuh 'kan."
"Ehehe." Naruto nyengir, dia tidak bisa berbohong lagi sekarang. Akhirnya dia pasrah dan membiarkan Hinata menuntunnya ke rumah sakit.

"Ukh, aku tidak mau disini Hinata-chan," rengek Naruto saat dirinya dipaksa berbaring di kamar perawatan.
"Tapi dokter bilang ada beberapa luka memar dan banyak luka goresan, akan lebih baik kalau kamu dirawat disini sehari."
"Tapi aku bosan disini. Aku mau pulang dan makan ramen," kata Naruto memajukan bibirnya karena sebal.
"Jangan makan ramen dulu."
"Tapi kalau bubur tidak enak, semua makanan rumah sakit itu tidak enak."
"Aku mohon sehari saja. Besok 'kan kamu sudah boleh pulang. Kalau besok terserah kamu kalau mau makan ramen." Hinata menghela nafas. Rupanya dia harus sabar menghadapi Naruto. Kalau saja dia tidak khawatir pada keadaan Naruto, mungkin sekarang dia sudah meninggalkan bocah hiperaktif itu dan membiarkannya bertindak sesuka hati.
"Aaaahhhhhh..."
"Begini saja, tunggu disini, aku akan membawakanmu makanan buatanku," kata Hinata. Naruto kemudian memandang Hinata yang berlalu meninggalkannya. Diam-diam bibirnya membentuk seulas senyum. Ternyata Hinata begitu perhatian kepadanya.

"Enak?" tanya Hinata saat menyuapi Naruto dengan sesendok bubur telur.
"Enak sekali! Lagi, lagi," kata Naruto. Hinata hanya bisa terkekeh geli melihat Naruto yang bertingkah seperti anak kecil. Mungkin karena pengaruh tubuhnya yang kecil sehingga Naruto bertingkah manja seperti itu. Atau hanya karena sedang berada di dekat Hinata saja dia jadi seperti itu?
"Iya sabar, buka mulutmu aaaa." Naruto kembali membuka mulutnya dan memakan bubur itu dengan lahap. Hinata sebenarnya menyuapi Naruto karena memang Naruto menyuruhnya, ia mengaku tangan kanannya sakit. Entah itu benar atau hanya alasan Naruto saja agar Hinata menyuapinya. Yang jelas di dalam hati Hinata, Hinata juga merasa senang bisa menyuapi Naruto.
"Aku tarik kata-kataku tadi. Aku buat pengecualian untuk bubur buatanmu, bubur buatan Hinata itu enaaaaak," kata Naruto sambil tersenyum dan mengangkat jempol tangannya.
"Um, arigato." Hinata membalas senyuman Naruto.
Setelah makan bubur dan minum obat, Naruto berbaring megistirahatkan badannya. Tidak ada obrolan diantara mereka berdua. Hanya terdengar suara jangkrik dari luar sana, menandakan kalau hari sudah gelap. Sesekali Naruto menghela nafas panjang karena bosan. Kemudian Hinata mengingat kata-kata Ino dan Sakura tadi siang: menyatakan cinta kepada Naruto. Ukh, mengingatnya saja membuat pipi Hinata memanas. Ia sadar Naruto dan dirinya memang dekat akhir-akhir ini. Tapi kalau untuk menyatakan cinta...
'Ayolah Hinata, nyatakan cintamu!' batinnya.
Dengan segala keberanian yang dimilikinya, Hinata menarik nafasnya dalam-dalam. Bersiap untuk mengatakan hal yang sudah lama dipendamnya.
'Ayolah Hinata! Sekarang atau tidak sama sekali!'
"Na-Naruto-kun..." Hinata memandang lantai dan memainkan jari-jarinya untuk mengurangi rasa gugup.
"A-aku... Aku..."
Hinata memang merasa tidak sanggup kalau menyatakan cintanya duluan. Kata-katanya tidak juga keluar dari mulutnya.
'Aku suka Naruto-kun.' Padahal hanya 3 kata tapi susah sekali dikatakan oleh Hinata.
"Aku juga suka Hinata-chan..." kata Naruto tiba-tiba.
"Eh?" pipi Hinata seketika jadi merona hebat.
'Apa dia bisa membaca pikiranku?' tanya Hinata dalam hati.
"Na-Naruto-kun..." Ah, sepertinya Hinata tidak siap dengan ini. Naruto yang selama ini disukainya menyukainya juga? Apa ini mimpi?
"Aku juga suka, minta lagi dong Hinata-chan..." Hinata kaget.
'Minta lagi?' Apa maksud Naruto? Hinata mulai bingung.
"Hah? Mi-minta lagi?" Hinata kemudian memberanikan dirinya menatap Naruto. Tapi yang dilihatnya adalah Naruto yang sudah tertidur pulas. Jadi barusan Naruto mengigau! Terbentuklah perempatan urat di dahi Hinata. Hinata rasanya ingin sekali menjitak kepala Naruto saat itu juga. Padahal Hinata sudah mengumpulkan seluruh keberaniannya dan sudah kaget setengah mati menyangka Naruto menyukainya juga. Tapi melihat wajah Naruto yang sedang tertidur pulas dia mengurungkan niatnya. Diperhatikannya wajah Naruto yang begitu polos, kemudian diusapnya rambut Naruto yang berantakan. Hinata tersenyum sendiri melihat orang yang disayanginya itu.
"Oyasumi, Naruto-kun."

"Naruto-kun! Bangun! Bangun!"
"Pagi Hinata-chaaan. Kamu tidak pulang?" tanya Naruto, masih setengah sadar.
"Pulang. Hei, banguuunn..."
"Aaaahhhh... aku masih ngantuk. Kelihatannya masih gelap."
"Cepatlah bangun, ada hal penting yang ingin kusampaikan." Hinata menarik tangan Naruto, memaksanya bangun.
"Arghhh... ini masih jam..." Naruto mengucek-ngucek matanya kemudian melihat jam di dinding. "Jam 4? Ada apa membangunkanku sepagi ini Hinata-chan?"
"Hokage Ke-3..."
"Ada apa dengan Ojii-san?"
"Dia... meninggal..."
Rasa kantuk Naruto tiba-tiba saja menghilang. Apa dia tidak salah dengar? Apa kesadarannya belum kembali sepenuhnya?
"A-apa katamu?" tanya Naruto memastikan. Sejujurnya Naruto berharap kalau dirinya hanya salah dengar.
"Hokage Ke-3... dia meninggal," ulang Hinata.
Mata Naruto melebar, dia tidak sanggup berkata-kata lagi.

"Naruto." Naruto menoleh saat Iruka menepuk pundaknya. Sekarang semua penduduk Konoha sedang mengikuti upacara pemakaman Hokage Ke-3.
"Hokage Ke-3 meninggalkan ini untukmu." Iruka menyerahkan sebuah gulungan kecil.
"Apa ini?" tanya Naruto penasaran.
"Aku juga tidak tahu. Sepertinya itu surat dan ditulis sebelum beliau meninggal."
Naruto membuka gulungan itu dengan hati-hati, kemudian membacanya.
Naruto, sebelumnya aku minta maaf karena aku tidak bilang padamu mengenai hal ini. Sebenarnya saat bertarung, Orochimaru berhasil menusukku dengan racun mematikan. Racun itu bereaksi di tubuh kurang dari 12 jam, langsung menyerang jantung korban. Aku tahu racun apa ini. Ini tipe racun yang belum ada obatnya dan belum ada satu orang pun yang selamat dari racun ini.
Aku hanya tidak ingin membuat kalian sedih, jadi kusembunyikan ini dari kalian. Dan sekarang aku punya pesan untukmu, ini permintaan terakhirku Naruto. Lindungi Konoha. Lindungi desa kita. Lindungi juga para penduduknya. Aku yakin kau bisa melakukannya.
Kau bilang seharusnya aku mati di tangan Orochimaru saat ujian Chuunin 'kan? Saat aku menulis surat ini, aku masih bisa bernafas dan menikmati teh hangat di kantorku. Itu berarti kau adalah orang yang bisa merubah takdir seseorang. Umurku saja bisa kau ubah, seharusnya hal lain juga bisa kau ubah. Karena itu aku percaya padamu. Ubahlah takdir semua penduduk Konoha, jangan biarkan Konoha hancur. Jangan biarkan masa depan yang kau ceritakan itu terjadi.
Jadilah Hokage yang hebat seperti ayahmu.
-Hiruzen Sarutobi-
Dada Naruto terasa sakit saat selesai membaca surat dari Hokage Ke-3 itu. Tubuhnya bergetar. Hinata yang berada disampingnya berusaha menenangkannya dengan memegang erat tangan Naruto.
Ini benar-benar tidak masuk akal. Ini melenceng dari apa yang Naruto rencanakan. Memang Orochimaru bisa dikalahkan dan dia melarikan diri. Tapi bukan ini yang Naruto harapkan.
Naruto mengharapkan keselamatan Hokage.
Tapi kenyataannya...
To Be Continue...

 

 
Chapter 7
-Dua Pilihan-
Normal POV
Matahari baru terbit setengahnya pagi itu. Pohon dan dedaunan hijau masih dipenuhi embun. Para penduduk mulai bersiap-siap untuk memulai kegiatannya hari itu. Atau mungkin ada sebagian lain yang masih tertidur. Tapi ada yang berbeda dengan keadaan di padang rumput tempat latihan Naruto dan Hinata. Padang rumput yang seharusnya hijau tergantikan dengan hamparan warna orange yang mendominasi setiap sudut tempat itu.
Dan jika dilihat lebih dekat lagi, itu tidak lain adalah puluhan atau bahkan ratusan bunshin Naruto yang sedang berlatih. Pesan dari Hokage Ke-3 seolah menjadi cambuk untuk Naruto agar dirinya berlatih lebih keras. Tanggung jawab yang diberikan kepadanya bukanlah hal sepele, melainkan hal besar yang menyangkut keselamatan orang banyak.
"Ayolaahhhh keluar rasengaannn!"
"Ugh..."
"Fiuhhh, aku lelah."
"Hei, Naruto yang di sebelah sana!"
"Aku?"
"Bukan. Sebelahmu."
"Kenapa?"
"Latihan yang benar!"
"Hei, perhatikan tanganmu!"
Begitulah kira-kira keributan yang terdengar di padang rumput itu. Naruto dan semua bunshinnya terlihat serius sekali. Naruto sudah bertekad akan menguasai rasengan secepatnya. Berbekal ingatannya mengenai cara berlatih yang diberikan Jiraiya, disela misi Naruto selalu berlatih keras. Naruto juga mengkombinasikan cara latihannya dengan cara yang diberikan Kakashi dan Yamato, yaitu menggunakan bunshin untuk mempercepat penguasaan jutsunya.
Menjelang tengah hari, satu persatu bunshin Naruto menghilang karena kehabisan chakra. Menyisakan belasan bunshin saja. Itupun keadaan mereka 'mengkhawatirkan', pasti beberapa menit lagi mereka juga akan menghilang karena kehabisan chakra.
Tanpa Naruto ketahui, Hinata memperhatikannya dari kejauhan. Seulas senyum terlukis di wajahnya. Bukannya Hinata tidak khawatir dengan kondisi Naruto yang terlalu memporsir dirinya itu, tapi berapa kalipun Hinata memperingati bocah pirang itu, dia tetap keras kepala. Yang bisa Hinata lakukan adalah mendukung Naruto. Hinata yakin, Naruto juga menginginkan dukungan dari dirinya.
Meskipun di hati kecilnya, Hinata begitu merindukan saat-saat bersama Naruto. Maklum saja, sejak kematian Hokage Ke-3 mereka memang jarang sekali bertemu. Naruto lebih sering berlatih. Naruto sempat menawarinya agar berlatih bersama. Tapi Hinata sadar, perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh. Hinata hanya akan menjadi beban dan membuang-buang waktu Naruto saja.
Hinata memandang Naruto cukup lama karena setelah ini dia pasti akan merindukan Naruto. Hinata bersama anggota Clan Hyuuga lainnya harus meninggalkan desa selama 4 hari karena ada kunjungan ke desa lain.
"Selamat berjuang Naruto-kun," gumam Hinata pelan. Setelah itu dia pergi, membiarkan Naruto melanjutkan latihannya.
Kembali ke Naruto...
Benar saja, kurang dari 10 menit semua bunshin Naruto menghilang. Sekarang tinggal Naruto yang asli yang terkapar di tengah padang rumput itu. Nafasnya terengah-engah karena kehabisan chakra. Naruto sering kesal karena dengan tubuh dan staminanya yang sekarang, yang berupa bocah 12 menjelang 13 tahun dia tidak bisa berlatih maksimal.
"Haaaahhhh, tubuhku yang sekarang benar-benar payah. Gampang sekali lelah." kata Naruto pada dirinya sendiri. Kemudian pandangannya tertuju pada pohon besar di sebelah timur. Naruto kemudian beristirahat disana. Setelah tenaganya terisi kembali dia melanjutkan latihan.
"Latihan dimulai lagi! Tajuu Kage Bunshin no Jutsu!" Setelah itu padang rumput yang hijau kembali didominasi warna orange.

BRAK!
Pintu toko bunga Yamanaka terbuka dengan keras. Menampakkan Naruto yang ngos-ngosan karena berlari dari apartemennya.
"Gomen, aku terlambat," kata Naruto menyatukan kedua tangannya tanda meminta maaf.
"Terlambat bangun lagi?" tanya Ino. Diliriknya jam dinding yang menunjukkan pukul 11 siang. Ino menghela nafas kemudian melanjutkan pekerjaannya menggunting daun-daun kering.
"Iya. Aku lelah sekali karena kemarin berlatih sampai sore."
"Hah, dasar kau ini. Ini ketiga kalinya kau terlambat. Kalau terlalu sering, nanti kusuruh Tou-san memotong gajimu."
"Ja-jangan dong, bagaimana aku bisa membayar utangku padamu?" kata Naruto memelas.
"Baiklah, asal jangan terlambat lagi."
Naruto tersenyum kemudian mengambil beberapa pot bunga yang masih berada di halaman belakang dan menyimpannya di etalase. Itu memang jadi salah satu pekerjaannya di toko ini. Tidak gentle juga kalau membiarkan Ino yang menangani pekerjaan yang berat.
"Ngomong-ngomong bagaimana hubunganmu dengan Hinata?" tanya Ino tanpa menoleh.
"Biasa saja."
"Apa maksudmu dengan biasa saja?" Kali ini pandangan Ino tertuju kepada Naruto yang sedang bolak-balik dari halaman belakang ke dekat etalase.
"Entahlah, sudah beberapa hari ini aku tidak bertemu dengannya," jawab Naruto sejenak menghentikan kegiatannya. Naruto menyandarkan dirinya di tembok dekat Ino. Pandangannya lurus ke depan, tapi jelas sekali kalau ada kesedihan di tatapannya saat mengatakan kalimat itu.
"Hah?" Ino menatap Naruto tajam. "Kau jangan terlalu sibuk latihan, sisihkanlah waktu bersama Hinata."
"Iya baiklah, nanti sore aku menemuinya," jawab Naruto cuek dan berjalan kembali menuju halaman belakang untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Percuma. Hinata tidak ada di desa."
Naruto tertegun. Langkahnya terhenti. Ditatapnya Ino dengan penuh pertanyaan. Mata shapirenya bertemu dengan mata aquamarine Ino.
"Kemana?" tanya Naruto penasaran.
"Ya ampun Naruto..." Ino hanya bisa geleng-geleng kepala. "Kau tidak tahu? Dia sedang berkunjung ke desa lain."
Mulut Naruto membulat, ber-'oh' ria.
"Hei, aku ingin bertanya sesuatu. Dulu kau pernah bilang Hinata jadi prioritasmu. Tapi setelah kematian Hokage, kau terlalu fokus ke Sasuke, kau melupakan Hinata. "
"Tentu saja tidak!" jawab Naruto tegas.
"Jangan mengelak!" balas Ino tidak kalah tegas. "Hinata pergi ke desa lain saja kau tidak tahu. Kalau disuruh memilih siapa yang akan kau pilih? Hinata atau Sasuke?"
Ino memandang Naruto dengan pandangan menelisik.
Naruto mengalihkan pandangannya. Jujur saja ini pertanyaan yang menyulitkan Naruto. Antara sahabat dan orang yang kau sukai, mana yang kau pilih? Jawabannya tidak bisa sembarangan. Ada banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan.
"Umm, dua-duanya penting bagiku."
"Benarkah? Tapi kenapa kau terlihat lebih fokus ke Sasuke? Aku tahu berlatih agar lebih kuat itu penting agar kau bisa merubah masa depan kita. Tapi kau melupakan seseorang, yaitu Hinata. Kau tidak pandai menyeimbangkan keduanya," kata Ino. Tangannya dilipat didadanya, pandangannya kepada Naruto semakin tajam.
"..." Naruto mematung disana. Bingung harus bicara apa lagi. Kadang-kadang Ino memang bisa jadi interogator yang hebat. Tidak buruk untuk seorang anak perempuan Yamanaka Inoichi, sang ketua Divisi Interogasi.
"Aku bicara begini karena aku tahu bagaimana rasanya ketika seseorang yang kau sukai menjauhimu. Terlebih lagi sebelumnya kalian sudah dekat. Kau jadi terlihat tidak konsisten. Tapi terserahlah, itu hanya pendapatku."
"Gomen."
"Jangan minta maaf padaku. Kau harusnya tahu harus minta maaf kepada siapa."
'Ya, kurasa aku harus meminta maaf kepada Hinata,' batin Naruto. Kali ini Ino sudah memberikan satu lagi saran yang berharga untuknya.
"Kau tahu Naruto? Bergaul denganmu yang 4 tahun lebih tua dariku membuatku bicara seperti orang dewasa. Masa mudaku jadi terbuang percuma," kata Ino menghela nafas panjang kemudian duduk di kursi kasir.
"Hehe." Naruto tersenyum mendengar kata-kata Ino. Beruntung sekali dia punya sahabat seperti Ino.

Empat hari sudah berlalu dan latihan Naruto akhirnya menunjukkan peningkatan.
"Aku hampir berhasil!"
"Terus berusaha!"
"Whoaaaa, aku berhasil mengeluarkan rasengan!"
"Bagus nomor 48! Itu masih belum sempurna, ayo kita sempurnakan!"
"Hei aku juga sudah bisa!"
"Bagus, terus tingkatkan kekuatannya."
"Hati-hati baka! Stabilkan tanganmu nanti bisa mengenaiku. Waaaaaaa..."
POOF! POOF! POOF!
Hinata tersenyum geli melihat kelakuan konyol Naruto dan bunshin-bunshinnya. Kemudian Hinata menyimpan bento yang dia bawakan khusus untuk Naruto di bawah pohon. Begitu kembali dari acara kunjungannya siang ini, Hinata menyempatkan diri membuatkan bento porsi jumbo untuk Naruto. Hinata berbalik dan bermaksud pulang sebelum suara orang yang sangat familiar di telinga Hinata menghentikan langkahnya.
"Hei Hinata-chan."
Hinata berbalik dan melihat Naruto yang nyengir disana. "Ke-kenapa kamu disini?" tanya Hinata heran.
"Yang disana itu semuanya bunshinku. Aku yang asli dari tadi menunggumu disini," jawab Naruto masih saja tersenyum.
"Menungguku?" Pipi Hinata mulai merona menyadari perkataan Naruto.
"Ya, sekarang kamu mau kemana?" tanya Naruto sambil berjalan mendekati Hinata.
"Pulang. A-aku tidak ingin mengganggu latihanmu," gumam Hinata pelan.
"Sebelumnya, aku ingin mengucapkan... Arigato Hinata-chan... Untuk ini," kata Naruto menunjuk bento di tangan kanannya.
"Sama-sama. Umm.. Selamat latihan ya." Hinata tersenyum kemudian berbalik untuk pulang. Hinata berpikir kalau dia berlama-lama disana hanya akan mengganggu Naruto yang sedang serius berlatih.
"Ja-Jangan pergi dulu Hinata-chan.." Untuk kedua kalinya perkataan Naruto menghentikan langkah gadis lavender itu. "Ada satu lagi. Um... Gomen..."
"Gomen? Untuk apa?" tanya Hinata kembali heran. Rasanya Naruto tidak pernah berbuat salah kepadanya.
"Karena aku terlalu sibuk berlatih sehingga kita jadi jarang bertemu akhir-akhir ini. Aku tidak bermaksud melakukannya. Aku hanya..." Naruto bingung harus bicara apa lagi. Mana mungkin harus jujur kalau dia latihan untuk mencegah Sasuke pergi dari desa? Yang ada Hinata malah akan curiga.
Menyadari Naruto yang tidak melanjutkan kalimatnya, Hinata memotong perkataan Naruto. "Sudah tidak apa-apa. Aku mengerti Naruto-kun."
Hinata berusaha untuk tidak egois. Naruto memang tidak bisa setiap saat bersamanya. Meskipun di dalam hatinya Hinata sangat mengharapkan agar terus bisa bersama Naruto.
"Bagus kalau kamu mengerti. Apa besok kamu sibuk?" tanya Naruto.
"Tidak. Kenapa Naruto-kun?"
"Kalau begitu, bagaimana kalau besok kita makan siang di Ichiraku? Sudah lama kita tidak kesana berdua," ajak Naruto. Naruto masih ingat kata-kata Ino 3 hari lalu, jadi ia sangat berharap kalau Hinata mau pergi dengannya besok.
Hinata mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Naruto. Naruto seperti mendengar kata hatinya saja. Memang dia tidak mau egois, tapi kalau Naruto yang mengajaknya, apakah ada alasan untuk menolak? Tentu tidak.
"Umm, bo-boleh."
Cengiran Naruto melebar setelah mendengar jawaban Hinata.

Seperti janji Naruto sebelumnya, hari ini Naruto dan Hinata makan siang berdua di Ichiraku Ramen. Sekarang mereka berdua sudah selesai makan dan sedang mengobrol disana. Naruto sedang menceritakan hasil latihannya dengan begitu antusias sementara Hinata menanggapi dengan seksama. Sesekali terdengar tawa Hinata saat ada perkataan Naruto yang lucu dan ekspresif.
"Kamu tahu Hinata-chan, akhirnya aku bisa menggunakan jurus yang diciptakan Hokage Ke-4. Yah meskipun belum aku kuasai sepenuhnya."
"Oh ya?"
"Ya. Ini hasil latihanku selama 2 minggu terakhir ini."
"Kamu hebat Naruto-kun."
"Hei, kalau bukan karena bentomu kemarin, aku tidak akan menguasainya secepat ini, hehe."
"I-itu bukan apa-apa."
Obrolan mereka berdua terhenti saat sesosok pria berambut putih duduk di samping Naruto.
"Hei Naruto!" seru pria tersebut.
"Ero-Sennin!" Naruto terlonjak dari tempat duduknya, kaget melihat Jiraiya yang tiba-tiba saja muncul. Sejak mengajarinya jurus Kuchiyose, Jiraiya memang jarang terlihat di desa. Dia lebih banyak berada di luar desa. Katanya sih ingin mencari informasi mengenai Orochimaru. Naruto tahu itu hanya alasannya saja untuk menutupi kegiatannya 'mencari ide' untuk novel dewasanya.
"Aku bingung mencarimu kemana-mana. Ternyata kau malah pacaran disini," kata Jiraiya lagi. Sontak muka Naruto dan Hinata langsung saja memerah saat disangka sedang pacaran.
"Ka-kami tidak pacaran," jawab Naruto gelagapan.
"Terserah. Aku kesini karena ingin mengajakmu berlatih, sekalian mencari pengganti Hokage Ke-3."
Naruto baru ingat, sekarang sudah saatnya untuk mencari Tsunade. Waktu terasa cepat berlalu, rasanya baru kemarin dia kembali ke masa lalu. Sekarang tahu-tahu sudah harus mencari Tsunade.
"Cepat kau berkemas. Perjalanan kita lumayan panjang."
Sebenarnya Naruto masih ingin menghabiskan waktu bersama Hinata. Karena memang baru hari ini dia menyempatkan waktu untuk bertemu Hinata. Tapi mau bagaimana lagi? Dia juga harus pergi bersama Jiraiya untuk mencari Tsunade karena Konoha perlu seorang pemimpin secepatnya.
"Hinata-chan, aku pergi dulu. Setelah aku pulang nanti, kita akan makan siang berdua lagi ya?" Hinata mengangguk dan tersenyum. Naruto menatap wajah Hinata sambil membalas senyumannya sebelum bergegas menuju apartemennya untuk berkemas.

"Ero-Sennin!"
Yang dipanggil tidak menyahut. Masih saja fokus mengintip wanita dan gadis remaja yang sedang mandi di pemandian air panas melalui celah kecil. Muka mesumnya terlihat jelas, air liurnya mengalir kemana-mana.
"Hei, berhentilah mengintip! Ajarkan aku rasengan!"
Jiraiya tersentak. Dari awal dirinya memang akan mengajarkan jurus itu kepada Naruto. Tapi dia belum mengatakan apa-apa. Jiraiya berdiri dan menghentikan 'risetnya' kemudian menatap Naruto dengan serius.
"Dari mana kau tahu jurus itu?"
Oops, Naruto keceplosan. Rasa sabar itu memang penting. Kalau saja Naruto mau bersabar, sebenarnya Jiraiya memang akan mengajarinya jurus itu.
"Umm, itu..."
Jiraiya memandang Naruto curiga. Naruto semakin panik. Otaknya yang tidak bisa dibilang jenius itu dipaksa untuk berpikir mencari alasan yang tepat.
"Jawab dulu pertanyaanku. Darimana kau tahu jurus itu?" desak Jiraiya.
"Ah, itu... Ayahku mengajariku di dalam mimpiku." Alasan yang konyol. Tapi hanya itu yang bisa Naruto hasilkan dari proses berpikirnya di otaknya yang bego. Dia tidak punya alasan lain yang lebih bagus.
"Jadi kau sudah tahu siapa ayahmu?" tanya Jiraiya kaget. Karena setahunya, kedua orang tua Naruto dirahasiakan identitasnya.
"Tentu saja. Lihat ini." Naruto membuat satu bunshin, kemudian membuat rasengan di tangan kanannya. "Aku ingin belajar menyempurnakan jurus ini."
"..." Jiraiya tambah kaget lagi melihat kumpulan chakra bundar di tangan Naruto. Meskipun bentuknya tidak sepenuhnya bundar dan masih butuh penyempurnaan, tapi Jiraiya yakin betul jurus itu memang benar-benar rasengan. Jiraiya menatap Naruto tajam. Dia tidak cukup bodoh untuk mempercayai alasan Naruto.
"Kau tidak mempercayaiku?" tanya Naruto semakin gugup.
"Aku percaya padamu," kata Jiraiya berbohong. Tatapan curiga masih terlihat jelas di matanya.

"Bagaimana? Apa kau sudah menguasainya?" tanya Jiraiya.
"Sudah."
"Bagus. Siapa tahu itu akan berguna sesaat lagi."
Naruto dan Jiraiya sedang berlari menuju tempat Tsunade berada atas petunjuk Shizune dan Tonton. Naruto memperkirakan kalau saat Hokage Ke-3 bertarung dengan Orochimaru, Hokage Ke-3 menggunakan jurus yang mematikan, yang memaksa Orochimaru meminta bantuan Tsunade untuk menyembuhkan lukanya.
Benar saja dugaannya. Saat bertemu dengan Orochimaru, Naruto melihat luka yang mirip dengan efek jurus dewa kematian di tangan Orochimaru. Hanya saja kali ini lukanya hanya sebatas pergelangan tangan. Tapi dilihat dari keringat yang bercucuran di wajah Orochimaru, Naruto yakin kalau luka itu sangat menyakitkan bahkan untuk seorang Orochimaru sekalipun.
"Kita bertemu lagi bocah Kyuubi," seru pria ular itu saat menyadari kehadiran Naruto.
"Orochimaru! Jangan pernah sentuh Sasuke!"
Orochimaru tersenyum mengerikan. "Heh, sudah kuduga kau mengetahui sesuatu. Siapa yang memberitahumu?"
"Tidak ada."
"Hehehe. Kau sungguh menarik. Sepertinya kau bukan orang sembarangan..."
DZIIIGH!
Kata-kata Orochimaru terhenti saat Tsunade memukul wajahnya. Tampaknya sudah saatnya untuk serius dan berhenti bermain-main. Ketiga Sannin itu mengeluarkan hewan Kuchiyosenya masing-masing dan pertarungan mereka semakin sengit.
Pertarungan 2 lawan 1 yang tidak seimbang ini memaksa Orochimaru untuk mundur.
"Orochimaru-sama. Bukan bermaksud pengecut. Tapi kadang melarikan diri adalah cara terbaik untuk menang," kata Kabuto, Orochimaru mengangguk.
"Sampai bertemu lagi bocah." Kedua sosok itu menghilang dalam kepulan asap.
"Tunggu!" teriak Naruto.
"Naruto! Sudah cukup!" cegah Jiaraiya. Ditatapnya Naruto penuh tanya. Jadi bukan hanya diriya yang merasa ada yang aneh pada diri Naruto? Orochimaru juga? Rasa curiganya semakin menjadi. Tapi dia berusaha menghapus pikiran-pikiran tidak berguna itu. Naruto adalah anak dari murid kesayangannya, Minato. Minato itu orang baik-baik, dia tahu betul bagaimana sifat seorang Minato. Sekarang Naruto juga telah menjadi muridnya. Rasanya mencurigai murid sendiri itu terlalu berlebihan.

Setelah Tsunade diangkat jadi Hokage Ke-5, para shinobi mulai kembali mendapat misi. Mungkin itu jadi hal yang menyebalkan bagi shinobi lain karena tidak bisa santai-santai lagi. Tapi tidak bagi Naruto...
"Haaa, akhirnya setelah sekian lama kita mendapatkan misi juga Sakura-chan," seru Naruto ceria seperti biasa.
Misi Team 7 kali ini adalah mengawal seorang pelari dari Negara Teh bernama Morino Idate. Sementara musuh mereka bernama Aoi yang bermaksud membunuh Idate. Misi kali ini hanya Naruto, Sasuke dan Sakura saja yang ikut karena Kakashi sedang ada misi lain.
"Iya. Tapi pastikan kau tidak mengacau Naruto," ejek Sakura.
"Tentu saja tidak."
"Awas kalau kau bohong. Kami akan menghukummu. Iya 'kan Sasuke-kun?"
"Hn."
Pandangan Naruto beralih kepada Sasuke yang berjalan di belakangnya. Diperhatikannya Sasuke lebih detail. Mata onyx Sasuke memandang lurus kedepan, kedua tangannya dimasukkan kedalam saku. Naruto menatapnya iri, bahkan di umur yang masih muda saja Sasuke sudah terlihat 'cool'. Pantas saja Sasuke punya banyak sekali penggemar perempuan, baik dari kalangan para kunoichi ataupun penduduk biasa.
Tanpa Naruto ketahui, Sasuke dari tadi mengamati gerak-geriknya. Ditatapnya Naruto yang saat itu sedang mengobrol dengan Sakura dengan tatapan angkuh.
Tapi itu tidak berlangsung lama...
Sasuke harus menelan mentah-mentah keangkuhannya saat Naruto bisa mengalahkan Aoi. Padahal dia sendiri sama sekali tidak bisa mengalahkannya.
'Kenapa dia bisa mengalahkan musuh yang tidak bisa kukalahkan? Kenapa juga dulu Itachi bilang kalau misi para anggota Akatsuki adalah memburu Naruto? Apa sebenarnya yang spesial pada diri Naruto?' batin Sasuke. Pikiran-pikiran itu semakin membuat rasa iri di hati Sasuke menjadi-jadi.
Rasa iri Sasuke memuncak saat Naruto dan Sakura bermaksud menjenguknya di rumah sakit.
"Teme? Kau baik-baik saja?" tanya Naruto sambil memperlihatkan cengiran khasnya. Sasuke membenci cengiran itu. Itu membuatnya muak.
"Sasuke-kun?" tanya Sakura khawatir, karena menyadari Sasuke yang dari tadi diam saja. Yang dilakukannya hanya menatap Naruto.
"Naruto, aku menantangmu! Satu lawan satu," kata Sasuke. Tatapannya kepada Naruto tajam sekali, penuh dengan aura membunuh.
Naruto kaget. Akhirnya saat yang ditakutkannya tiba. Padahal dia sempat berharap kalau saat seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi.
"Aku... tidak mau," jawab Naruto. Naruto sadar, inilah salah satu faktor yang menyebabkan Sasuke kabur dari desa. Naruto berbalik dan bermaksud meninggalkan Sasuke. Berada di ruangan itu hanya akan membuat Sasuke semakin emosi.
"Kau lemah! Pasti karena kau terlalu banyak bergaul dengan gadis lembek itu."
Naruto terpaku mendengar perkataan Sasuke. Naruto menoleh dan menatap mata onyx Sasuke. "Siapa yang kau maksud gadis lembek?"
"Siapa lagi? Tentu saja gadis Hyuuga itu."
Kedua tangan Naruto mengepal kuat. Dia rela dirinya dihina seperti apapun, tapi kalau Hinata yang dihina, Naruto tidak terima. Naruto mati-matian manahan emosinya yang memuncak saat Sasuke menjelek-jelekkan gadis yang disukainya itu. Kalau saja bukan untuk mencegah Sasuke pergi, pasti Naruto sudah memukul wajah Sasuke saat itu juga.
"Kau boleh menghinaku, tapi jangan pernah sekalipun menghina Hinata-chan!"
Kemudian Naruto pergi meninggalkan kamar perawatan Sasuke. Kata-kata Naruto begitu dingin dan penuh amarah. Membuat Sasuke yang mendengarnya mematung disana.

"Naruto!"
Dengan malas Naruto bangun dari tidurnya. Siapa juga yang membangunkannya sepagi ini? Setelah menyeret badannya yang masih ngantuk, Naruto membukakan pintu apartemennya.
"Shikamaru?"
"Cepat siap-siap, kita mendapatkan misi."
Perasaan Naruto langsung tidak enak. Pasti ada yang tidak beres.
"Sasuke pergi dari desa."
Benar saja dugaan Naruto. Padahal kemarin dia sudah mengalah untuk tidak bertarung dengan Sasuke. Tapi kenapa Sasuke masih juga pergi dari desa?
'Apa yang ada di pikiranmu Teme?' batin Naruto.
Sebelum pergi, Sakura memanggil Naruto. Ia menangis. Naruto merasakan hatinya sakit melihat kejadian ini terulang kembali.
"Naruto... Ini satu-satunya permintaanku. Tolong bawa... Tolong bawa pulang Sasuke-kun. Aku tidak bisa menghentikannya. Aku yakin yang bisa membawanya pulang hanya kau. Hanya kau Naruto..."
"Kau benar-benar mencintainya ya? Aku sangat mengerti perasaanmu karena dulu, dulu sekali, aku pernah merasakannya."
Naruto mengingat kejadian 4 tahun lalu, di kehidupan sebelumnya, dirinya begitu terobsesi kepada Sakura. Tanpa mengetahui kalau ada gadis lain yang begitu tulus mencintainya.
"Naruto..." Sakura kembali menangis.
"Sakura-chan, aku akan membawa pulang Sasuke. Ini janji seumur hidupku."
"Naruto... Arigato..."
Berat sekali rasanya ketika Naruto berjanji untuk kedua kalinya. Tapi yang jelas, kegagalannya di kehidupan sebelumnya tidak akan dia ulangi sekarang.
Setelah semua siap, Shikamaru, Naruto, Kiba, Neji dan Chouji segera berangkat.
"Teman-teman..." seru Naruto. Semuanya menoleh ke arah Naruto.
"Aku harap kalian berhati-hati. Musuh yang akan kita hadapi sangat kuat."
Yang lainnya manatap Naruto aneh. Kemana perginya Naruto yang selalu bersemangat? Tapi mereka menyimpan baik-baik pesan Naruto di pikiran mereka. Kalau Naruto saja sampai berpesan seperti itu, itu berarti musuh yang akan mereka hadapi memang bukan ninja sembarangan.

"Sasuke! Kenapa kau pergi dari desa?" bentak Naruto di tengah pertarungannya melawan Sasuke.
"Karena kalian semua lemah! Aku tidak akan bisa kuat kalau diam di Konoha. Apalagi harus satu tim dengan pecundang sepertimu!"
"Pecundang katamu? Aku akan buktikan kalau aku bukan pecundang dan tidak lemah. Aku akan membawa kau pulang bagaimanapun caranya."
Chakra Kyuubi menyelubungi tubuh Naruto, kemudian membentuk ekor. Sasuke yakin itu pertanda buruk, maka ia menaikkan Curse Seal ke level 2.
"Heaaaahhh... RASENGAN!" Naruto melompat menyerang Sasuke dengan rasengan di tangan kanannya.
"CHIDORI!" Sasuke tidak mau kalah, chidori sudah siap di tangan kanannya.
BOOM!
Rasengan dan chidori beradu membentuk pancaran energi yang menyilaukan dan juga ledakan besar yang membuat kedua orang disana terlempar.
Naruto membuka matanya. Dia berusaha berdiri, kemudian dicarinya sosok bocah raven yang tadi bertarung dengannya.
Dia menemukan Sasuke di dekat sungai. Setelah memeriksa keadaanya, Naruto bersyukur karena Sasuke masih hidup. Naruto tersenyum, kali ini dia berhasil mengalahkan Sasuke. Hasil latihannya selama ini tidak sia-sia.
Diangkatnya badan Sasuke, kemudian digendong di punggungnya. Naruto berjalan, untuk pulang ke desa. Meskipun keadaan fisiknya memang tidak bisa dibilang bagus, tapi dia bersyukur dengan begini misi keduanya berhasil.
DUAKHH!
Tubuh Naruto terlempar saat seseorang menendang badannya. Begitu juga tubuh Sasuke yang langsung terjatuh. Sesaat kemudian tubuh Sasuke dibopong oleh seorang ninja berkaca mata. Kabuto!
"Jangan harap kau bisa membawa Sasuke kembali ke Konoha," seru Kabuto sambil tersenyum sinis. Bersamaan dengan itu dia menghilang dalam kepulan asap bersama Sasuke.
"Tidak! Tidak! Tidak! Sasuke! SASUKEEE!"

Setelah insiden perginya Sasuke dari desa, keadaan Naruto sangat mengkhawatirkan. Mengalami kegagalan misi 2 kali berturut-turut membuatnya murung akhir-akhir ini. Yang membuatnya tambah murung adalah dia kembali tidak bisa memenuhi janjinya kepada Sakura. Dia berpikir kalau kembali ke masa lalu sama sekali tidak ada gunanya kalau dia terus-menerus gagal begini.
"Naruto? Kau tidak apa-apa?" tanya Ino yang mengkhawatirkannya dari tadi.
"Aku heran Ino. Kenapa Sasuke masih saja pergi dari desa? Padahal aku sudah mengalah waktu dia menantangku di rumah sakit," kata Naruto, nadanya begitu miris. Membuat Ino ikut sedih melihat sahabatnya ini.
"Umm.. Kau bisa menguasai rasengan lebih cepat dari seharusnya karena kau berlatih keras, aku pikir itu membuat Sasuke merasa iri padamu."
"Mungkin." Naruto berdiri dan menuju pintu keluar. "Aku pulang saja ya? Kalau mau memotong gajiku silahkan saja."
Ino tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia tidak tega kalau harus memaksa Naruto bekerja dalam keadaannya yang seperti sekarang.
Saat Naruto keluar dari toko, ia berpapasan dengan Hinata.
"Naruto-kun?" Naruto hanya menatap Hinata sekilas kemudian meneruskan langkahnya.
Hinata menatap sedih punggung bocah pirang itu.
"Sabar ya Hinata-chan. Sejak dia gagal membawa pulang Sasuke dia jadi seperti itu."
"Aku mengerti keadaannya." Hinata mengalihkan pandangannya ke barisan bunga di toko Yamanaka. Dia memilih setangkai tulip, seperti biasa hari Minggu ini dia akan pergi ke makam ibunya.
Saat akan membayar bunganya di kasir, Ino memegang tangan Hinata. "Hinata-chan, tolong bantu Naruto melupakan Sasuke. Hanya kamu yang bisa melakukannya."
Hinata menunduk, mengamati bunga tulipnya. Ino benar, mungkin hanya dirinya yang bisa membuat Naruto tidak sedih lagi. "Akan kucoba."

Tok Tok Tok!
Naruto membuka pintu apartemennya dan menemukan Hinata disana.
"Hinata-chan?"
"Boleh aku masuk?" tanya Hinata. Jantungnya berdetak lebih cepat. Hinata berkunjung ke apartemen Naruto? Wow, itu hal yang jarang terjadi. Kalau bukan untuk membuat Naruto tidak sedih lagi, Hinata tidak berani melakukannya.
"Masuklah."
Mereka berdua duduk di sofa usang milik Naruto. Sofa yang kecil memaksa mereka untuk duduk bersebelahan. Hinata menatap Naruto khawatir. Rambutnya berantakan, kesedihan juga jelas sekali terlihat di mata shapire Naruto.
"Masih kepikiran Sasuke-kun?" tanya Hinata membuka pembicaraan, karena Hinata yakin kalau bukan dirinya yang memulai pembicaraan, mereka akan diam mematung disana sampai sore.
"Ya."
Hening lagi. Naruto begitu irit bicara kali ini. Hal ini memaksa Hinata untuk aktif berbicara. Sungguh hal yang tidak biasa dilakukan Hinata. Tapi kalau untuk membuat Naruto tidak sedih lagi, Hinata rela melakukan apa saja.
Baru saja Hinata akan memulai pembicaraan, Naruto melakukan hal yang membuat jantung Hinata kembali berpacu.
Naruto menyandarkan kepalanya di pundak Hinata. Membuat wajah Hinata memanas seketika. Dengan posisi seperti itu, membuat Hinata bisa mencium aroma tubuh Naruto dengan jelas. Hinata mengatur nafas dan detak jantungnya agar tidak pingsan. Ayolah, sekarang Naruto sedang membutuhkan 'sandaran' dan teman berbagi, bukan saat yang tepat bagi Hinata untuk pingsan.
Mereka tetap dalam posisi yang sama hingga Hinata terbiasa dengan keberadaan Naruto yang 'merapat' padanya.
"Hinata-chan..."
"Y-ya?" Hinata tersadar dari lamunannya.
"Apa kamu pernah merasa putus asa?"
"Putus asa. Umm... Dulu aku pernah merasakannya."
"Dulu?"
"Ya, sebelum aku mengenal seseorang yang mengajariku untuk pantang menyerah dan tidak pernah putus asa."
"Siapa seseorang itu?"
"Kamu."
"Hehe." Hinata merasakan Naruto yang tertawa di pundaknya. Mungkin ini senyum pertama Naruto hari ini.
"Makanya aku heran kenapa justru orang yang selama ini mengajariku untuk tidak putus asa, malah putus asa dan murung begini," kata Hinata.
"..." Naruto tidak menanggapi.
"Aku kehilangan Naruto-kun yang ceria dan pantang menyerah. Aku ingin kamu ceria seperti dulu."
Naruto menegakkan badannya dan menatap wajah Hinata sambil tersenyum. "Gomen. Sekarang perasaanku lebih baik, arigato sudah menemaniku Hinata-chan."
"Ti-tidak apa-apa," Hinata mengalihkan pandangannya menyembunyikan pipinya yang merona. "Ngomong-ngomong aku ingin membantumu membawa Sasuke pulang."
"Benarkah?"
"Iya. Aku tahu serangga yang bisa melacak keberadaan seseorang, namanya Bikochu. Kita bisa meminta bantua Shino untuk mencarinya."
"Arigato Hinata-chan." Naruto menggenggam tangan Hinata dan membuat gadis lavender itu semakin merona.

Misi pencarian Bikochu beranggotakan Shino, Kiba, Hinata dan Naruto, dengan Shino sebagai ketuanya. Kali ini Naruto tidak banyak protes maupun bertindak konyol. Ia ingin misi ini berjalan sukses.
Menjelang malam, mereka beristirahat karena menurut Shino mencari Bikochu malam-malam sangat tidak efektif. Akhirnya mereka membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka. Tapi Naruto yang kebagian berjaga malam itu malah ketiduran. Dan di tengah malam udara dingin memaksanya untuk bangun.
'Hoaam... Aku ketiduran. Brrrrrr, dingin sekali, aku jadi ingin kencing. Rasanya seperti de javu. Aku pernah merasakan ini sebelumnya,' batin Naruto. Tapi dia tidak terlalu mempedulikan pemikirannya itu. Setelah menyalurkan hasrat buang air kecilnya, Naruto mendengar sesuatu.
SPLASH!
Karena penasaran, Naruto mendekati sumber suara. Dari kejauhan dilihatnya sosok gadis cantik yang sedang berlatih di air terjun.
Naruto ingat sekarang, di masa sebelumnya dia juga mengalami ini. Tapi saat itu dia tidak berhasil mengetahui siapa gadis cantik itu. Rasa penasarannya semakin memuncak, dia bertekad untuk mengungkap siapa sebenarnya sosok gadis cantik itu. Didekatinya air terjun dengan hati-hati agar gadis itu tidak lari seperti dulu. Naruto bersembunyi di semak-semak, berpindah dari satu semak ke semak lainnya. Setelah cukup dekat Naruto keluar dan menatap gadis itu. Sang gadis yang kebetulan sedang menghadap ke arah Naruto kaget bukan main. Naruto juga tidak kalah kaget menyadari siapa gadis itu.
Gadis itu adalah Hinata!
Mata shapire Naruto dan mata lavender Hinata melebar saat tatapan mereka bertemu. Naruto memandang Hinata dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Matanya semakin membulat lebar menyadari Hinata yang hanya memakai celana dalam dan baju jaring-jaring dalam. Mukanya memanas, dalam hitungan detik pasti dia akan mimisan melihat Hinata dalam keadaan seperti itu.
"Hi-hina..." Naruto tiba-tiba jadi gagap melihat 'pemandangan indah' di depannya.
Dengan tenaga yang tersisa, Hinata mengumpulkan chakra di tangannya dan menghantam Naruto.
"Narutooooo... Dasar mesum! JYUUKEN!"
BUKH!
"Arghhh..." Naruto terlempar ke dalam hutan. Sementara itu Hinata memakai pakaiannya dan kembali ke tempat peristirahatan dengan wajah merah pekat. Hari ini hari yang sial bagi Hinata, Naruto melihatnya setengah telanjang! Mau disimpan dimana mukanya? Naruto juga keterlaluan, dia malah memperhatikan Hinata dari ujung kaki ke ujung kepala seolah menikmati 'pemandangan' di depannya.
Tak lama kemudian, Naruto kembali dengan darah mengalir dari hidungnya.
"Go-gomen Hinata-chan, aku benar-benar tidak sengaja." Naruto mendekati Hinata tapi Hinata tidak mempedulikannya.
"Pergi! Aku benci padamu! Dasar mesum!" bentak Hinata. Baru kali ini Naruto mendengar Hinata membentaknya.
"Hei, dengarkan aku."
"Ada apa ini?" tanya Kiba yang terbangun mendengar keributan antara Naruto dan Hinata. "Kalian ribut sekali. Kau juga Naruto, jaga yang benar dong. Jangan mengganggu Hinata, ini 'kan waktunya tidur."
Naruto akhinya kembali ke tempat duduknya. Ditatapnya Hinata sedih. Padahal kemarin hubungannya dengan Hinata sudah membaik. Tapi sekarang merenggang lagi. Malah sekarang Hinata membencinya. Ini adalah hal yang paling ditakutkan Naruto.

"Hinata-chan, aku mohon maafkan aku. Kita hanya salah paham. Aku tidak bermaksud untuk..."
"Hmph." Hinata memalingkan wajahnya. Dari dia bangun tidur tadi pagi, Naruto terus saja meminta maaf kepadanya.
"Hinata-chan, kumohon dengarkan aku."
"Naruto, sekarang kita sedang menjalankan misi. Jalankan dulu misi. Kita harus profesional," kata Hinata datar. Bahkan embel-embel 'kun' saja tidak digunakan, berarti Hinata benar-benar membenci Naruto sekarang.
Mendengar pertengkaran kedua orang itu membuat Kiba ingin menggoda mereka.
"Hoho, pangeran dan tuan putri sedang bertengkar rupanya," kata Kiba sambil terkekeh.
"Berisik!" bentak Naruto dan Hinata bersamaan. Kiba malah semakin ingin tertawa mendengar Naruto dan Hinata.
Menjelang siang, Bikochu berhasil ditemukan. Setelah serangga itu mencium bau head protector milik Sasuke, serangga itu langsung melesat terbang menuju arah yang diperkirakan adalah arah tempat Sasuke berada. Naruto dan yang lain berlari nonstop selama sehari semalam untuk mengimbangi kecepatan serangga itu. Berlari selama itu menguras tenaga dan membuat Hinata yang fisiknya paling lemah diantara mereka mulai tertinggal di belakang.
"Kiba, kau gendong Hinata. Kalau terus begini dia bisa tertinggal," kata Shino.
"Baik." Kiba memperlambat larinya. Naruto memandang Hinata khawatir. Andai saja mereka sedang tidak bertengkar sekarang, pasti Naruto akan membantu Hinata. Jujur saja dia cemburu mengetahui Kiba disuruh menggendong Hinata.
Di luar dugaan Hinata juga mau digendong Kiba. Padahal dia tahu betul Hinata itu pemalu. Apa Hinata mencoba balas dendam dengan membuat Naruto cemburu?
Naruto kembali menatap ke depan dan mengejar Bikochu bersama Shino. Memandang Kiba dan Hinata hanya membuat dirinya semakin cemburu.
"Kenapa berhenti?" tanya Kiba saat berhasil mengejar Shino dan Naruto. Tapi Kiba mengerti saat ia menatap ke depan. Sekarang mereka berada di ujung pulau, ujung Negara Api. Dengan kata lain Sasuke telah berada di luar Negara Api.
Shino menatap batu karang terjal dan gelombang air laut yang mulai pasang di hadapan mereka. Kemudian pandangannya beralih kepada Naruto.
"Kurasa pengejaran kita sampai disini saja. Kita perlu perahu untuk bisa menyebrang lautan. Bagaimana Naruto? Apa tidak apa-apa?"
"Ya, sepertinya disana sedang badai, kalaupun kita naik perahu akan sangat berbahaya kalau kita lanjutkan. Lagi pula ini sudah terlalu jauh. Obaa-chan pasti khawatir."
"Baiklah, kalau begitu kita segera mencari tempat istirahat di hutan itu."
Akhirnya mereka kembali ke hutan untuk mencari tempat beristirahat. Naruto berjalan paling belakang. Menatap Hinata yang masih digendong di punggung Kiba. Dia tahu Kiba itu sahabatnya dan Kiba tidak menyukai Hinata. Tapi entah kenapa dadanya tetap memanas. Dia semakin cemburu. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Saat ini Hinata membencinya, tidak mungkin Hinata mau digendong olehnya.
Naruto mulai merasa aneh sekarang, padahal dia gagal menemukan Sasuke. Tapi kenapa justru yang membuat hatinya tidak enak adalah kenyataan bahwa sekarang Hinata membencinya? Apa memang Hinata lebih penting dari pada Sasuke?
'Kalau disuruh memilih siapa yang akan kau pilih? Hinata atau Sasuke?'
Naruto kembali teringat pada pertanyaan Ino.
"Aku tidak bisa memilih salah satu Ino. Keduanya penting bagiku. Tapi kalau memang aku harus memilih, sepertinya aku lebih memilih Hinata," gumam Naruto pelan.
To Be Continue...

  
Chapter 8
-Karena Aku Menyayangimu-
Normal POV
Naruto menatap gadis lavender di depannya. Mata shapirenya memperhatikan rambut indigo pendek sang gadis yang melambai-lambai karena tertiup angin malam. Cahaya bulan malam memantul indah di benang-benang indigo sang gadis. Naruto semakin terpukau melihat gadis yang disukainya. Terpukau melihat kecantikan gadis yang bernama Hinata Hyuuga itu.
'Cantik sekali,' pikirnya. Tapi sedetik kemudian Naruto tersenyum kecut saat menyadari kalau Hinata masih digendong sosok lain yang tentunya bukan dirinya. Wajahnya kembali muram. Berulang kali Naruto menghela nafas panjang, menenangkan hatinya yang kian tak karuan. Berapa kali pun Naruto mencoba menghilangkan sosok Hinata dari pikirannya, usahanya selalu gagal karena bayangan sang gadis selalu menempel di otaknya.
Dan yang paling membuatnya tidak mengerti adalah tidak peduli seberapa dinginpun udara malam itu, Naruto tetap merasa 'gerah'. Dadanya masih saja memanas menatap pemandangan di depannya. Naruto tidak tahu harus berbuat apa sekarang, ia baru pertama kali mengalami hal ini. Mungkin inilah yang namanya perasaan 'cemburu', yang selama ini sering dibilang orang.
Pikiran-pikiran Naruto terhenti saat Shino yang berada paling depan memberikan sinyal untuk berhenti berlari. Naruto yang heran kemudian mendekatinya.
"Ada apa Shino?"
"Sepertinya ada seseorang di depan sana."
Naruto mengikuti arah pandangan mata Shino. Keadaan hutan yang gelap memaksa Naruto untuk manajamkan penglihatannya. Dilihatnya ada titik kuning kemerah-merahan di depan mereka. Seperti titik api. Itu berarti ada orang lain selain mereka di hutan ini.
"Hinata."
Hinata langsung mengerti apa maksud panggilan Shino. Hinata segera mengaktifkan byakugannya kemudian mengamati objek yang berada di depannya, dengan jarak kurang lebih 500 m. Sesekali urat di sekitar matanya berkontraksi untuk lebih memfokuskan penglihatannya. Setelah objek yang dicarinya ditemukan, dia menonaktifkan kembali byakugannya.
"Bagaimana?" tanya Kiba.
"Jangan khawatir, itu Team 10," jawab Hinata. Tiga laki-laki disana sedikit kaget tapi kemudian menghela nafas lega. Kemudian Shino memberi sinyal untuk kembali berlari melanjutkan perjalanan.
"Team 10? Apa yang mereka lakukan di tempat seperti ini?" tanya Naruto berusaha mengimbangi kecepatan Shino. Naruto khawatir kalau diam paling belakang terus, dia akan disuguhi 'pemandangan' yang tidak mengenakkan kemudian hatinya akan semakin sakit.
"Aku tidak tahu. Sekarang kita bergabung saja bersama mereka. Lebih banyak orang lebih baik," jawab Shino dengan ekspresi datarnya. Yang lain tidak merespon, merasa kalau keputusan sang pemimpin team sudah tepat.
Menyadari ada yang datang, Shikamaru menyuruh Ino dan Chouji waspada dan dijawab oleh anggukan kedua temannya tersebut.
"Shikamaru! Ini aku Naruto," teriak Naruto dari kejauhan untuk menenangkan ketiga murid Asuma-sensei yang sudah bersiaga. Setelah melihat Naruto dan juga Team 8, tiga orang itu kembali tenang dan menyimpan kunai mereka masing-masing.
"Sedang apa kalian disini?" tanya Naruto menghampiri Shikamaru.
"Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kalian lakukan di dekat perbatasan Negara Api?" tanya Shikamaru.
"Kami sedang mendapat misi mencari Sasuke," jawab Naruto.
"Sejauh ini?" Kali ini Chouji yang bertanya.
"Ya, dan sepertinya Sasuke sudah pergi dari Negara Api." Ekspresi wajah anggota Team 10 berubah sedih, Naruto tahu mereka khawatir padanya. Shikamaru menepuk pundak Naruto menenangkan. Tapi Naruto tidak ingin terlalu terlarut dalam kesedihan masalah Sasuke, ada yang lebih membuat hatinya sedih sekarang, yaitu Hinata.
"Jangan khawatirkan aku. Aku tidak apa-apa. Kalau kalian sedang apa disini?" tanya Naruto lagi.
"Kami mendapat misi untuk mengamankan perbatasan. Katanya akhir-akhir ini sering ada penyusup," jawab Chouji, kemudian melanjutkan acara makan snacknya yang tadi sempat tertunda.
"Kalau begitu kami juga akan istirahat disini," kata Shino sambil meletakkan tasnya. Diikuti Kiba yang menurunkan Hinata dari gendongannya. Naruto menyadari itu. Merasa ada kesempatan, kemudian dia mendekati Hinata.
"Hinata-chan..." panggil Naruto. Naruto bergegas mendekati Hinata. Berharap bisa berbicara dengan Hinata dan menjelaskan kesalahpahaman kemarin lusa. Tapi kelihatannya Naruto harus kecewa lagi. Kali ini Hinata juga menjauhinya, memilih untuk menyendiri dan membuat wajah Naruto kembali muram.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata aquamarine yang memperhatikan gerak-gerik mereka. Keningnya berkerut tanda kebingungan.
Naruto berjalan dengan lesu kemudian duduk di sebuah batu besar, agak jauh dari teman-teman yang lain. Tangannya memeluk lututnya. Pikirannya menerawang membayangkan runtutan kegagalan misinya. Bisa dibilang semua yang direncanakannya GAGAL TOTAL. Terutama misi-tidak-tertulis yang masuk kategori 'penting', yaitu menyatakan cinta kepada Hinata. Dengan keadaan Hinata yang sekarang membencinya, tentunya hal itu jadi sulit dilakukan.
Naruto mulai berpikir kalau tidak ada gunanya dia kembali ke masa lalu kalau akhirnya semua rencananya gagal begini. Masalahnya belum sembuh rasa kecewa dihatinya karena kegagalannya menyelamatkan Hokage Ke-3 dan Sasuke, dan sekarang malah bertambah masalah baru lagi. Masalah yang menurutnya jauh lebih besar dari dua masalah sebelumnya dan sangat dihindari Naruto dari awal dia kembali ke masa lalu. Yaitu Hinata membencinya.
Jujur saja, sejak awal Naruto paling takut akan hal ini. Saking takutnya, Naruto tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Ironisnya sekarang hal ini malah benar-benar terjadi pada dirinya. Bagi Naruto, Hinata itu terlalu baik dan polos untuk disakiti. Hinata itu gadis yang sensitif, makanya Naruto sudah bertekad untuk melindungi Hinata dan tidak membiarkannya sedih. Dia akan menghajar siapa saja yang membuat Hinata sedih.
Dan sekarang Hinata sedih dan membenci dirinya. Seharusnya sekarang dia menghajar dirinya sendiri 'kan?
Benar! Menghajar dirinya sendiri!
Seakan mendapat ide untuk mengurangi rasa bersalahnya, Naruto bersiap berdiri untuk 'menghajar' dirinya sendiri. Tapi sebelum dia berdiri, seseorang menepuk pundaknya.
"Hei Naruto, ada apa?" Mata aquamarine itu menatap Naruto penuh tanya.
"Ino..." Naruto mengurungkan niatnya dan kembali duduk disana. Ino mengikutinya duduk.
"Sepertinya kalian saling menjauh." Naruto mengerti siapa yang dimaksud 'kalian' oleh Ino.
Naruto menghela nafas panjang, tangannya kembali memeluk lutut kemudian dagunya disimpan di atas lutut. Ino memang selalu tahu saat Hinata dan dirinya sedang ada masalah. Awalnya Naruto tidak ingin menceritakan hal ini kepada Ino karena selama ini dia sudah terlalu banyak merepotkan gadis pirang itu. Tapi sekarang terlambat untuk itu, Ino sudah curiga. Dan bukanlah pilihan yang bijak untuk menyembunyikan sesuatu saat Ino sudah curiga. Gadis itu akan terus memaksa sampai Naruto mau menceritakan semuanya.
"Bukan saling menjauh, tepatnya Hinata-chan yang menjauhiku," kata Naruto membenarkan.
"Kok bisa?" tanya Ino sedikit kaget.
Merasa tidak punya pilihan, Naruto memutuskan untuk menceritakan masalahnya. Siapa tahu sekarang Ino bisa membantunya, seperti sebelum-sebelumnya.
"Kau tahu misi mencari Bikochu?" tanya Naruto, memulai penjelasannya.
"Tentu saja. Ingatanmu selama 16 tahun hidup di dunia sudah seperti kitab besar di otakku," kata Ino dengan tatapan kau-pikir-gara-gara-siapa-aku-tahu-semua-isi-otakmu.
Naruto memberikan jeda sebentar. Mempersiapkan kalimat selanjutnya. Ino menunggunya dengan tidak sabar.
"Ternyata gadis yang berada di air terjun adalah Hinata-chan..." gumam Naruto pelan.
"APA?" Ino melonjak kaget.
"Sssstttt!" Naruto menyimpan telunjuk kanannya di depan bibir, menyuruh Ino mengecilkan volume suaranya yang cempreng itu. Memang posisi mereka berada jauh dari teman-teman yang lain, tapi kalau berteriak begitu tetap saja yang lain bisa dengar.
"Gomen gomen, aku kaget. Lalu?"
"Masalahnya saat aku memergokinya di air terjun itu, Hinata-chan hanya memakai pakaian dalamnya. Dan dia menuduhku mengintipnya. Dia pasti sangat membenciku sekarang," kata Naruto panjang lebar.
Ino hanya melotot menatap Naruto tak percaya. Mulutnya menganga lebar, saking kaget mendengarkan kebodohan Naruto.
Plak!
"Owww! Apa yang kau lakukan?" tanya Naruto memegangi pipinya. Sekarang sudah ada gambar bekas tangan Ino yang berwarna merah di pipi kanannya.
"Tamparan itu untuk mewakili tamparan Hinata. Kau memang tidak bisa diharapkan. Kalau aku ada di posisi Hinata, aku akan melakukan hal yang sama. Seharusnya kau jangan langsung memergokinya begitu, dasar tidak sopan. Aku heran kenapa Hinata menyukai orang mesum sepertimu." Ino membuang muka dan menyimpan kedua tangannya di dada. Malang sekali Naruto, untuk kasus yang sama, dia mendapat hukuman ganda berupa Jyuuken Hinata dan tamparan maut Ino.
"Ayolah Inoooo, jangan memojokkanku begini. Aku tidak sengaja," kata Naruto memelas.
"Ini murni kesalahanmu. Satu-satunya cara adalah kau bicara jujur kepadanya."
"Bagaimana mau bicara? Kalau tiap aku mencoba menjelaskan saja dia selalu mengusirku dan meneriakiku mesum."
"Jangan menyerah baka! Coba terus, nanti juga hatinya luluh," bentak Ino. Naruto manggut-manggut mengerti, atau entah takut melihat kelakuan Ino. Kemudian Naruto kembali ke posisinya semula: duduk memeluk lutut. Ino memperhatikan Naruto, dia merasa iba juga melihat bocah yang biasanya banyak bicara sekarang malah murung begini.
"Jangan murung begitu," hibur Ino.
"..." Naruto tidak merespon, tapi dia berusaha memaksakan dirinya tersenyum. Meskipun hasilnya malah jadi terlihat aneh.
"Hei, kulihat sekarang kau sudah bisa menentukan pilihan antara Sasuke atau Hinata."
"Ya," jawab Naruto, kali ini tersenyum dengan lebih tulus.
"Kalau begitu perjuangkan pilihanmu itu Naruto. Sudah ya, aku tidur dulu." Ino menepuk pundak Naruto kemudian berlalu meninggalkannya. Naruto menatap punggung gadis pirang itu tanpa melepas senyumannya.
Pandangan Naruto beralih ke langit, menatap bulan yang bulat sempurna malam itu.
"Perjuangkanlah yang sudah kau pilih... Baiklah, aku mengerti." Naruto beranjak dan mengikuti arah yang ditinggalkan Ino untuk bergabung bersama teman-teman yang lain.
"Hinata-chaannnn, sini bersamaku."
"Hai."
"Hei kalian, perhatikan garis ini!" Ino menarik garis di tanah dengan sebuah batu kecil. "Ini daerah khusus perempuan, kalian para laki-laki jangan macam-macam dan melewati garis ini. Kalau melanggar kalian akan tahu akibatnya!"
"Iya-iya, dasar merepotkan," ujar Shikamaru sambil menguap.
Yang lain hanya berguman tidak jelas. "Memangnya siapa yang mau macam-macam padamu?"
"Kalian tidurlah, aku jaga duluan. Nanti 2 jam lagi giliranmu Naruto." kata Shino, menatap yang lain secara bergantian.
Di luar dugaan Naruto berdiri dan mendekati Shino. Yang lain menatapnya heran.
"Tidak, kau tidur saja duluan Shino. Aku yang akan jaga duluan."
"Kau yakin?" tanya Chouji. Karena tidak bisa dipungkiri rasa letih terlihat jelas di wajah Naruto dan Chouji bisa dengan jelas melihat itu.
"Ah, kemarin saja kau ketiduran," ledek Kiba dan didukung gonggongan Akamaru, "Guk, guk, guk!"
Naruto mengacuhkan ledekan Kiba. Kepalanya menggeleng kemudian mengibas-ngibaskan tangannya. Sebuah isyarat untuk menyuruh Kiba pergi tidur. "Kali ini aku tidak akan ketiduran, percayalah padaku. Aku memang belum mau tidur," kata Naruto meyakinkan teman-temannya.
Yang lain saling bertukar pandangan, kemudian beralih menatap Shino.
"Baiklah," kata ninja serangga itu.
Akhirnya yang lain pergi tidur sementara Naruto tetap duduk di dekat api unggun. Tangan kanannya memainkan api menggunakan potongan kayu bakar. Sebuah kegiatan yang sebenarnya terlalu kekanakan untuk dilakukan seorang remaja berumur 16 tahun + 10 bulan. Namun hatinya yang sekarang sedang sedih tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu. Keputusannya untuk berjaga duluan juga karena dia yakin dirinya tidak akan bisa tidur dengan keadaan hatinya yang sekarang. Mata shapire itu memandang kobaran api di depannya dengan tatapan kosong. Sedangkan pikirannya masih sibuk mencari cara untuk memperjuangkan pilihannya, mencari cara agar Hinata mau memaafkannya.
Dari kejauhan, Hinata diam-diam mencuri pandang ke arah Naruto. Entah kenapa hatinya jadi ikut sedih melihat keadaan Naruto yang murung seperti sekarang. Selain itu ada sedikit rasa khawatir di hatinya mengetahui Naruto berjaga pertama. Dia tahu betul kalau Naruto sudah lelah. Tapi sebisa mungkin Hinata mencoba menghilangkan perasaan itu. Naruto pantas mendapatkannya sebagai hukuman karena sudah berani mengintipnya.
"Sudah jangan khawatirkan Naruto, dia akan baik-baik saja," kata Ino menggoda Hinata.
Hinata yang ketahuan memperhatikan Naruto langsung gelagapan.
"Ti-tidak, um... aku tidak mengkhawatirkannya..."
"Hihi, kamu lucu. Sudahlah sekarang kita tidur."
"H-hai."

Keesokan paginya, Naruto bangun paling siang. Maklum saja, dia baru bisa tidur menjelang pagi. Saat tengah malam Shino sampai heran karena meski giliran berjaga Naruto habis, Naruto tidak juga tidur. Begitu juga saat jam 2 pagi saat giliran Shikamaru berjaga, Naruto malah melamun di depan api unggun.
Dikucek-kuceknya mata shapire itu dengan malas. Yang lain sedang membereskan barang-barang mereka. Malah Team 10 sudah bersiap untuk pergi. Dalam keadaan yang setengah sadar, Naruto melihat Ino bicara pada Shino.
Beberapa saat kemudian Shino menyuruh Naruto, Hinata dan Kiba berkumpul.
"Aku dan Kiba akan pulang ke Konoha duluan. Kau bersama Naruto saja ya Hinata?" tanya Shino kepada Hinata, tapi terdengar seperti sebuah paksaan yang tentu saja direspon dengan penolakan sengit Hinata.
"A-apa? Tidak mau!" tolak Hinata, ia sedang bertengkar dengan Naruto, mana mau dia bersama Naruto?
"Aku harus cepat-cepat melapor ke Hokage-sama mengenai misi ini, jadi kami akan kembali berlari agar cepat sampai."
"Tapi kakiku sudah tidak apa-apa," elak Hinata.
"Jangan paksakan dirimu Hinata, kau bersama Naruto saja."
Naruto hanya diam disana, tambah bingung. Dia merasa ada yang aneh. Kemudian tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan Ino. Kemudian Naruto memandang Ino dengan tatapan ada-apa-ini. Ino tidak menjawab, dia hanya mengedipkan sebelah matanya.
'Apa mungkin ini rencana Ino?' pikir Naruto.
"He-hei, tunggu." Hinata masih saja berusaha menolak.
"Kami pergi," kata Shino dan mulai berlari, diikuti Kiba dan Akamaru.
"Kami juga pergi," kata Ino, mewakili Team 10.
Akhirnya hanya tinggal Naruto dan Hinata berdua.
Naruto bergegas membereskan barangnya dalam diam. Keadaan menjadi sangat canggung sekarang. Padahal sebelumnya mereka akrab sekali. Insiden beberapa hari lalu benar-benar merusak kedekatan mereka. Padahal Naruto sudah susah payah membangun kedekatan dengan Hinata selama setahun terakhir ini.
"Hinata-chan," kata Naruto berusaha mengusir keheningan diantara mereka berdua. Barang-barangnya sudah selesai dibereskan. Dan sekarang dia mendekati Hinata.
Tapi Hinata malah pergi dan mulai berlari. "Hmmph, aku masih marah kepadamu."
Sebelum jauh, Naruto menahan tangan Hinata.
"Le-lepaskan tanganku!" Hinata meronta berusaha melepaskan diri dari pegangan kuat Naruto.
"Tidak akan. Sebelum kamu mau mendengar penjelasanku," kata Naruto tidak mau kalah.
"Tidak mau." Hinata menyiapkan tangan kanannya. "JYUUKEN!"
Pandangan Naruto melebar. Naruto terpaksa melepas pegangannya di tangan kiri Hinata, dia tidak mau dadanya jadi sasaran empuk Jyuuken Hinata untuk kedua kalinya.
WOOSH!
Naruto mengelak ke samping. Jyuuken Hinata berhembus beberapa senti di samping tubuhnya. Kalau terlambat sedetik saja, mungkin itu jadi Jyuuken kedua yang bersarang di dada Naruto. Naruto kemudian mundur. Rasanya tidak tepat kalau bicara dengan Hinata sekarang.
Hinata membuang muka dan kembali berlari melanjutkan perjalanan. Naruto berlari mengikuti Hinata dari belakang. Ditatapnya Hinata yang berlari di depannya dengan sedih.
'Apa yang harus kulakukan?' batin Naruto.
.
.
.
Satu jam berlalu dan keadaan masih sama. Tidak ada perkembangan berarti antara Naruto dan Hinata. Kemudian Naruto teringat tekadnya semalam.
'Perjuangkanlah yang sudah kau pilih.'
Kemudian bibir Naruto melengkung membentuk sebuah senyuman, tangannya mengepal. Dia harus mengakhiri ini. Kalau dengan cara halus tidak berhasil, mungkin harus dengan cara 'kasar'. Naruto tersenyum penuh arti.
Dia tahu ini penuh resiko, perbandingannya 50:50. Kalau berhasil Hinata akan memaafkannya, tapi kemungkinan terburuknya adalah Hinata akan semakin membencinya. Tapi hanya ini yang terpikirkan olehnya sekarang. Tidak ada cara lain untuk mengakhirinya.
Naruto menambah kecepatan larinya dan berlari tepat 1 meter di belakang Hinata. Hinata yang menyadarinya mulai merasa terganggu.
"Kenapa mengikutiku?" tanya Hinata.
"Eh? Mau bagaimana lagi? Tujuan kita 'kan sama mau ke Konoha," kata Naruto nyengir.
"Ukh..." Hinata terlihat salah tingkah. Naruto terkekeh melihat tingkah Hinata.
'Apa mungkin Hinata salah tingkah karena hanya berdua dengannya sekarang?' pikir Naruto. Tapi dibuangnya jauh pikiran-pikiran itu. Dia harus fokus pada rencananya.
"Hinata-chan..."
Hinata menoleh dan mendapati Naruto sudah berada kurang dari 10 cm darinya. Naruto memegang kedua tangan Hinata dan menariknya tanpa memberi kesempatan Hinata untuk menghindar.
"Kyaaa... Lepaskan!" teriak Hinata.
Kemudian Naruto menekan Hinata ke pohon, mengurungnya dengan kedua tangannya. Dengan kedua tangan yang dipegang seperti ini, Hinata tidak bisa menyerang Naruto lagi.
Hinata membelalakkan matanya. Dia tidak mengira Naruto akan melakukan hal ini.
Wajah Naruto terlihat serius. Walaupun sebenarnya ada rasa takut disana. Dia yakin kalau Hiashi tahu anak gadisnya diperlakukan seperti ini, nyawa Naruto tidak akan panjang lagi.
"Dengarkan aku," ujar Naruto memulai kata-katanya.
"Tidak!"
"Dengarkan dulu penjelasanku."
"Tidak, tidak, tidak! Lepaskan aku!" Hinata meronta sebisanya. Berusaha lepas dari cengkraman tangan kuat Naruto. Tapi percuma saja, kekuatannya berada jauh di bawah Naruto.
"Aku tidak mengintipmu Hinata-chan."
"Bohong..."
"Aku tidak bohong."
"Bohooong. Lepaskan aku..." Badan Hinata mulai bergetar.
"Percayalah padaku..." Naruto masih belum menyerah, dipegangnya Hinata lebih kencang.
"A-aku tidak percaya padamu," Hinata menunduk dan getaran di tubuhnya semakin kencang. "Lepaskan aku... aku mohon... a-aku mohon.. hiks..." Dan kalimat perintah itu sekarang sudah terdengar seperti permohonan. Begitu pelan dan menyayat hati siapa saja yang mendengarnya, termasuk Naruto. Refleks Naruto melepas pegangannya di tangan Hinata.
Hinata menutup wajahnya dengan kedua tangannya kemudian mulai terisak. Tetes demi tetes air mata keluar dari mata lavender itu. Mengalir keluar dari sela jemari lentik miliknya. Melihat cairan bening yang terus mengalir tanpa henti itu membuat Naruto mematung disana.
Dengan begitu semuanya jelas sekarang. Rencananya gagal lagi. Lagi, lagi dan lagi. Seharusnya dia tahu kalau Hinata itu terlalu lembut dan sensitif jadi tidak cocok jika diperlakukan dengan kasar. Dan Naruto merasa ini akhir dari segalanya. Impiannya untuk menjadi pacar Hinata hanya tinggal mimpi belaka, mimpi yang tidak akan tercapai.
Dada Naruto terasa sesak, hidungnya panas dan merah sekali. Matanya begitu berat dan pandangannya mengabur. Tanpa terasa, cairan bening yang bernama 'air mata' itu sudah memenuhi mata shapire Naruto. Sudah siap untuk mengalir turun. Reaksi yang spontan dilakukan tubuh Naruto saat melihat Hinata menangis di hadapannya. Terutama kali ini Hinata menangis gara-gara perlakuannya yang sudah keterlaluan. Naruto meremas dadanya saat tiba-tiba hatinya terasa sakit, seperti ditusuk-tusuk.
Air matanya mulai mengalir di pipinya. Naruto mengusapnya berulang kali. Dia tidak mau menangis karena menurutnya menangis itu adalah tanda kelemahan seorang laki-laki. Tapi berapa kalipun Naruto mengusap air matanya, mata shapirenya terus saja mengeluarkan air mata lain. Dia benci kenapa tubuhnya bereaksi di luar kendalinya seperti ini. Rupanya gadis lavender di depannya begitu berarti sampai-sampai membuatnya seperti ini.
Tapi sekarang ia sadar, dirinya tidak pantas untuk Hinata. Hinata berhak mendapatkan laki-laki yang lebih baik darinya.
"Go-gomen Hinata-chan." Naruto menjauh sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya. "Ke-keberadaanku di dekatmu... hanya membuatmu sedih. Mulai sekarang aku... aku tidak akan mendekatimu lagi... Gomen..."
Naruto berjalan meninggalkan Hinata yang masih terduduk di dekat pohon. Tanpa Naruto ketahui tangis Hinata berhenti, Hinata mengangkat wajahnya dan terlihat kaget.
"Dan satu lagi... Aku... Aku tidak mungkin mengintip gadis yang kusukai..." kata Naruto dengan suara bergetar. Bersamaan dengan itu Naruto kembali berjalan sambil terus menghapus air matanya yang tidak mau berhenti mengalir.
Mata Hinata membulat, tangan kanannya menutup mulutnya karena tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Saat itu juga Hinata meneguhkan hatinya, sekarang bukan saatnya untuk berdiam diri. Bukan saatnya untuk mempedulikan rasa malu dan marah gara-gara kejadian beberapa hari lalu. Karena sekarang Naruto akan meninggalkannya, padahal dia tidak mau kehilangan Naruto. Dia takut kalau Naruto sampai meninggalkannya.
Tanpa pikir panjang lagi Hinata langsung berlari dan memeluk Naruto dari belakang. Menjauhkan rasa gugup dan malu yang menghampirinya saat dirinya melakukan hal itu.
"Naruto-kun!"
Naruto merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang. Juga kepala yang menekan punggungnya.
"Tolong... Jangan pernah meninggalkanku... hiks..." Hinata kembali terisak dan membasahi jaket orange Naruto.
Beban yang ada di diri Naruto seolah menghilang begitu saja setelah mendengar kalimat Hinata. Tapi meski begitu, air mata malah semakin deras keluar dari matanya. Air mata bahagia. Naruto segera membalikkan badannya dan membalas pelukan Hinata. Memeluk tubuh rapuh sang gadis seolah tak mau melepasnya.
Hinata kembali mempererat pelukannya. Kepalanya dibenamkan di dada Naruto. Naruto yang menyadari itu mengusap-usap kepala Hinata.
"Aku janji tidak akan meninggalkanmu Hinata-chan... Karena aku... aku sangat menyayangimu..." gumam Naruto di telinga Hinata. Membuat tubuh Hinata kembali bergetar, saat air mata kebahagiaan memaksa keluar dari mata lavendernya.
"A-aku juga..." balas Hinata di sela tangisannya. Ia semakin mempererat pelukannya kepada Naruto.
Cukup lama keduanya dalam posisi seperti itu. Menikmati kebersamaan mereka, karena inilah yang sudah lama mereka impikan, terutama Hinata.
"Kyaaa... Apa yang kamu lakukan Naruto-kun?"
Hinata terlonjak kaget saat Naruto menggendongnya ala bridal style. Dan melanjutkan perjalanan mereka menuju Konoha.
"Pegangan," kata Naruto sambil nyengir.
"Ti-tidak, turunkan aku, aku bisa jalan sendiri," kata Hinata terbata-bata. Belum cukup rasa malunya diuji sesaat yang lalu saat mereka berpelukan cukup lama, sekarang Naruto sudah melakukan hal yang membuatnya kembali berjuang menahan rasa malunya. Keadaan wajah Hinata sudah bisa ditebak: merona merah seperti kepiting rebus.
"Tidak mau." Naruto masih bersikeras, mengacuhkan Hinata yang nyaris pingsan di gendongannya.
"Tapi aku sudah tidak apa-apa, dari tadi pagi 'kan aku sudah bisa berjalan sendiri."
"Bukan masalah itu."
"Lalu?" tanya Hinata bingung.
"Aku cemburu," kata Naruto polos.
Hinata kaget. Hinata tidak bodoh, dia mengerti kalau cemburu itu tanda cinta. Kemudian pandangannya dialihkan ke objek lain, menjauh dari tatapan Naruto untuk menyembunyikan pipinya yang mulai memerah lagi.
"Aku cemburu waktu kemarin melihatmu digendong oleh Kiba. Aku juga ingin menggendongmu," lanjut Naruto karena menyadari Hinata tak kunjung merespon.
"Ta-tapi, jangan seperti ini. Aku malu." gumam Hinata pelan. Naruto terkekeh mendengar kata-kata Hinata. Memang Hinata paling lucu kalau sedang malu seperti itu. "Digendong di belakang saja."
"Baiklah, baiklah." Naruto kemudian mengalah dan Hinata turun kemudian digendong di belakang. Walaupun sebenarnya posisi seperti ini sama-sama membuat dada Hinata berdetak kencang. Karena pada posisi ini wajahnya berada dekat sekali dengan wajah Naruto. Selain itu dia harus memeluk leher Naruto agar tidak jatuh.
Keduanya terdiam setelah itu. Tapi tak lama Hinata memulai percakapan lagi. Ia ingin menanyakan hal yang dari tadi mengganjal di hatinya.
"Naruto-kun... apa sekarang kita..." Hinata tidak melanjutkan kalimatnya, terlalu malu untuk menyebutkan kata 'itu'.
"Kita apa?" tanya Naruto. Seperti biasa, tidak sadar dengan apa yang dibicarakan.
"Itu... Apa... apa kita... um.. pacaran?" Hinata tidak tahu sudah semerah apa pipinya sekarang, dia hanya bisa bersembunyi di belakang kepala Naruto.
Naruto tersenyum lebar. "Tentu saja. Kurasa aku tidak perlu lagi bertanya hal itu padamu. Lagipula kalaupun sekarang aku bertanya langsung dan memintamu jadi pacarku, kemudian kamu menolakku, aku akan tetap jadi pacarmu."
"Eh? Kenapa begitu?" tanya Hinata heran. Kepalanya agak maju kedepan karena penasaran. Ternyata Naruto juga menoleh ke arahnya sehingga tatapan mereka bertemu.
"Soalnya tidak ngobrol denganmu selama sehari saja membuatku kesepian. Karena itu, aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Aku tidak akan melepasmu lagi, meskipun kamu menolak jadi pacarku," kata Naruto sambil tersenyum. Tapi Hinata tahu kalau kata-kata Naruto itu serius.
"Baka," gumam Hinata pelan. Kata-kata Naruto begitu polos tapi sukses membuat hatinya berbunga-bunga.
"Hehe." Naruto nyengir sambil terus berjalan.
'Kalaupun kamu memintaku secara langsung, aku tidak akan menolak untuk jadi pacarmu Naruto-kun', batin Hinata. Kemudian kepalanya disandarkan ke pundak Naruto dan pelukannya ke leher Naruto semakin erat.
"Arigato," bisik Hinata di telinga Naruto. Naruto hanya terseyum. Tampaknya perjalanan mereka kali ini akan menyenangkan.

Sesampainya mengantar Hinata ke rumahnya, Naruto diajak Hinata untuk minum teh dulu. Awalnya Naruto menolak karena takut kalau harus berhadapan dengan Hiashi. Apalagi kalau mengingat perlakuannya kepada Hinata saat di perjalanan. Tapi setelah Neji bilang kalau Hiashi sedang tidak ada di rumah, Naruto akhirnya mau untuk sejenak minum teh di mansion besar milik Clan Hyuuga itu.
"Terima kasih untuk tehnya. Aku pulang dulu," kata Naruto setelah acara minum tehnya selesai. Hinata mengantarnya ke depan gerbang.
"Hati-hati," kata Hinata melambaikan tangan kepada laki-laki yang kini sudah menjadi pacarnya itu.
Tapi belum sampai 5 meter berjalan, Naruto berhenti kemudian berbalik. Tatapan mereka bertemu, shapire bertemu lavender. "Hinata-chan..."
"Ya?" Hinata memandang Naruto penuh tanya.
"Ternyata kamu juga suka warna pink ya? Kupikir hanya suka warna lavender saja," gumam Naruto sambil terkekeh.
Awalnya Hinata tidak mengerti apa maksud perkataan Naruto. Tapi kemudian dia ingat kejadian di air terjun tempo hari. Waktu dia berlatih di sana, Hinata memakai celana dalam berwarna pink. Menyadari itu sontak pipi Hinata memerah seperti kepiting rebus akibat rasa malu dan marah yang bercampur jadi satu.
"Naruto-kun!" Hinata melepas geta (sandal kayu) miliknya, bersiap untuk melemparkan 'benda keras' itu. Targetnya tidak lain dan tidak bukan adalah kepala bocah pirang di depannya. Ia mengambil ancang-ancang dan...
BLETAK!
Headshot! 100 point untuk Hinata! Benda itu sukses mengenai kepala Naruto! Rupanya Naruto tidak siap, karena tidak mengira Hinata akan melakukan hal itu.
"Awww..." Naruto mengusap-usap kepalanya yang sakit. Lain kali dia harus hati-hati karena ternyata meskipun Hinata pendiam, jangan kira dia tidak bisa marah.
"Rasakan itu dasar mesum!" bentak Hinata, menyimpan kedua tangannya di dada. Hinata tidak mengerti jalan pikiran Naruto. Baru saja mereka baikan, tapi Naruto hobi sekali menggodanya.
"Hei..."
"Apa?" bentak Hinata lagi, masih marah.
Tatapan mereka kembali bertemu. Tapi kali ini Hinata kaget, karena tatapan Naruto berbeda dari sebelumnya. Tatapannya melembut dan terasa begitu hangat. Tatapan seperti inilah yang membuat Hinata menyukai bocah pirang ini. Ditambah lagi bibirnya yang kali ini memasang seulas senyum.
'Naruto-kun begitu... tampan,' batin Hinata. Membuat Hinata mematung disana. Pipinya merona lagi.
"Besok aku tunggu di taman jam 10...," ujar Naruto, memberikan jeda.
"..." Hinata masih mencerna kata-kata Naruto.
"Jangan terlambat ya, ini kencan pertama kita," kata Naruto memamerkan cengirannya yang khas, kemudian berlalu meninggalkan Hinata yang masih mematung disana.
Mendengar kata 'kencan pertama' membuat pipi Hinata lebih merah dari sebelumnya. Jantungnya berdetak kencang seakan ingin meledak dan lututnya lemas seakan kakinya meleleh. Seumur hidup dirinya sangat mengharapkan kejadian ini.
Ditatapnya punggung Naruto sampai menghilang di tikungan. Sepertinya rasa marah Hinata kepada bocah pirang itu sudah lenyap entah kemana. Karena sekarang bibirnya melengkung, ia tersenyum. Bersyukur karena mimpinya telah jadi kenyataan.
To Be Continue...



Chapter 9
- Aku, Kamu, Kita -
Normal POV
Naruto terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Bisa dibilang tidur ternyenyaknya selama setahun terakhir ini. Kejadian kemarin telah membuat hatinya nyaman dan berbunga-bunga. Naruto juga sebenarnya tidak menyangka dirinya akan sesenang ini. Dia tidak menyangka seorang Hinata, sang gadis pemalu, bisa berpengaruh besar pada kehidupannya. Padahal setahun lalu, saat masih di tubuh remajanya, untuk sekedar ngobrol dengan Hinata saja sangat jarang. Apalagi sampai terpikir untuk menjadikannya pacar. Tapi sekarang semuanya telah berubah.
Sekarang Naruto sedang memilih baju untuk kencannya. Dia tidak punya banyak baju bagus. Hanya beberapa t-shirt yang ia punya. Sebagai seorang yatim piatu yang hidup sendiri sejak kecil, itu memang hal yang wajar. Ia harus mengalokasikan uangnya untuk kebutuhan yang lebih penting.
Naruto tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya hari ini. Dari mulai bangun tidur, senyuman terus melekat di bibirnya. Begitupun saat sedang memilih t-shirt. Saat menemukan t-shirt yang menurutnya paling bagus, senyumannya tambah lebar kemudian dipakainya t-shirt tersebut.
Kemudian Naruto memandang dirinya di cermin. Disisirnya rambut pirang jabrik miliknya. Meskipun susah juga karena rambutnya susah diatur. Naruto bisa pastikan kalau baru kali ini benda bernama sisir kembali dipakainya setelah sekian lama. Sebelumnya ia memang terlalu cuek pada panampilannya. Entah kapan terakhir kali ia memakai benda yang berfungsi merapikan rambut itu.
Ia berulang kali memperhatikan dirinya dari ujung kaki sampai ujung rambut, memastikan tidak ada yang salah. Itu semua demi penampilannya hari ini. Dia ingin tampil baik di depan Hinata yang kini sudah resmi jadi pacarnya. Biar bagaimana pun ini kencan pertamanya, kencan pertama dalam hidupnya.
Saking asiknya siap-siap, dia tidak sadar kalau hari sudah mulai siang.
"Sial, sudah jam 09:55!" umpat Naruto.
Naruto berlari ke arah pintu keluar kamar, sambil mengambil jaket orangenya di balik pintu. Tapi baru 3 langkah meninggalkan kamar, dia tersadar kalau jaket orangenya terlalu 'biasa' karena sudah sering dipakai. Ia kembali ke kamar dan dilemparnya jaket tersebut kemudian berlari ke luar.
Ia melempar jaket orange miliknya tanpa mempedulikan arah lemparannya. Jaketnya mengenai dinding dan membuat kalender jatuh. Dengan menunjukkan tanggal yang dilingkari oleh spidol hitam tebal.
Tanggal 17 Oktober, tepat 2 bulan setelah hari ini.

"Gomen Hinata-chan, aku terlambat. Sudah lama?" tanya Naruto saat tiba di taman. Hinata tampak sudah berada di taman dan sedang duduk di kursi taman.
"Belum, aku juga baru datang. Selain itu bukannya memang kita janjian jam 10 'kan? Sekarang tepat jam 10."
"Oh benar juga, hehe."
Siang itu Hinata memakai dress selutut berwarna lavender muda. Dan juga jepit rambut pemberian Naruto yang tersemat manis di rambut indigonya. Hal yang tidak biasa dilihat oleh Naruto. Sehingga membuat bocah pirang itu memandang Hinata lama.
"Naruto-kun?" Hinata yang menyadari ditatap oleh Naruto jadi gugup.
"Hi-Hinata-chan, a-aku... aku suka kamu berpakaian seperti ini." Hmm, sepertinya kali ini rasa gugup Hinata sudah menular kepada Naruto. Dan kalau dilihat lebih dekat, akan terlihat warna semu merah di pipi Naruto.
"Um... Bibi pelayan di rumahku bilang, sebaiknya perempuan itu memakai rok saat kencan. Selain agar anggun, juga agar tidak melupakan jati dirinya sebagai perempuan."
Naruto hanya manggut-manggut, merasa sependapat dengan perkataan si bibi pelayan. Bahkan kalau ada kesempatan dia ingin berterima kasih kepadanya, karena perkataannya Hinata jadi terlihat seanggun seperti sekarang.
"Aku juga senang kamu memakainya." Pandangan Naruto beralih ke jepit rambut di kepala Hinata.
"A-Aku memang suka jepit rambut ini," gumam Hinata pelan, sambil menyembunyikan pipinya yang sudah memerah.
Yup, Hinata memang tidak bohong saat bilang dia menyukai jepit rambut pemberian Naruto. Bukan karena harganya yang mahal. Karena kalau masalah harga, Hiashi pernah membelikannya jepit rambut yang harganya berkali-kali lipat lebih mahal dari jepit rambut pemberian Naruto. Hinata menyukainya karena memang bentuknya bagus dan juga karena itu pemberian Naruto. Dia tahu seberapa keras perjuangan Naruto untuk membelikannya jepit rambut itu.
"Bagus lah. Kalau begitu ayo kita pergi. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Ikut aku."
"He-hei." Naruto menggenggam tangan Hinata dan mengajaknya ke suatu tempat. Tanpa mempedulikan Hinata yang kaget karena tiba-tiba Naruto menggenggam tangannya.

"Indah sekali 'kan?" tanya Naruto.
Mereka sedang berada di dekat sebuah danau kecil. Letak danau tersebut tidak jauh dari tempat mereka biasa latihan. Dan ternyata danau itulah yang menjadi sumber air dari sungai kecil yang selama ini mereka jadikan tempat istirahat setelah latihan. Kalau diukur, mungkin danau tersebut ukurannya tidak akan melebihi sebuah lapangan basket. Malah lebih cenderung terlihat seperti kolam dari pada sebuah danau.
"Ya. Aku tidak tahu kalau ada tempat seindah ini di sini," jawab Hinata. Raut wajah kekaguman tergambar jelas di wajahnya.
"Aku juga baru tahu beberapa bulan lalu."
Mereka berdua terdiam beberapa saat untuk menikmati suasana disana. Banyaknya pohon yang tumbuh menjadikan udara disana sejuk meskipun matahari bersinar terik.
"Oh ya satu lagi," ujar Naruto kemudian kembali menarik tangan Hinata. Membawanya lebih dekat ke danau. "Ayo kesini."
Hinata semakin penasaran dengan apa yang akan Naruto tunjukkan. Rasa penasarannya terjawab saat berada tepat di sisi danau.
"Wah, apa ini ikan-ikan peliharaanmu Naruto-kun?" tanya Hinata. Di danau kecil itu ternyata banyak ikan koi dengan berbagai ukuran dan warna.
"Bukan, dari pertama aku kesini mereka memang sudah ada," ujar Naruto sambil mengeluarkan sebuah bungkusan dari kantong celananya yang isinya adalah makanan ikan. Kemudian ia melemparkannya ke kumpulan ikan di danau. Membuat ikan-ikan disana berebut untuk mendapatkan makan siang mereka.
"Aku hanya memberi mereka makan saat aku kesini," kata Naruto lagi.
Hinata melihat ikan-ikan yang sedang makan itu sambil tersenyum. Menyenangkan sekali melihat ikan-ikan itu makan, apalagi di tempat yang indah seperti ini.
Naruto kemudian duduk di hamparan rumput hijau di bawah pohon yang rindang. Menepuk tempat disisinya, menyuruh Hinata duduk. Hinata mengerti, kemudian ikut duduk di samping Naruto.
"Aku suka tempat ini. Suasana di sini bisa membuatku tenang. Makanya setiap aku sedih atau bosan, aku selalu kesini," gumam Naruto sambil menatap langit yang kebetulan cerah sekali siang itu. Angin sepoi-sepoi menerpa rambut pirang Naruto yang tidak memakai head protector, membuatnya terlihat seperti efek di film-film. Diam-diam Hinata memperhatikan wajah Naruto sambil tersenyum.
Naruto kemudian membaringkan tubuhnya di hamparan rumput. Tanpa diduga, Hinata melakukan hal yang sama. Menyadari itu, Naruto menggenggam tangan Hinata. Membuat gadis itu sedikit terlonjak, tapi kembali tenang saat melihat Naruto tersenyum ke arahnya.
"Kamu tahu? Tempat ini juga tempat yang bagus untuk berdoa," kata Naruto sambil kembali menatap langit.
"Benarkah?"
"Ya, sebulan lalu aku berdoa agar aku bisa menjadi pacarmu. Dan kamu lihat 'kan sekarang? Doaku terkabul."
Senyum Hinata melebar. "Kalau begitu aku juga akan berdoa."
Hinata menutup kedua matanya. Naruto memperhatikannya dengan seksama.
"Apa yang kamu doakan?" tanya Naruto saat Hinata membuka matanya kembali.
"Itu... itu rahasia," jawab Hinata. Entah apa yang didoakannya, yang jelas itu telah membuat pipinya merona merah.
"Hah? Kok rahasia?"
"A-ku malu mengatakannya..." Wajah Hinata berpaling ke arah lain, sudah tidak sanggup menatap Naruto yang berada dekat dengannya.
"Baiklah-baiklah." Naruto akhirya mengalah, membuat Hinata menghela nafas lega.
"Ngomong-ngomong kamu lapar?" tanya Naruto.
"Sedikit."
"Kalau begitu kita ke Ichiraku saja ya? Sudah lebih dari seminggu aku tidak kesana." Naruto jadi bersemangat saat membicarahan hal yang berkaitan dengan ramen dan Ichiraku. Hinata yang tidak ingin mengecewakan Naruto akhirnya mengangguk setuju.

"Naruto-kun..." panggil Hinata pada Naruto yang berada tepat disampingnya.
"Hmm?" respon Naruto tanpa menoleh.
"Aku... aku malu kalau berpegangan tangan seperti ini," gumam Hinata pelan.
Mulai dari danau sampai sekarang hampir sampai di Ichiraku, pegangan Naruto di tangan Hinata memang tidak pernah terlepas. Seakan tidak ingin kehilangan Hinata.
Para penduduk yang melihat mereka mengeluarkan reaksi yang macam-macam. Ada yang bisik-bisik tidak jelas, ada yang tersenyum, ada yang biasa-biasa saja. Bahkan ada pula yang menatap mereka heran, kemudian berlalu dan hanya bilang: "Dasar anak zaman sekarang..."
"Tidak apa-apa. Biar semua orang tahu kalau kita sekarang pacaran." Mungkin Naruto merasa kalau dirinya sudah hampir 17 tahun, dan lupa kalau dirinya sekarang berada di tubuh seorang anak yang bahkan 13 tahun saja belum.
Hinata hanya bisa menunduk menanggapi perkataan Naruto. Ia amat gugup dan malu. Tapi disisi lain Hinata akui kalau dirinya senang mendapat perlakuan seperti ini dari Naruto. Ia jadi merasa terlindungi.
Saat sampai di Ichiraku, Teuchi dan Ayame tak kalah heran memandang Naruto dan Hinata. Kemudian Ayame mendekati mereka. Belum juga Naruto memesan pesanannya, Ayame sudah menawarkan sesuatu yang 'special' untuk pasangan baru itu.
"Aku punya ramen special couple," katanya.
"Hah? Sejak kapan ada menu itu?" tanya Naruto heran. Selama jadi pelanggan ramen di tempat itu, Naruto tidak pernah mendengar menu yang barusan dibilang Ayame.
"Sudahlah itu tidak penting, kalian mau pesan itu tidak? Pokoknya menu yang cocok untuk pasangan seperti kalian," kata Ayame lagi.
"Bagaimana Hinata-chan?" Naruto memandang Hinata, meminta pendapat.
"Aku terserah Naruto-kun saja."
"Baiklah kami pesan satu," seru Naruto semangat. Karena rasa rindu lidahnya pada ramen sebentar lagi terobati.
Tidak sampai 10 menit, pesanan mereka sudah datang.
"Whoa besar sekali," seru Naruto, kedua matanya berbinar-binar.
Di depannya sekarang sudah ada semangkuk besar ramen. Hampir dua kali lipat porsi biasa.
"Tapi Ayame-Neesan, maksudku pesan satu itu pesan masing-masing satu. Kenapa cuma semangkuk?" tanya Naruto heran.
"Itu sudah dua porsi kok, makanya kuberi 2 sumpit," jawab Ayame santai. Naruto dan Hinata saling berpandangan tidak mengerti.
"Ma-maksudmu?" Naruto menatap putri Teuchi itu semakin bingung. Sedangkan Hinata mulai gelisah, perasaannya mulai tidak enak. Dia sudah mulai menyadari, jangan-jangan...
"Mangkuk itu untuk kalian berdua, semangkuk berdua. Itulah sebabnya kusebut menu special couple," jawab Ayame dengan senyum menggoda di wajahnya. Kemudian dia berlalu meninggalkan dua orang yang mematung disana.
Mulut Naruto membulat membentuk huruf O. Sementara Hinata sedang menahan degupan jantungnya, ternyata benar dugaannya. Kali ini kemampuan menahan pingsannya kembali diuji di kencan pertamanya. Karena tentunya pingsan di kencan pertama bukanlah hal yang baik. Karena ini akan jadi kenangan mereka berdua. Kenangan Hinata dan Naruto seumur hidup mereka.
Dengan gugup keduanya memegang sumpit masing-masing. Dengan mangkuk yang hanya satu, otomatis memaksa mereka untuk berhadap-hadapan. Mereka bisa memandang wajah mereka satu sama lain, bisa memandang rona merah wajah orang di hadapan mereka.
"Itadakimasu," kata Naruto.
"I-itadakimasu..." timpal Hinata.
Mereka pun makan dalam diam. Hanya suara-suara seruput ramen yang terdengar. Sampai kemudian mereka mematung menahan nafas saat...
Helaian ramen yang dimakan Naruto ternyata adalah ramen yang juga sedang dimakan Hinata. Mereka saling pandang dengan jarak wajah yang hanya 10 cm. Sehelai ramen menghubungkan mulut mereka.
Keduanya bingung dengan apa yang harus mereka lakukan. Kalau nekat melanjutkan, pasti mereka akan berciuman. Di bibir pula. Suatu hal yang rasanya kurang pantas dilakukan anak berumur 12-13 tahun. Hampir semenit mereka terdiam, belum ada yang mau mengambil tindakan atas keadaan ini. Muka keduanya sudah sangat merah, tidak terkecuali Naruto.
Ditengah kebingungan, akhirnya Hinata memutuskan untuk menggigit ramennya sehingga mulut mereka tidak 'terhubung' lagi. Naruto yang mengerti keadaan segera memakan sisa ramen yang masih menggantung di mulutnya. Ia amat menikmati ramennya, karena beberapa saat yang lalu helaian ramen itu menempel di mulut Hinata.
'Kalau begitu sama saja dengan...' kata Naruto dalam hati. Tapi kemudian ia menghilangkan pikiran-pikiran kotornya.
Naruto kemudian menghela nafas panjang. Begitu juga dengan Hinata. Bersyukur karena keputusan Hinata tepat. Sekarang masih terlalu cepat, suatu hari akan datang saatnya dimana mereka bisa melakukannya lagi. Saat umur mereka sudah cukup, dan bukan sekarang.
"Sepertinya menu special couple harus jadi menu tetap di sini Tou-san," kata Ayame sambil tersenyum memandang Naruto dan Hinata.
"Haha, kau ini ada-ada saja," balas Teuchi tertawa melihat kelakuan anak perempuannya.

Naruto dan Hinata sudah selesai makan di Ichiraku. Namun, baru saja mereka keluar dari kedai tersebut, Hinata tiba-tiba menarik tangan Naruto.
"Waaaaaa, ada apa Hinata-chan?" tanya Naruto.
"Ada Sakura-chan dan Ino-chan," jawab Hinata sambil setengah berlari. Andai saja dia sedang memakai pakaian ninjanya, dia pasti akan berlari sekuat tenaga.
"Terus kenapa?" tanya Naruto polos, berusaha untuk mengimbangi kecepatan Hinata.
"Aku tidak mau mereka melihat kita, pasti ditanya yang aneh-aneh."
"Tinggal jawab saja 'kan, heeeiii..." Tiba-tiba Hinata berbelok membuat Naruto oleng tapi masih bisa menyeimbangkan diri. Dan akhirnya keduanya berhenti di sebuah lorong sepi.
"Aku belum siap untuk diinterogasi mereka," kata Hinata setelah mengatur nafasnya karena sedikit lelah.
Tapi Naruto malah terseyum, membuat Hinata menatapnya heran. "Tapi sepertinya kamu salah memilih tempat sembunyi, lihat."
Hinata mengikuti arah pandangan Naruto.
Mata Hinata melotot saat melihat Sakura dan Ino di ujung lorong. Rupanya dari awal Sakura dan Ino memang akan melewati jalan ini. Mereka menatap Naruto dan Hinata heran, kening mereka berkerut. Mereka berpikir, kenapa juga Naruto dan Hinata harus menghindari mereka?
Tapi saat mereka mendekati Naruto dan Hinata yang tengah gugup setengah mati, mereka tahu kenapa pasangan itu berlari.
"Wah, wah, wah setelah hampir setahun kalian dekat, akhirnya kalian pacaran juga," kata Sakura.
Hinata mengikuti arah pandangan Sakura, yaitu... tangan Naruto yang masih dipegang Hinata. Refleks Hinata melepas pegangannya.
'Ukh, Hinata bodoh, sekarang mereka berdua sudah tahu semuanya,' batin Hinata.
"Sepertinya ada yang harus mentraktir kita makan Sakura." Kali ini Ino yang bicara. Tangannya menyikut-nyikut dada Naruto.
"Ya, benar sekali Ino," timpal Sakura sambil tersenyum lebar.
"Aku mau ta..." Perkataan Ino terpotong oleh Naruto.
"Stop! Baiklah-baiklah, aku akan mentraktir kalian berdua, asal jangan tanya-tanya Hinata-chan sekarang. Kalau hanya mentraktir kalian berdua aku sanggup," kata Naruto mantap.
"Asal jangan di Ichiraku ya? Minimal Yakiniku Q lah," kata Ino sambil melipat tangannya di dada. Sakura mengangguk-ngangguk menyetujui kata-kata sahabatnya itu.
"Hmmph... Iya di Yakiniku Q," jawab Naruto pasrah.
"Yayyy..." seru Sakura dan Ino.
Naruto jadi heran, Ino kadang bisa bersikap dewasa, tapi juga bisa bersikap kekanak-kanakan seperti sekarang. Merepotkan, kalau kata Shikamaru.
"Kapan? Kapan?" tanya Ino antusias.
"Besok setelah kita selesai kerja saja Ino, jam 5." Naruto sudah mulai malas menanggapi dua kunoichi di hadapannya.
"Baiklah, aku juga tidak ada acara jam segitu," kata Sakura.
"Kalau begitu kami pamit dulu, takut mengganggu acara kalian, hehe." Ino nyengi lebar kemudian menarik tangan Sakura untuk segera pergi. Dan akhirnya tinggal Naruto dan Hinata.
"Paling tidak Ino tidak bertanya yang aneh-aneh padamu," kata Naruto.
"Ya." Untuk sementara ini Hinata bisa bernafas lega.
Setelah itu Naruto mengantarkan Hinata pulang.
"Arigato untuk hari ini. Aku senang sekali," kata Hinata sesampainya di depan gerbang Hyuuga Mansion.
"Aku juga. Aku tidak sabar menunggu kencan-kencan kita selanjutnya," balas Naruto.
"..." Mendengar kata 'kencan selanjutnya' membuat pipi Hinata memerah.
"Aku pulang dulu, sampai ketemu besok." Tanpa diduga Naruto mendekati Hinata dan mengecup kening Hinata yang tertutupi poni. Kemudian segera berlari pulang, sambil melambaikan tangannya. Kelihatannya dia takut Hiashi memergokinya mencium kening Hinata.
"..." Hinata hanya terdiam mamatung, tidak sanggup bahkan hanya untuk membalas lambaian tangan Naruto. Ia terlalu sibuk menahan detak jantungnya. Senyuman terlukis jelas di wajahnya yang merona merah. Hari ini benar-benar menyenangkan. Kencan pertama yang menurutnya sangat sempurna dan tak akan pernah ia lupakan.

Sesampainya di apartemen, Naruto menjatuhkan dirinya di kasur. Kemudian berbalik menatap langit-langit sambil senyum-senyum sendiri. Kalau ada orang lihat, sudah dipastikan akan menyangka Naruto gila.
Tapi Naruto memang tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Dia tak menyangka dirinya akan berani mencium kening Hinata di depan mansionnya. Itu sangat penuh resiko, kalau sampai Hiashi memergokinya, dijamin Naruto akan diseret ke dalam mansion. Entah di dalam sana akan dihajar atau dimarahi habis-habisan. Yang jelas sih tidak akan bisa keluar dari sana dengan cepat.
Ini hari terbaik sepanjang hidupnya. Kencan pertama yang menurutnya sangat sempurna dan tak akan pernah ia lupakan.
Mata Naruto beralih ke dinding kamarnya, kalender yang seharusnya disana sekarang tidak ada. Kemudian Naruto bangun untuk mencari tahu kemana perginya. Dilihatnya jaket orangenya berada dilantai menutupi kalender.
Naruto mengambil jaketnya. Namun begitu jaket tersebut diangkat, ia tertegun melihat angka yang dilingkari disana. Naruto baru ingat kalau ia menandainya tahun lalu.
17 Oktober.
Hari dimana dirinya akan pergi berlatih bersama Jiraiya dan harus meninggalkan Konoha selama 3 tahun. Dan itu berarti waktunya di Konoha tinggal 2 bulan lagi. Sebelum dirinya harus pergi. Meninggalkan Konoha, teman-temannya dan... Hinata.
Naruto menyimpan kalender kembali ke tempatnya. Senyum yang tadinya terlukis di wajahnya sudah lenyap. Ia duduk di tepi tempat tidurnya dan teringat senyum Hinata.
Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dua bulan masih lama Naruto, masih banyak hal yang bisa kau lakukan bersama Hinata!" kata Naruto meyakinkan dirinya. Kemudian beranjak untuk membereskan kamarnya yang sudah seperti kapal pecah gara-gara tadi pagi mengobrak-ngabrik lemari baju. Dan perlu kalian tahu, beres-beres kamar sudah jadi kebiasaan barunya sejak kembali ke masa lalu.

"Hi-Hinata-chan? Apa aku tidak salah lihat?"
Begitulah kalimat pertama yang dilontarkan Naruto saat sampai di Yakiniku Q keesokan sorenya. Di restoran sederhana itu, sudah hadir SEMUA teman-temannya.
"Se-sepertinya tidak Naruto-kun. Padahal aku hanya mengundang Neji-Niisan dan Hanabi-chan sebagai tambahan. Dan kamu juga sudah setuju."
"Kalau Neji dan Hanabi sudah masuk hitungan. Tapi lihatlah, ini sih semua Rokie 11 hadir di sini."
"Hai Naruto," kata Ino menyadari yang punya acara sudah datang.
"Jangan cuma 'hai', kemari kalian berdua." Ino dan Sakura mendekati Naruto.
"Kenapa jadi sebanyak ini?" bisik Naruto kepada Ino dan Sakura.
"Kemarin aku bertemu Tenten jadi sekalian saja kuajak. Kupikir menambah 1 orang saja kau tidak akan keberatan," kata Sakura cuek.
"Aku juga berpikiran hal yang sama saat bertemu Shikamaru kemarin," kata Ino tidak kalah cuek.
"Ahhh, kalian ini bagaimana. Kalau Tenten diajak, dia juga pasti mengajak Lee, karena Neji juga ikut. Begitu juga dengan Shikamaru, dia pasti mengajak Chouji dan Kiba karena mereka sering bertemu. Dan selanjutnya Kiba juga pasti akan mengajak Shino," jelas Naruto panjang lebar.
"Sekarang mau bagaimana lagi?" tanya Ino.
"Mau menyuruh mereka pulang? Masa kau tega?" timpal Sakura.
Mendengar kata-kata Sakura, Naruto menatap teman-temannya yang sedang bercengkrama dari kejauhan. Mereka teman-teman yang begitu berharga baginya. Teman-teman yang selalu berbagi saat suka maupun duka bersamanya. Sudah pasti dia tidak akan tega kalau harus menyuruh mereka pulang begitu saja.
"Baiklah, aku akan mentraktir mereka semua. Aku tidak peduli kalau harus mencuci piring karena tidak bisa bayar sekalipun. Mereka teman-teman yang sangat berharga bagiku," kata Naruto mantap. Sakura dan Ino tersenyum tulus. Itulah Naruto yang mereka kenal, Naruto yang rela melakukan apa saja demi teman-temannya.
"Narutooo, tak kusangka rencanaku dan Shino berhasil. Hahaha," teriak Kiba saat Naruto bergabung bersama mereka. Kiba langsung memeluk leher Naruto, disusul oleh Lee dan Chouji. Membuat Naruto kesulitan bernafas.
"Uhuukk... Be-begitulah, ari... arigato. He-hehe... hehe..." kata Naruto sebisa mungkin mengucapkan terima kasih kepada Kiba di tengah lehernya yang masih tercekik oleh ketiga teman-temannya itu.
"Kau hebat Naruto, benar-benar menikmati masa mudamu!" teriak Lee.
"Sudah, sudah, lepaskan aku." kata Naruto berusaha lepas dari pelukan teman-temannya.
"Hei, sudahlah. Lepaskan dia, kita tidak akan dapat makanan kalau dia mati kehabisan nafas," kata Shikamaru. Akhirnya Kiba, Lee dan Chuji menurut.
Setelah Naruto bisa mengatur nafasnya kembali, ia memandang semua teman-temannya yang hadir disana. Semua teman-temannya balik menatapnya dengan tersenyum.
"Baiklah semuanya, sekarang ayo kita makan!" teriak Naruto dengan dibalas teriakan setuju teman-temannya.
"Pesanlah sepuas kalian teman-teman!" tambah Naruto.
"Siap!" kata Chouji paling semangat.
Saat itu tatapan Naruto dan Hinata bertemu. Hinata memandang Naruto dengan khawatir. Pasti Hinata khawatir pada keputusan Naruto untuk membiarkan teman-temannya pesan sepuas mereka. Tapi Naruto membalasnya dengan senyuman menenangkan. Membuat rasa khawatir pada diri Hinata lenyap seketika.
Sore itu Yakiniku Q jadi benar-benar meriah. Di sela-sela makan mereka, diisi denga game-game ringan yang mengundang gelak tawa sehingga suasan jadi ceria. Naruto juga melihat kalau Hinata ikut terlarut dalam keceriaan acara sore itu. Yang jelas membuat Naruto tidak menyesal untuk mentraktir semua teman-temannya.

Tiba saatnya untuk membayar...
"Berapa semuanya?" tanya Naruto.
"Semuanya jadi 10.000 Ryou," kata kasirnya.
Naruto kaget. Itu setara dengan gaji Naruto di toko bunga Yamanaka selama 2 bulan!
"A-apa? Apa tidak salah hitung?" tanya Naruto memastikan.
"Tidak. Mau aku sebutkan satu per satu?"
"Baiklah. Tidak usah," jawab Naruto lesu. Kemudian ia merogoh dompet kataknya dan mengeluarkan semua uang yang ada disana.
"Aku hanya punya 7150, untuk sisanya aku bersedia membayarnya dengan mencuci piring di sini," kata Naruto membungkuk.
"Hah? Kalau untuk membayar sisanya kau harus mencuci selama 2 minggu di sini," kata sang kasir. Ia menatap Naruto lekat-lekat. Tidak yakin kalau Naruto mau bekerja disana selama itu.
"Aku bersedia!" jawab Naruto mantap, sang kasir kaget.
"Tunggu!" Naruto dan sang kasir menoleh ke arah suara.
"Hinata-chan?"
"Aku akan membayar sisanya," kata Hinata sambil mengeluarkan uang.
"Tidak usah, yang berjanji mentraktir mereka 'kan aku, bukan kamu," kata Naruto bersikeras. Sang kasir jadi bingung harus bagaimana. Akhirnya dia hanya sabar menunggu.
"Tapi ini acara perayaan kita. Jadi izinkan aku untuk ikut membayar," kata Hinata sungguh-sungguh.
Naruto tertegun mendengar kata 'kita'. Tidak menyangka Hinata akan berkata seperti itu. Kalimat sederhana yang sangat bermakna. Ya, Hinata memang benar. Kalau orang yang jadian 'kan pasti sepasang. Jadi bukan hanya 'aku' atau 'kamu', tapi 'kita'. Senyuman khas itu kembali muncul di wajah Naruto, dibalas dengan senyuman tulus Hinata.
"Arigato."

Naruto dan Hinata sedang berjalan berdua. Keduanya terlihat letih sekali. Mereka baru pulang dari misi membantu Gaara dan Matsuri.
Dan tidak seperti biasanya, Naruto tidak banyak bicara. Ia terlalu sibuk pada pemikirannya sendiri.
Hari ini tanggal 9 Oktober, seminggu sebelum dirinya pergi. Ternyata seberapa kalipun dia menguatkan dirinya, perasaaan takut akan meninggalkan Hinata masih terus muncul, bahkan lebih kuat seiring mendekati waktu kepergiannya.
"Naruto-kun, ingin hadiah apa untuk ulang tahunmu besok?" tanya Hinata memecah keheningan di antara mereka. "Gomen Naruto-kun, aku belum mempersiapkan kado apa-apa. Makanya aku tanya kamu saja karena tidak ada waktu lagi."
Naruto bahkan sampai lupa pada ulang tahunnya sendiri. Ia terlalu sibuk memikirkan hari kepergiannya yang kian dekat.
"Boleh kalau yang kuminta bukan barang?" tanya Naruto serius.
"Boleh, selama aku bisa memenuhinya." Hinata jadi penasaran, tidak biasanya Naruto serius begini.
"Umm... Aku ingin di hari ulang tahunku nanti, kamu ke rumahku dan memasak makanan untukku sehari penuh. Mulai dari sarapan, makan siang dan makan malam..." kata Naruto hati-hati. Ia takut kalau Hinata tidak mau.
"Baiklah." Tapi di luar dugaan Naruto, ternyata Hinata dengan senang hati menyanggupinya. Hinata tersenyum dan Naruto membalasnya.
"Kenapa minta ini?" tanya Hinata penasaran.
"..." Naruto tidak menjawab.
"Naruto-kun?"
"A-aku, aku sudah lama tidak makan makanan buatanmu."
"Baiklah, aku akan membuatkan makanan terenak buatanku untukmu."
"Arigato Hinata-chan."

"Naruto-kun..." panggil Hinata dari luar apartemen.
Naruto terbangun dari tidurnya pagi itu. Kalau dilihat dari celah di gordennya, kelihatannya masih terlalu pagi untuk bangun. Ia melihat jam di kamarnya dengan malas. Jam 05:30. Bagi Naruto jam 05:30 memang masih pagi.
"Hoaammm.." Ia menguap lebar saat berjalan menuju pintu.
"Selamat ulang tahun," kata Hinata saat pintu apartemen dibuka. Naruto tersenyum, rasa kantuknya langsung lenyap seketika.
"Kamu jadi orang pertama yang mengucapkan itu. Wajar sih, karena membangunkanku sepagi ini."
"Gomen, katanya ingin kumasakan sarapan. Lagipula aku tidak yakin kamu punya stok bahan makanan."
"Hehe, kamu benar." Naruto nyengir tanpa dosa.
"Kalau begitu aku belanja dulu," kata Hinata dan berbalik untuk pergi ke pasar.
"Tunggu, aku akan menemanimu. Aku bawa jaket dulu."
Hinata tersenyum, pasti belanjanya kali ini akan menyenangkan pikir Hinata.

Belanja bahan makanan memang biasa dilakukan Hinata. Dari dulu ia memang suka mengikuti bibi pelayannya jika ke pasar. Hinata juga sering memilihkan bahan makanan yang akan dimasak, termasuk membantu para koki untuk memasak. Meskipun sering dilarang, tapi Hinata tetep ngotot melakukannya. Karena menurutnya, belanja dan memasak itu adalah hal yang menyenangkan.
Keadaan pasar yang padat pagi itu tidak membuat Hinata dan Naruto mengeluh. Naruto hanya mengikuti Hinata sambil tersenyum. Berpindah dari toko satu ke toko lainnya, kemudian membawakan belanjaan yang dibeli. Sedangkan Hinata memilih-milih bahan makanan sambil sesekali menanyakan makanan apa yang disukai Naruto. Tentunya selain ramen.
Setelah merasa cukup, mereka berdua kembali ke apartemen Naruto.
Sementara Hinata memasak, Naruto pergi mandi. Dan setengah jam kemudian saat Naruto selesai mandi, aroma masakan sudah bisa tercium dari ruang makan.
"Whoa, apa menunya tidak terlalu banyak? Ada daging, ada sayur, bahkan ada buah juga." Mata Naruto berbinar-binar saat melihat masakan Hinata yang sudah siap di meja makan. Hanya melihatnya saja sudah bisa menggugah selera.
"Tidak kok, meskipun jenis menunya banyak, tapi porsinya pas untukmu. Aku juga ingin memasak makanan yang bergizi untukmu," kata Hinata malu-malu.
"Baiklah. Tapi jangan hanya bilang 'untukmu', untuk 'kita'. Jadi kamu juga harus makan."
"H-hai." Hinata kemudian melepas apronnya dan duduk bersama Naruto, kemudian keduanya makan bersama. Ternyata menyenangkan sekali saat bisa sarapan bersama orang yang kau sayangi.
Setelah selesai makan, Naruto pergi bekerja sementara Hinata tetap di apartemen Naruto. Awalnya Hinata menolak karena merasa tidak enak jika dirinya tetap di apartemen Naruto sementara Naruto pergi. Tapi Naruto bilang, Hinata masih punya janji untuk menyiapkan makan siang untuk dirinya. Akhirnya Hinata menurut dan siang itu dia kembali memasak dan membawakan makan siang Naruto ke toko bunga Yamanaka.
Sedangkan malamnya, mereka kembali makan berdua di apartemen Naruto. Hinata tidak memasak terus sebenarnya. Ada sebagian makanan sisa makan siang dan sarapan yang ia hangatkan. Sayang juga kalau tidak dimakan.
Setelah makan malam selesai Naruto mengantar Hinata pulang.
Sesampainya di depan Hyuuga Mansion, Naruto memeluk Hinata lama. Hinata sedikit aneh pada kelakuan Naruto yang tiba-tiba ini. Di perjalanan saat mengantarnya barusan juga Naruto hanya diam. Ia yakin kalau ada sesuatu yang membuat pacarnya itu berlaku aneh begini.
"Naruto-kun, kamu ada masalah?" tanya Hinata saat Naruto melepas pelukannya.
"Tidak. Aku pulang dulu. Selamat ma..." Hinata menahan tangan Naruto.
"Jangan lupakan byakuganku, aku tahu saat kamu bohong."
"..." Naruto lupa kalau pacarnya bisa mengetahui saat dirinya berbohong.
"Aku tidak mengizinkanmu pulang sebelum kamu ceritakan masalahmu padaku."
Merasa tidak ada jalan lain, Naruto akhirnya angkat bicara. "Seminggu lagi aku akan pergi latihan dengan Ero-Sennin selama 3 tahun."
"..." Hinata terdiam. Ternyata benar 'kan Naruto menyembunyikan sesuatu.
"Aku belum siap kalau harus berpisah selama 3 tahun denganmu," lanjut Naruto.
Keduanya kemudian terdiam. Kabar itu memang membuat keduanya sedih, apalagi Hinata. Tapi Hinata tetap berusaha tenang dan tidak cengeng.
"Ka-kalau begitu selama seminggu ini aku akan memasak makanan untukmu," kata Hinata sambil memaksakan sebuah senyuman. Kemudian Naruto ikut tersenyum.

Waktu seminggu begitu cepat berlalu. Setiap hari Hinata menyiapkan makanan untuk Naruto, dan sekarang sudah saatnya Naruto pergi.
"Hinata-chan, aku pergi dulu. Kamu mau menungguku 'kan?" tanya Naruto saat mereka berada di gerbang Konoha. Naruto sudah terlebih dahulu pamit kepada teman-temannya yang lain. Sekarang hanya tinggal pamit kepada Hinata. Hal yang paling sulit dilakukannya.
"Tentu saja." Hinata berusaha tersenyum walaupun hatinya sedih.
Kemudian Hinata memberikan bento kepada Naruto, masakan terakhirnya untuk Naruto sebelum mereka berpisah selama 3 tahun. Walaupun kalau boleh jujur, sebenarnya Hinata ingin berteriak 'Tolong jangan tinggalkan aku!'. Tapi itu tak mungkin dilakukannya. Kepergian Naruto adalah demi kebaikan Naruto juga, agar Naruto bisa berlatih dan lebih kuat, sehingga bisa mengejar cita-citanya menjadi Hokage.
"Aku akan usahakan memberimu kabar lewat surat," kata Naruto.
"Na-Naruto-kun..." Hinata menundukkan wajahnya.
Badan Hinata mulai bergetar, kelihatannya pertahanannya akan runtuh. Seberapa kuatpun Hinata mencoba untuk tabah dan merelakan kepergian Naruto, ujung-ujungnya tetap saja dia merasa sedih. Naruto menarik Hinata ke dalam pelukannya, menenangkan Hinata yang saat itu sudah mulai terisak.
"Hei, sudah jangan menangis."
Naruto mengusap-ngusap puncak kepala Hinata. Berusaha menenangkan pacarnya itu. Ia mengerti seberapa sedih Hinata, karena ia merasakan hal yang sama. Bedanya dirinya lebih bisa menyembunyikan perasaan sedihnya dibanding Hinata. Pasangan mana sih yang tidak sedih saat harus berpisah padahal baru 2 bulan pacaran?
"Hinata-chan..." Naruto melepas pelukannya kepada Hinata dan menyeka air mata di pipi Hinata dengan jari-jarinya. Kemudian ia mengeluarkan kunci apartemen dari kantong celananya. Kemudian melepas kunci duplikatnya.
"Begini saja. Ini untukmu." Naruto menarik tangan kanan Hinata dan meletakkan kunci duplikat itu di telapak tangan Hinata.
"Ini..." Hinata menatap lekat-lekat kunci di telapak tangannya.
"Ya, itu kunci apartemenku. Kalau kamu merindukanku, kamu boleh datang ke apartemenku," Naruto mengembangkan senyumannya.
"Aku pergi ya, kasihan Ero-Sennin sudah menungguku. Jangan sedih lagi ya Hinata-chan," lanjut Naruto sambil memegang kedua pundak Hinata.
"Hai," kali ini Hinata bisa tersenyum kembali.
"Sampai jumpa lagi Hinata-chan," Naruto berlari menuju Jiraiya yang sudah menunggunya sambil malambaikan tangannya kepada Hinata.
"Ya, aku akan menunggumu!" teriak Hinata, melupakan segala rasa malunya untuk berteriak. Senyuman terlukis jelas di bibirnya.
'Cepatlah kembali Naruto-kun...'
To Be Continue...

A/N: Ada yang tau makna seorang cowok memberikan kunci duplikat kepada pasanngannya? Saya lupa. Hehe. Sengaja kepergian Naruto dipercepat, karena saya kurang nyaman kalo bikin romance tapi karakternya masih 13 tahun. Meskipun Naruto jiwanya 17 tahun, tapi tetep aja tubuhnya anak kecil. Makanya di chapter ini kencan mereka cuma sampe sore, anak kecil ga baik keluar malam :p. Tapi tenang aja, chapter depan juga Naruto udah kembali dari latihannya. Sampe ketemu di Kesempatan Kedua Shippuden, haha..

Sudah dulu yaa,, saya sudah mulai mengantuk nih.. Untuk sementara saya hanya bisa memindahkan ke Weblog in cuma 9 chapter.. semuanya ada 18 chapter.. jadi tersisa 9 chapter lagi nih.. hehehe... udah waktunya tidur nih.. selamatmalam..!!
 


4 komentar:

Bella saniez mengatakan...

min... kenapa nggak diterusin??
seru tau ...

Hariez Ae mengatakan...

bozz min dmn lanjutanya......

Shondai Uciha Fajeri mengatakan...

Ditunggu beberapa hari lagi.. Sabar!

Anonim mengatakan...

Wah abgus